Connect with us

Berita Terbaru

Setahun Pandemi COVID-19, 27 Pabrik di Kabupaten Tangerang Tutup, 134 Lainnya PHK 31.728 Karyawan

Published

on

Foto Ilustrasi : Ribuan pencari kerja padati Job Fair Kota Tangerang. BPS merilis
angka pengangguran di Banten tertinggi di Indonesia. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyebut 25 pabrik sepatu di Banten sejak Juni 2019 tutup sehingga memicu pengangguran. (Dok. BantenHits.com)

Tangerang – Pandemi COVID-19 sudah setahun melanda Indonesia. Hampir seluruh sektor kehidupan terdampak oleh wabah global ini.

Sektor industri terutama menjadi yang paling merasakan dampak pandemi COVID-19 ini. Di Kabupaten Tangerang yang dikenal sebagai Kota Seribu Industri, sepanjang pandemi tercatat sudah 27 perusahaan tutup.

Dikutip BantenHits.com dari Tempo.co, sebanyak 24 pabrik di Kabupaten Tangerang tutup sepanjang 2020 dan 3 perusahaan tutup pada 2021.

BACA :  Anggota Komisi IX DPR Sayangkan Banyak Masyarakat Tak Rutin Periksa Kesehatan

Dinas Tenaga Kerja atau Disnaker Kabupaten Tangerang juga mencatat, selama pandemi COVID-19 terjadi tercatat  31.728 karyawan dari 134 perusahaan di Kabupaten Tangerang di-PHK.

Perselisihan Hubungan Industrial Melonjak

Meningkatnya PHK selama pandemi COVID-19, memicu lonjakan kasus perselisihan hubungan industrial di Kabupaten Tangerang yang mencapai hingga 12,4 persen.

“Perselisihan HI didominasi kasus PHK,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang Jarnaji di sela sela Dialog Pencegahan dan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Hotel Lemo Tangerang, Rabu 24 Maret 2021.

Berdasarkan Data Disnaker Kabupaten Tangerang selama tahun 2020 atau sepanjang Pandemi Covid-19 tercatat 326 kasus perselisihan HI.

Jumlah ini meningkat 12,4 persen dibandingkan tahun 2019 dengan 300 kasus perselisihan HI. Adapun periode Januari-Maret 2021 jumlah kasus perselisihan HI tercatat 22 kasus.

BACA :  Satgas Ingatkan Masyarakat Cegah Kenaikan Kasus dengan Disiplin 3M Selama Libur Panjang

Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pengendalian Ketenagakerjaan Disnaker Kabupaten Tangerang Indra Darmawan mengatakan tingginya kasus perselisihan antara karyawan dan perusahaan dipicu oleh dampak pandemi COVID-19.

Dampaknya antara lain banyak banyak perusahaan yang tidak mampu membayar upah karyawan yang berujung pada pemecatan karyawan.

“PHK adalah jalan terakhir yang diambil perusahaan karena tak mampu lagi berproduksi,” kata Indra.

Indra menjelaskan perselisihan HI terjadi ketika tidak ada titik temu pada saat bipartit di perusahaan  (antara karyawan dengan manajemen perusahaan). Selanjutnya dilakukan pencatatan perselisihan HI ke Disnaker Kabupaten Tangerang.

“Atas dasar itu kami menyelesaikan dengan cara mediasi,” kata Indra.

Saat ini Disnaker Kabupaten Tangerang hanya memiliki 4 orang mediator. Jumlah tersebut, kata Indra, sangat minim jika dibandingkan tingginya kasus perselisihan HI yang dihadapi.

BACA :  Tarif Penyeberangan Merak-Bakauheni Naik, Ini Daftarnya:

Indra mengatakan dari 326 kasus perselisihan HI pada tahun 2020, 165 kasus selesai dengan anjuran dan 80 kasus selesai dengan Perjanjian Bersama.

“Ada beberapa kasus yang dilimpahkan ke Pengadilan HI dan saat ini tengah berproses,” kata Indra.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler