Connect with us

Berita Terbaru

Ada Ritual Bugil Laki Perempuan Mandi Bareng di Pandeglang, Begini Asal Mula Paham Menyimpang Itu Bisa Menyebar

Published

on

Polisi saat Mengamankan 15 Anggota Hakekok Balakasuta dan 1 Pimpinannya di Kecamatan Cigeulis (Istimewa)

Pandeglang – Polres Pandeglang, Banten, mengamankan 16 orang penganut Hakekok Balakasuta di Desa Karang Bolong, Kecamatan Cigeulis, terdiri dari 8 orang laki-laki, 5 orang perempuan dan tiga anak-anak.

Mereka diamankan karena kepergok tengah menggelar ritual mandi bersama secara bugil di rawa dengan tujuan membersihkan diri dari dosa. Aliran ini mulai eksis di Kota Santri pada melalui Arya (52) pada tahun 2018.

Warga Kampung Polos, Desa Waringin Kurung, Kecamatan Cimanggu itu belajar langsung dari almarhum bapaknya bernama Supri. Sedangkan Supri belajar dari Hambali di Jasinga, Bogor pada tahun 2005.

BACA :  Juli, Pabrik Semen Merah Putih PT Cemindo Gemilang di Lebak Diresmikan

Pada tahun 2009 atau Sebelum kemunculan Hakekok yang dikomandoi Arya, aliran serupa juga pernah membuat heboh masyarakat di Kecamatan Cimanuk, akibat ulah S yang kerap menggauli santriawati di padepokanya.

Kala itu S mengklaim sedang melakukan kawin gaib, dan melaksanakan ibadah bareng bersama para santri wanitanya. Warga yang kesal mendengar pengakuan S langsung membubarkan padepokan tersebut.

Hakekok di Pandeglang Dari Tahun 1980

Ketua MUI Pandeglang, Tb Hamdi Ma’ani menyebut, aliran Hakekok muncul di Kabupaten Pandeglang pada tahun 1980. Saat itu aktivitas yang dilakukan di Kecamatan Cigeulis secara sembunyi-sembunyi.

Namun tak lama setelah itu penganut Hakekok langsung mendapat binaan dari ulama sepuh, hingga bertaubat.

“Iya memang sudah lama, tapi dulu pernah dilakukan pembinaan oleh (Almarhum) Kiyai Munawar, Karang Bolong,” katanya, Senin 15 Maret 2021.

BACA :  Terkesan Diskriminasi, Gapasdap Tolak Pengoperasian Dermaga Eksekutif Lintasan Merak-Bakahueni

MUI menganggap aliran ini sudah jauh menyimpang dari syariat Islam, karena mengubah lafadz dua kalimat syahadat yang menyakini ‘Ama Sepuh’ sebagai penyelamat.

Meski demikian, MUI belum dapat menyimpulkan apakah aliran tersebut sesat atau bukan, karena masih dilakukan pembahasan.

“Ya memang syahadatnya itu beda, saat ini kami masih melakukan pembahasan, nanti fatwa nya keluar,” jelasnya.

16 Warga Penganut Hakekok Dibina

Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi mengatakan, Bakorpakem Kabupaten Pandeglang menyerahkan 16 penganut aliran Hakekok Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Cidahu, Kecamatan Cadasari milik Abuya Muhtadi Dimyati dan Dinas Sosial (Dinsos) Pandeglang, untuk dilakukan pembinaan.

“Setelah dibina dan sadar, kami serahkan lagi di tengah-tengah masyarakat. Karena masyarakat juga enggak mau menerima kalau belum taubat,” tambahnya.

BACA :  Kerja Sama Pemprov Banten dan Kejati Bidang Perdata dan TUN, WH: Bagian dari Pencegahan

Editor : Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler