Connect with us

Berita Terbaru

Dinas Pertanian Banten Dorong Peningkatan Produksi Kacang Kedelai

Published

on

Ilustrasi Petani Kedelai (Foto. Google)

Serang – Dinas Pertanian Provinsi Banten terus mendorong peningkatan produksi kacang kedelai. Hal ini untuk menyetabilkan harga kedelai yang menyentuh angka Rp.10.200 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian Banten Agus Tauchid mengatakan, akan memberikan bantuan benih dan sarana produksi kepada petani seluas 2.050 hektar, bantuan tersebut bersumber dari APBN dan APBD Banten tahun 2021.

Kata Agus, pemberian bantuan benih dan sarana produksi sebenarnya sudah dianggarkan di tahun 2020, namun karena adanya refocusing anggaran, maka bantuan tersebut kembali dianggarkan di Tahun 2021.

“Salah satu dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai di Banten adalah dengan memberikan bantuan benih dan sarana produksi untuk petani,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Jumat 19 Maret 2021.

BACA :  Haerul Jaman Klaim Pembangunan Meningkat, Begini Tanggapan Subadri

“Tahun 2020 anggaran bantuan benih dan saprodi (sarana produksi) sudah dianggarkan. Namun mengalami refocusing, sehingga pencapaian produksi kedelai di Tahun 2020 sebagian besar berasal dari kegiatan swadaya petani,” ungkapnya.

Menurut dia, kedelai lokal yang dihasilkan petani Banten memiliki ukuran yang bervariasi sehingga lebih banyak diserap oleh industri tahu. Sementara untuk industri tempe tidak dapat banyak menyerap karena memerlukan ukuran kacang yang sama.

“Upaya yang dapat dilakukan petani adalah melakukan sortir kedelai yang dipanen. Untuk yang berukuran besar dipasarkan ke industri tempe dan sisanya dipasarkan ke industri tahu,” jelasnya.

Agus juga menjelaskan, terkait dengan adanya kenaikan harga kedelai, dikarenakan saat ini masih bergantung pada kedelai impor, yang dimana harga kedelai dunia sedang mengalami kenaikan sehingga Indonesia termasuk Banten terkena imbasnya. Karenanya dibutuhkan koordinasi semua pihak untuk meningkatkan penyerapan pasar terhadap produksi kedelai lokal.

BACA :  Polisi Pastikan Penjaga SDN 1 Rangkasbitung Barat Gantung Diri

Padahal, kualitas kedelai lokal sebenarnya lebih baik karena umumnya kedelai yang tersedia adalah kedelai yang baru saja dipanen sehingga lebih segar, sementara kedelai impor biasanya sudah disimpan bertahun-tahun.

“Kedelai yang berukuran kecil sebenarnya lebih banyak mengandung protein dan rasanya lebih gurih. Selain itu, kedelai lokal merupakan kedelai asli hayati dan bukan kedelai transgenik seperti kedelai impor. Kedelai yang ditanam di negara-negara maju 80 persen adalah organisme yang telah dimodifikasi secara genetik (GMO),” ungkapnya.

Selain itu, daya tarik lainnya untuk kedelai impor di kalangan pengusaha tahu tempe adalah adanya keloggaran pembayaran dari pemasok kedelai impor, selain disebabkan harga kedelai impor yang lebih murah dibandingkan kedelai lokal.

BACA :  Wali Kota Ungkap soal Buta Aksara, Politisi PDIP Akui Masih Banyak Penderita Busung Pengetahuan

“Dengan kondisi ini diperlukan peran BUMD sebagai off taker kedelai yang dapat memutus rantai pasokan kedelai lokal sehingga harga kedelai lokal lebih bersaing di pasaran dan industri tahu tempe bisa diberikan keleluasaan pembayaran bahan baku seperti yang diberikan pemasok kedelai impor,” pungkasnya.

Editor : Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler