Connect with us

Berita Terbaru

Keluh-kesah Pedagang Tahu Tempe di Pandeglang; Bahan Baku Meroket hingga Terkendala Pemasaran

Published

on

Perajin Tahu Tempe saat Produksi di Pabrik Kecamatan Saketi (BantenHits/Engkos Kosasih)

Pandeglang – Ocid (64) perajin tahu tempe asal Kecamatan Saketi, Pandeglang, Banten, tak mampu berbuat banyak saat pabriknya mengalami penurunan produksi, akibat harga kedelai mahal.

Ocid mengatakan, saat harga kedelai belum naik pabrik yang dikelolanya dari tahun 1979 itu mampu memproduksi tahu-tempe sampai 2 kwintal tiap harinya.

“Terus terang (Kenaikan Kedelai) sangat berpengaruh pada prosuksi, sekarang produksi paling 50 kilogram sehari, kalau sebelum naik bisa sampai 2 kwintal,” kata Ocid, saat berbincang dengan BantenHits dirumahnya, Rabu 6 Januari 2021.

Ocid mengaku, harus mengurangi ukuran tahu-tempe agar warga tidak merasa tercekik saat hasil produksi beredar di pasaran.

BACA :  Ibu Hamil yang Ditandu Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni dan Belum Tersentuh Program Sosial

“Caranya terpaksa harus dikurangi, harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi,” ujarnya.

Selain mengalami penurunan produksi, Ocid juga mengalami kesulitan saat memasarkan hasil produksinya. Hal itu karena, banyak perajin tempe dari sejumlah Kabupaten/Kota yang masuk ke Pandeglang.

“Yang jadi masalah dalam pemasaran itu karena ada tahu-tempe yang dikirim dari luar. Ditambah bagus-bagus, terus barangnya tahan lama. Kalau tahu tempe di kami kan alami, jadi saat pagi dipasarkan, kalau enggak habis ya di ambil lagi untuk diolah kembali di pabrik,” pungkasnya.

Editor : Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler