Connect with us

OPINI

Ring Roads Solusi Antisipasi Kemacetan Kota Rangkasbitung Akibat Adanya Jalan Tol

Published

on

Rangkas Ring Roads. (Istimewa)

Lebak- Beberapa hari ini masyarakat Rangkasbitung merasakan ketidaknyamanan dengan kemacetan di beberapa ruas jalan. Hal ini diakibatkan penutupan jalan Soekarno-Hatta (bypass) menyusul perbaikan jembatan Ciujung II yang memaksa penyelenggara lalulintas merekayasa pengalihan jalan.

Pengalihan lalulintas ke ruas-ruas dalam kota tersebut menyebabkan volume kendaraan di dalam kota drastis bertambah dan cenderung lalu lintas di dalam kota menjadi semrawut. Lebih mengkhawatirkan lagi beberapa seksi jalan terlihat rusak akibat intensitas kendaraan yang tinggi dan kekuatan jalan (tonase) yang tidak mampu mengantisipasi beban kendaraan-kendaraan besar.

Fenomena ini sesungguhnya penting untuk kita semua sebagai early warning tatkala Jalan Tol
Seksi 1 Serang – Rangkasbitung running. Sudah dipastikan lalu lintas dalam kota Rangkasbitung akan meningkat tajam dan akan menggangu tingkat layanan jalan yang ada atau Level of Services (LOS).

Dalam tataran konsep perencanaan wilayah dan kota, salah satu solusi yang penting untuk disegerakan adalah dengan membangun Jalan lingkar luar (ring roads).

BACA :  RUU Ciptaker Bisa Pulihkan Ekonomi Akibat COVID-19

Ide Ring Road pertama kali dicetuskan oleh Sir Patrick Abercrombie, seorang planner (perencanaa) asal Inggris. Ring Road adalah salah satu hasil pemikirannya sebagai solusi dari permasalahan kemacetan, depresi perumahan, tidak adanya zonasi, dan kurangnya ruang terbuka hijau di London. Dengan adanya Ring Road kepadatan kendaraan di pusat kota bisa dikurangi, terutama kepadatan akibat para pengendara / pelintas antar kota. Para pelintas antar kota tadi tidak perlu melewati pusat kota, tapi hanya melewati pinggiran kota. Sehingga kemacetan di pusat kota bisa berkurang.

Konsep jalan lingkar luar di Rangkasbitung bisa diterapkan salah satunya dengan menghubungkan antar sub terminal yang ada. Yaitu menghubungkan terminal Mandala menuju sub Terminal Aweh kemudian menuju sub Terminal Cileuweung, kemudian kalo jadi menghubungkan sub Terminal Citeras dan ditutup kembali meunju Terminal Mandala. Agar fungsi jalan lingkar ini efektif, semestinya dibuat secara tertutup yang hanya dibangunkan gerbang keluar menuju ke setiap sub terminal. Berikut konsep utuhnya kami sampaikan.

BACA :  Pemilu Usai, Saatnya Konsolidasi

Harus Diiringi Pengaturan Land Use

Perencanaan dan pengaturan Ring Road haruslah diiringi dengan perencanaan dan pengaturan land use (tata guna lahan). Perencanaan dan pengaturan ini sagat penting untuk menghindari konflik kepentingan ruang. Seharusnya di sisi Ring Road hanya boleh didirikan bangunan dengan fungsi I, tidak boleh didirikan bangunan dengan fungsi II dan III seperti sekarang.

Apa itu Bangunan dengan fungsi I, II, dan III?

Bangunan dengan fungsi I adalah bangunan-bangunan yang memiliki fungsi pelayanan antar kota. Contoh bangunan dengan fungsi I seperti bandara, pelabuhan, terminal, industri, dll.

Bangunan dengan fungsi I boleh didirikan di jalan arteri seperti Ring Road. Sedangkan bangunan dengan fungsi II adalah bangunan-bangunan yang memiliki fungsi pelayanan dan pemenuhan kebutuhan publik dalam skala kota (tidak antar kota), contohnya seperti bangunan-bangunan dengan fungsi pendidikan dan kesehatan.

BACA :  Waduk Karian Harus Sejahterakan Rakyat !

Bangunan fungsi II hanya boleh didirikan di jalan Kolektor, tidak boleh didirikan di jalan Arteri. Adapun bagunan dengan fungsi III adalah pemukiman. Bangunan fungsi III boleh didirikan di jalan kolektor dan jalan lingkungan, namun tidak boleh di jalan arteri.

Jadi, sebenarnya bagunan-bangunan seperti pemukiman, perguruan tinggi, rumah sakit, dll tidak boleh didirikan di sisi Ring Road.

Sebenarnya hal ini merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Jika pendirian bangunan-bangunan tersebut terus berlangsung, akan terjadi konflik pemanfaat ruang yang terus menerus pula.

Jika konflik ini terus menguat, maka mungkin sekali suatu saat Ring Road yang awalnya sebagai solusi pengalih kemacetan di pusat kota, malah menjadi titik kemacetan baru.

Penulis: Yosep Mohamad Holis – Pemerhati kota



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler