Connect with us

Berita Utama

Muncul Suara Seperti Kilat saat Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh di Kepulauan Seribu, Dari Mana Asalnya?a

Published

on

Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air: istimewa/tribunnews.com.

Jakarta – Pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 yang bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Pontianak, hilang setelah 44 menit lepas landas, Sabtu, 9 Januari 2021 sekitar pukul 14.40 WIB.

Pesawat tersebut diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Dikutip BantenHits.com dari JPNN.com, Hendrik Mulyadi adalah seorang nelayan rajungan di sekitar perairan Pulau Lancang-Pulau Laki, Kepulauan Seribu, yang menjadi saksi kunci kejadian nahas pada Sabtu siang tersebut.

Saat kejadian nahas tersebut, Hendrik berada di lokasi yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Saat itu, Hendrik bersama dua rekannya yang merupakan ABK di kapal pencari rajungannya.

BACA :  Kemenag RI Perintahkan Kanwil Banten Tindak Lanjuti Dugaan Korupsi Biaya Nikah di Lebak

“Saat itu hujan cukup besar (kemungkinan berkabut), dan kami bertiga di tengah laut sedang konsentrasi mengambil bubu (alat penangkap rajungan), tiba-tiba ada seperti kilat ke arah air disusul dentuman keras, puing berterbangan sama air (ombaknya) tinggi sekali, untung kapal saya enggak apa-apa,” kata pria 30 tahun itu dalam perbincangannya dengan Antara di Pulau Lancang.

Setelah rangkaian kejadian yang berlangsung di kurang dua menit tersebut, Hendrik mengaku dirinya dan dua rekannya tidak bisa melakukan apa-apa selain bertanya-tanya ada apa gerangan yang terjadi.

Dia dan kawannya sempat mengira itu adalah bom yang jatuh dan meledak. Saat itu tidak terlintas di pikirannya bahwa itu pesawat jatuh. Karena menurut Hendrik, sesaat sebelum terjadi dentuman keras, tidak terdengar suara mesin pesawat. Serta tidak terlihat kobaran api membubung sesaat setelah dentuman keras.

BACA :  Aliansi Muslim Kota Tangerang Gelar Aksi Solidaritas Rohingnya

“Suara mesin gak ada. Terus saat kejadian gak kelihatan ada api, hanya asap putih, puing-puing yang berterbangan, air yang berombak besar, dan ada aroma seperti bahan bakar,” katanya.

Meski tidak mengalami cedera dan kapalnya tidak mengalami kerusakan, Hendrik mengaku masih terguncang.

Hingga saat ini Hendrik mengaku tidak enak makan dan tidur sampai tak sanggup bekerja mencari rajungan seperti sedia kala.

Dari informasi yang dihimpun pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

BACA :  WN Nigeria Tabrak Pasutri di Tangerang, Satu Orang Tewas

Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik Kepolisian, TNI maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler