Connect with us

Berita Terbaru

Penyebab Penumpang Batik Air Papua-Tangerang Tiba-tiba Sesak Napas lalu Tewas Masih Misterius

Published

on

Batik Air Tangerang-Samarinda atau Jakarta-Samarinda

Ilustrasi: Pesawat Batik Air Tangerang-Samarinda terbang perdana dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang Rabu, 21 November 2018 pukul 10.30 WIB dan diperkirakan tiba di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda pukul 13.40 WITA. (FOTO: Marthunis/ Lion Air)

Jakarta – MN (21), penumpang pesawat Batik Air rute Papua – Tangerang dengan nomor penerbangan ID-6187 dinyatakan tewas di salah satu rumah sakit di Makasar setelah mengalami sesak napas di dalam pesawat yang ditumpanginya, Kamis, 18 Maret 2021.

Saat MN mengalami sesak napas, pesawat baru 120 menit lepas landas dari Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika, Papua Barat tujuan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Pesawat pun terpaksa harus mendarat darurat di Bandara Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Sulawesi Selatan.

Belum diketahui pasti penyebab gejala sesak napas yang dialami penumpang tersebut. BantenHits.com masih mencoba meminta penjelasan dari pihak-pihak terkait.

Corporate Communications Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro melalui keterangan tertulis kepada BantenHits.com mengatakan, pesawatbtelah dijalankan sebagaimana standar operasional prosedur (SOP) dan pedoman protokol kesehatan.

“Batik Air penerbangan ID-6187 dipersiapkan secara baik. Semua penumpang serta awak pesawat sudah menjalani pemeriksaan kesehatan COVID-19 dengan dinyatakan negatif dan sebelum masuk ke pesawat udara (ketika berada di terminal keberangkatan) surat hasil uji kesehatan sudah diverifikasi oleh petugas medis dari lembaga yang berwenang,” jelasnya.

BACA :  Tak Ingin Ada Korban Lagi, Polisi Jerat Guru Gagal Kebal dengan Pasal 360 KUHP

“Dalam penerbangan ini, sebelum keberangkatan bahwa tidak ada tamu yang memberikan informasi dengan kondisi tertentu yang menyangkut kesehatan seperti sakit,” sambungnya.

Menurut Danang, penerbangan Timika ke Jakarta, Batik Air mengoperasikan pesawat Airbus 320-200 registrasi PK-LUZ yang telah menjalani pemeriksaan sebelum keberangkatan (pre-flight check) dan dinyatakan laik terbang dan beroperasi (airworthy for flight).

Pesawat tersebut memiliki jadwal keberangkatan ID-6197 pukul 12.30 WIT (Waktu Indonesia Timur, GMT+ 09) dan diperkirakan tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada 15.00 WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 07).

“Batik Air menerbangkan enam awak pesawat serta 68 tamu,” terangnya.

Tiba-tiba Sesak Napas

Kira-kira 120 menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, lanjut Danang, ada salah satu tamu laki-laki berinilisal MN (21 tahun) yang duduk di nomor kursi 15D mengaku sesak dibagian dada. Hal ini disampaikan oleh tamu yang duduk di 15F yang meminta bantuan kepada awak kabin.

“Pimpinan awak kabin (senior flight attendant/ SFA) Syarifah Sari Dewi bersama kru kabin lainnya menghampiri langsung guna mengetahui kondisi aktual penumpang. Setelah mendapatkan informasi detail dan pengamatan, SFA segera melakukan pengumuman (announcement) apakah dalam penerbangan terdapat profesi dokter,” bebernya.

BACA :  Buruh PT Sinar Antjol Mogok

“Di penerbangan ID-6187 terdapat tenaga medis (kesehatan), dengan menunjukkan identitas resmi dan tanda profesi,” tambahnya.

Tenaga medis yang ada di dalam pesawat tersebut berkoordinasi dan bekerjasama dengan awak kabin dalam penangangan MN.

“Menurut prosedur kerja penanganan penumpang, awak kabin segera memberikan POB (tabung oksigen portabel) dengan tindakan melonggarkan pakaian yang mengikat, membersihkan wajah penumpang, menyandarkan kursi serta memasangkan masker oksigen,” jelasnya.

Danang juga memastikan, awak kabin (pramugari dan pramugara) Batik Air sudah dibekali kemampuan (keterampilan) melalui pendidikan dan pelatihan dalam menjalankan profesinya guna menjaga penumpang agar tetap aman dan memastikan semua aktivitas berjalan menurut SOP.

“Setiap awak kabin dilatih secara terampil mampu menangani berbagai keadaan darurat, seperti asap, penanganan barang berbahaya, ancaman bom, insiden medis yang tak terduga (penumpang sakit atau melahirkan),” ungkapnya.

“Para kru kabin berwenang dalam memastikan penumpang diizinkan terbang atau tidak melalui pengamatan rinci (observasi) perilaku hingga bahasa tubuh penumpang yang dianggap dapat (berpotensi) membahayakan atau mengganggu kenyamanan penerbangan,” sambungnya.

Danang menambahkan, dalam situasi seperti itu guna memberikan pelayanan terbaik, pilot Capt. Made Betha Yoga Pradnyana setelah koordinasi dengan awak kabin memutuskan untuk pengalihan pendaratan (divert) ke bandar udara terdekat, yakni Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Sulawesi Selatan (UPG).

BACA :  Bupati Lebak Berang Lihat Tumpukan Sampah di Pinggir Sungai

Pilot menginformasikan kepada petugas lalu lintas udara dan petugas darat, dalam penerbangan terdapat satu tamu yang membutuhkan penanganan kesehatan lebih lanjut.

Bantu Urus Jenazah

Pesawat mendarat pada 15.37  WITA (Waktu Indonesia Tengah, GMT+ 08), ketika posisi pesawat sudah sempurna dan berada di landas parkir (apron) tim medis bersama petugas Batik Air melakukan penanganan dan penjemputan dari pintu pesawat bagian belakang, kemudian dibawa ke rumah sakit.

Tak berapa lama kemudian, kata Danang, Batik Air mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit, penumpang MN meninggal dunia yang menyatakan adalah tim medis rumah sakit.

“Atas nama manajemen dan seluruh karyawan Batik Air mengucapkan duka cita mendalam atas meninggalnya MN di rumah sakit,” ucapnya.

Batik Air juga menyampaikan terima kasih atas upaya penangangan dari awak pesawat, tenaga medis, pengelola bandar udara, petugas lalu lintas udara serta pihak lainnya dalam penanganan satu tamu ID-6187

“Petugas Batik Air di Makassar bersama pendamping membantu proses pengurusan jenazah dan administrasi,” jelasnya.

Batik Air penerbangan ID-6187 mengudara kembali dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanudin pada, Kamis, 18 Maret 2021 jam 16.44 WITA dan sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 17.44 WIB.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana
 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler