Connect with us

OPINI

Bercermin dari Terancam Bangkrutnya Saung Angklung Udjo

Published

on

Anggota Komisi IV DPRD Lebak, Dian Wahyudi. (Dok. Pribadi)

BantenHits- Mumpung berada di Bandung, saya berusaha mencari destinasi wisata yang (mungkin) dapat dikunjungi di masa pandemi covid-19 ini. Karena Bandung bagi saya merupakan “kiblat” belajar berbagai kebudayaan Sunda. Setelah mencari di beberapa laman online, saya tertarik untuk mengunjungi Saung Angklung Udjo (SAU).

Setidaknya menurut saya, SAU merupakan wisata budaya dan edukasi yang lengkap, karena SAU kabarnya memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu. Disamping itu, SAU dikenal karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda, khususnya Angklung dikemas dengan sangat menarik, melalui sarana pendidikan dan pelatihan.

Diketahui, mengutip dari berbagai sumber, sesuai namanya, Saung Angklung Udjo didirikan tahun 1993 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya, Uum Sumiati. Mang Udjo dikenal sebagai pembuat angklung sejak tahun 1966. Udjo Ngalagena bersama istrinya belajar pada Daeng Soetigna, seniman angklung asal Pameungpeuk, Garut yang pernah pentas pada rangkaian acara Konferensi Asia Afrika 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Selanjutnya Mang Udjo mendirikan padepokan seni Saung Angklung Udjo, Sundanese Art & Bamboo Craft Center pada tahun 1967. SAU berusaha mewujudkan cita-cita dan harapan mendiang Mang Udjo yang atas kiprahnya mengenalkan musik Angklung hingga dijuluki sebagai Legenda Angklung.

SAU merupakan tempat pelatihan dan pendidikan angklung untuk melestarikan angklung dan seni tradisi sunda lainnya. Kegiatan awalnya hanya berupa pelatihan bermain angklung bagi anak-anak, membuat angklung, serta menggelar pertunjukan keliling. Namun demikian, dalam perkembangannya dampak sampingannya justru memberikan faedah lebih besar yaitu dengan dijadikannya SAU sebagai destinasi wisata. Perkembangan dunia pariwisata memberikan berkah tersendiri untuk SAU sehingga posisi SAU terangkat menjadi institusi yang kreasinya berskala internasional dan tentunya memberi dampak ekonomi yang sangat besar. Melalui sanggar, aktivitas SAU berkembang dan melibatkan partisipasi masyarakat sekitar baik dalam kegiatan pendidikan, produksi, dan pertunjukan angklung rutin.

Sepeninggal Udjo Ngalagena, SAU tetap diteruskan oleh para putra–putri Udjo Ngalagena sehingga SAU tetap ramai dengan pengunjung yang ingin menyaksikan keindahan kesenian tradisional daerah. Terdapat pula tempat produksi angklung sebagai pusat produksi angklung di Indonesia. SAU merupakan tempat untuk melihat dan belajar bagaimana sebatang bambu menjadi melodi yang merdu.

BACA :  Jadi Pemilih Cerdas

Sebelum pandemi covid-19 merebak, pertunjukan seni ditampilkan setiap hari, dari jam 15.30 sampai dengan jam 17.30. Pertunjukan tersebut tidak hanya diisi dengan permainan Angklung saja, tetapi juga diisi dengan tarian tradisional dan wayang golek. Pertunjukkan kesenian tidak terbatas hanya di lokasi SAU, melainkan juga dapat tampil dengan undangan di berbagai tempat. Selain itu SAU juga menjual berbagai alat musik bambu tradisional seperti angklung, calung, arumba, dan lain-lain.

Pertunjukan yang dapat kita saksikan di Saung Angklung Udjo biasanya : (1). Angklung Orkestra, Angklung tidak hanya dipakai untuk mengiringi lagu Sunda saja. Di angklung orkestra ini, akan dimainkan berbagai jenis lagu, mulai dari balonku, twinkle-twinkle little star, sampai dengan lagu-lagu dangdut dan lagu daerah Indonesia. (2). Bermain Angklung Bersama, Penonton diberi kesempatan untuk bermain angklung. Anak-anak bimbingan Saung Angklung Udjo akan meminjamkan angklung dengan berbagai nomor. Dengan bimbingan dan instruksi dari Saung Angklung Udjo, dalam waktu yang amat singkat, penonton dapat memainkan beberapa lagu dengan angklung tersebut. (3). Demonstrasi Wayang Golek, setiap pementasan wayang golek selalu ada pesan moralnya.

(4). Helaran, biasanya dimainkan untuk upacara tradisional khitanan dan upacara panen padi. Karena bertujuan untuk menghibur dan bersyukur pada Tuhan, musiknya bersifat semangat dan riang. Angklung yang dipakai untuk Helaran adalah angklung yang bernada pentatonis. (5). Tari Topeng, berupa tarian khas Cirebon yang ditarikan oleh perempuan. Pertama mereka akan menari tanpa menggunakan topeng. Ceritanya pembawa berita dari Majapahit sedang menyelidiki keadaan Kerajaan Blambangan. Kemudian mereka mulai menari memakai topeng dengan cerita si pembawa berita menyamar menjadi seorang pria yang gagah untuk melawan Prabu Menakjingga. Topeng berwarna merah melambangkan karakter yang tempramental. (6). Menari Bersama, di akhir acara, anak-anak yang bergabung dengan Saung Angklung Udjo akan mengajak penonton untuk menari dan bernyanyi bersama.

Kiwari, ikhtiar pelestarian kesenian ini diuji dengan datangnya pandemi Covid-19 yang merontokkan banyak sektor. Apakah angklung dan keceriaan anak-anak akan tetap berbunyi di SAU atau sebaliknya. Mengutip Antara, Direktur Utama Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat mengatakan, selama pandemi Covid-19, aktivitas bisnis pariwisata di Saung Angklung Udjo cukup terpuruk, tak jarang dalam satu pekan tempat itu hanya dikunjungi tak lebih dari 20 orang. Pemasukan amat terbatas, sementara banyak pekerja yang tetap harus memenuhi kebutuhan.Tempat ini terancam tutup karena kunjungan sangat dibatasi untuk menekan penyebaran covid-19.

BACA :  Hegemoni Calon Tunggal dan Sepakbola Terjal

Saat saya berkunjung di SAU, di lahan luas yang menurut saya sangat nyaman ini, masih tampak anak-anak melakukan sesi latihan, dengan arahan para pelatih SAU. Tampak ceria, dengan menggunakan alat musik, bukan saja angklung tapi juga dikombinasikan dengan berbagai alat musik modern. Saya cukup menikmati, bagaimana anak-anak tersebut berlatih. Walaupun memang suasana secara keseluruhan tampak lesu, namun di bagian produksi angklung, dua orang pekerja masih tampak membuat angklung, begitupula di bagian galeri atau penjualan angklung dan pernak-perniknya, masih buka melayani pengunjung yang datang.

Mengutip laporan Kompas, pada masa normal, pegawai yang bekerja di Saung Angklung Udjo mencapai 600 orang. Namun kini yang tersisa hanya 40 orang. Saung Angklung Udjo mampu menarik pengunjung hingga 2.000 orang per hari. Namun, kondisi pandemi menyebabkan para wisatawan enggan untuk berkunjung karena harus melengkapi sejumlah syarat berkaitan dengan protokol kesehatan. Selain itu, mayoritas pengunjung Saung Angklung Udjo merupakan pelajar dan wisatawan. Namun, kedua elemen wisatawan itu selama pandemi dibatasi aktivitasnya.

Pihak SAU berharap pemerintah dapat membantu memberi solusi terkait ancaman bangkrutnya SAU. Serta meminta masyarakat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan. Kalau sudah mengerti besar harapan pementasan angklung di SAU dapat bergeliat kembali, serta dapat berjalan sesuai standar yang bisa disepakati bersama. Dengan adanya pandemi, pihaknya telah melakukan berbagai macam inovasi. Diantaranya menjadikan SAU pelaku usaha pertama di Jawa Barat yang memiliki sertifikasi CHSE. Konsep dari SAU saat ini adalah keep the old the one create the new one, dalam arti masih mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalam alat musik angklung, tetapi harus create the new one di masa pandemi. Karena seni budaya tradisional Sunda itu hampir tidak ada jarak antara pemain dan penonton, juga banyak berinteraksi, dengan adanya pandemi mencoba untuk menyesuaikan dengan standar protokol kesehatan.

BACA :  Asa di RSUD Adjidarmo Lebak

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, seperti dikutip media, berupaya untuk menyelamatkan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif seperti SAU dan juga yang lainnya. Pihaknya bersama SAU membuat suatu jingle untuk menggeliatkan kembali para pekerjanya. Meski hal itu mungkin hanya hal kecil, tapi akan berpengaruh bagi kelangsungan pelaku pariwisata.

Sebagai infromasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menargetkan 6.500 pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif tersertifikasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) di tahun 2021. Sertifikasi CHSE merupakan hal yang sangat penting bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memulihkan kepercayaan wisatawan dan menggeliatkan kembali aktivitas pariwisata. Selain itu, untuk memberikan jaminan bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi standar dan protokol kesehatan.

Bercermin dari terancam bangkrutnya SAU, kita harus belajar banyak, agar destinasi wisata di daerah, seperti di kabupaten Lebak, sudah harus mulai berfikir memetakan, mengikuti dan memiliki sertifikasi CHSE. Hal ini sudah pernah saya sampaikan dalam tulisan saya yang berjudul Menyoal kebijakan PSBB dan Pariwisata Bupati Lebak, beberapa waktu yang lalu. Pemerintah kabupaten (pemkab) Lebak lewat OPD Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan instansi terkait lainnya harus terus men-support para pelaku sektor pariwisata dan kebudayaan, serta ekonomi kreatif, jangan lepas tangan, karena visi dan misi kabupaten Lebak yang menitik utamakan pada sektor pariwisata harus terus dikawal.

Pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif ulah sampe katempuhan buntut maung, jangan hanya kena masalahnya saja, tapi harus kita urai menjadi potensi untuk keluar dan berdaya kembali. Ditambah ulah tinggaleun, ulah ngahenen bae (jangan tertinggal, jangan diam saja tidak berusaha), harus terus ikut berupaya keluar dari himpitan pandemi covid-19.

Semoga para pelaku sektor wisata dan ekonomi kreatif di kabupaten Lebak dapat terus survive ditengah lesunya aktivitas destinasi wisata di masa pandemi covid-19. Kita juga ikut prihatin serta ikut berdo’a agar aset budaya Jawa Barat Saung Angklung Udjo dapat keluar dari berbagai kesulitan akibat pandemi covid-19. Aamiin.

Penulis: Dian Wahyudi (Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler