Connect with us

EKONOMI & BISNIS

Akademisi Unsera Soroti Pasar Kopo Kabupaten Serang yang Tak Berpenghuni dan Terlihat Angker

Published

on

Kondisi Pasar Kopo, Kabupaten Serang yang Tak Berpenghuni Sejak Dibangun Tahun 2016. (BantenHits/Mursyid Arifin)

Serang – Akademisi Universitas Serang Raya (Unsera), Herman Wijaya menyayangkan kondisi Pasar Kopo, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang yang tak berpenghuni dan terlihat angker.

Pasalnya, pasar yang dibangun tahun 2016 lalu oleh Pemerintah Kabupaten Serang, tidak dimanfaatkan sesuai fungsinya. Sehingga pasar yang seharusnya mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, malah diiisi rumput liar dan coretan di dinding pasar.

Herman berpendapat, seharusnya Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian (Diskoperindag) Kabupaten Serang, sebagai pengelola pasar tidak hanya merevitalisasi dalam hal fisik saja, namun harus bisa merubah mindset para pengelola dan para pedagang.

“Pemerintah atau Dinas terkait bisa melihat daerah lain bagaimana mereka mengelola pasar masyarakat, sehingga pasar masyarakat tidak ditinggalkan oleh para pembeli dan para pedagang,” ujar Herman kepada BantenHits saat dimintai pendapat soal pengelolaan Pasar Kopo, Senin, 18 Januari 2021.

BACA :  Korban Tsunami di Pandeglang Akan Direlokasi, Mensos Minta Pemkab Pandeglang Siapkan Lahan

Ia mencontohkan, salah satu pengembangan ekonomi kerakyatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, Bali melalui program revitalisasi pasar tradisional. Di mana Pemkot Denpasar sejak tahun 2016 lalu telah merintis program ‘Sekolah Pasar’ untuk memberikan edukasi kepada pedagang tentang bagaimana mewujudkan pasar yang ramah, segar dan terpercaya.

“Hal ini penting untuk membuat masyarakat senang berbelanja di pasar tradisional sehingga berpengaruh meningkatkan daya saing pasar tradisional itu sendiri. Hasilnya adalah ada 34 pasar yang telah dilakukan revitalisasi dan program Sekolah Pasar diantaranya Pasar Agung dan Pasar Poh Gading, dan sudah dijadikan percontohan revitalisasi pasar oleh beberapa daerah di Indonesia,” jelas Herman.

Menurut Herman, seharusnya pemerintah setempat ikut serta dalam mempromosikan atau menyosialisasikan ke masyarakat umum adanya Pasar Kopo yang baru dan lebih baik dari sebelumnya.

BACA :  Wahidin Halim Rekrut Tenaga Ahli

Selain itu, Herman juga melihat pemerintah atau Dinas terkait kurang gencar dalam memberdayakan pasar masyarakat, padahal pasar merupakan sebuah “perusahaan” atau penyedia lapangan pekerjaan terbesar yang dapat menampung begitu banyak pekerja dari tingkat pendidikan yang rendah hingga tingkat tertinggi.

Artinya, tidak hanya pedagang yang bisa bekerja di situ (Pasar Kopo), bahkan seperti kuli panggul, tukang parkir, bahkan sampai profesi pengamen yang menggantungkan penghasilannya dari pasar tersebut.

“Jadi seharusnya pemerintah bisa merubah mindset bahwa pasar bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli, namun ini adalah sebuah perusahaan yang bisa menyerap tenaga kerja dan dari situ mereka bisa menghasilkan uang. Selain itu, lembaga keuangan juga bisa hadir di pasar tersebut untuk memberikan bantuan permodalan, sehingga terjadi sinergitas antar penjual dan lembaga ini,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsera itu.

BACA :  Keluarga RAL Sebut Sosok Dimas Dekat dengan Saudara Eno

Lebih lanjut Herman mengatakan, perihal banyak pedagang yang mengeluh hingga gulung tikar lantaran kalah saing dari pedagang lain. Hal ini bisa dilakukan regulasi oleh pemerintah setempat, agar jalur distribusi atau pasokan barang bisa diatur sehingga harga jual tidak lagi dimonopoli oleh salah satu pedagang besar saja.

“Jadi kesimpulan yang bisa saya ambil, di sini peran pemerintah sangat amat penting demi terwujudnya pengembangan ekonomi kerakyatan melalui pasar tradisional. Pemerintah setempat harus bergerak cepat, dan cerdas dalam membenahi permasalahan ini. Sehingga harapannya kondisi ekonomi masyarakat sekitar menjadi baik,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan pada Diskoperindag Kabupaten Serang, Tohiri enggan berkomentar lebih jauh soal pasar tersebut.

“Kalau saya yang menjelaskan takut salah,” singkatnya.

Sedangkan Kepala Diskoperindag Kabupaten Serang, Abdul Wahid belum memberikan keterangan apapun saat dihubungi wartawan BantenHits via WhatshAap meski sudah tanda ceklis dua.

Editor : Engkos Kosasih



Pria kelahiran Cihara, Kabupaten Lebak ini, dikenal aktif berorganisasi. Sejak sekolah hingga kuliah, jabatan strategis dalam organisasi pernah diembannya. Mursyid dikenal memiliki daya juang dan dedikasi tinggi dalam pekerjaannya.

Terpopuler