Connect with us

Berita Terbaru

Duh, Pencairan Insentif Rp1,4 Juta untuk Guru Ngaji di Kabupaten Tangerang Terhambat NPWP

Published

on

Ilustrasi Guru TK Ar Rauf Kabupaten Tangerang Saat Sedang Mengajar Membaca Iqro. (Bantenhits/Rikhi Ferdian)

Tangerang- Kabar baik datang untuk sekitar 17.810 guru ngaji di Kabupaten Tangerang. Ya, belasan ribu ustaz dan ustazah yang biasa mengajar ngaji itu bakal menerima insentif sebesar Rp1,4 juta dari pemerintah Kabupaten Tangerang.

Kepala Subbagian Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Tangerang Ahmad Uwes Al Qurni mengungkapkan, di tahun 2021 ini ada 3.562 guru ngaji di Kabupaten Tangerang yang akan mendapatkan insentif.

Ia menjelaskan, ditargetkan sebanyak 13 guru ngaji di setiap desa atau kelurahan yang akan menerima insentif dari dari 274 desa dan kelurahan di Kabupaten Tangerang.

“Pada tahun ini Pemkab Tangerang menganggarkan Rp 4,9 milyar dan masing-masing guru ngaji akan mendapatkan sebesar Rp1,4 juta,” terangnya, Jumat 16 April 2021.

BACA :  Relawan Bawa Balita Penderita Hidrosefalus di Lebak ke RSCM

Pemberian insentif bagi guru ngaji tersebut merupakan salah satu program unggulan Tangerang Religi yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bupati dan Wakil Bupati Tangerang Tahun 2019-2023.

Kata dia, pada tahun 2019 lalu sebanyak 3.006 guru ngaji telah menerima insentif dan di tahun 2020 sebanyak 3.288 guru ngaji.

“Dalam melaksanakan kegiatan ini Bagian Kesejahteraan Masyarakat bekerja sama dengan MUI pada tiap kecamatan,” Ujarnya.

Hanya saja, kata Uwes pemberian insentif tersebut terhambat oleh kesulitan pengurus dalam mengumpulkan data serta pemberkasan salah satunya NPWP.

Menurutnya, tak sedikit guru ngaji yang merasa tidak membutuhkan NPWP sehingga menjadi kendala dalam pencairan dana insentif.

BACA :  Pelaku UKM di Kecamatan Cihara Lebak Mengeluh, Program Bantuan Rp 2,4 Juta Tak Disosialisasikan Menyeluruh

“Untuk jumlah penerima insentif guru ngaji ini Alhamdulillah selalu naik setiap tahunnya. Cuma kita agak terkendala dalam pengumpulan data yang menjadi salah satu hambatan kami,” Pungkasnya.

Editor: Fariz Abdullah



Pria kelahiran Jakarta ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan. Ketertarikan pada dunia literasi membuat Rikhi--begitu dia biasa dipanggil--memilih jalan hidup sebagai jurnalis.

Terpopuler