Connect with us

OPINI

Ekspresi

Published

on

Anggota Komisi IV DPRD Lebak, Dian Wahyudi. (Dok. Pribadi)

Bantenhits- Seorang trainer meminta audiensnya untuk duduk santai sedikit terkulai, terkesan lemas. Kemudian dia meminta peserta training untuk tertawa dan mengatakan bahwa mereka bahagia. Peserta gagal karena merasa aneh badan terkulai tapi harus tertawa dan mengatakan bahagia? sang trainer memberikan motivasi untuk terus mencoba berkali-kali sampai berhasil, namun tetap saja peserta tidak bisa, karena merasa aneh.

Begitulah di dunia pada umumnya. Ekspresi wajah, gerak tubuh, biasanya berbanding lurus dengan ungkapan ekspresi yang sesungguhnya. Bahagia ya tertawa, sedih ya lemas lunglai, kalau perasaan sama ekspresinya beda, teu nyambung, aneh rasanya, hayang seuri lajuna.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eks•pre•si /éksprési/ n, 1. pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya), 2. pandangan air muka yang memperlihatkan perasaan seseorang.

meng•eks•pre•si•kan v mengungkapkan (gagasan, maksud, perasaan, dan sebagainya) dengan gerak anggota badan, air muka, kata-kata, dan sebagainya.

Itu di dunia nyata pada umumnya, lain lagi dengan dunia politik. Tidak semua yang mengngguk tandanya setuju, tidak semua yang tersenyum tandanya seide, tidak semua yang menuding berarti tak percaya. Bahkan ada yang mencibir habis-habisan, padahal di hatinya sedang mengagumi, tapi tak mampu mengikuti. Dan sayangnya, tak semua yang idealis akhirnya menang.

Saya bukan hendak mengatakan bahwa dunia politik penuh dengan berbagai hal negatif. Namun di dunia ini kita tak bisa lugu begitu saja. Karena politik sarat dengan berbagai macam kepentingan dan seni bermain watak pihak lain. untuk menjaga agar tujuan tetap tercapai, jangan cepat terpesona sama senyum seseorang, jangan cepet bungah pedah orang mengangguk-ngangguk saat kita bicara, mesti faham dan mengenal medan sesungguhnya, agar tidak “kabelejog”.

Jika seseorang sudah meng”hibah”kan dirinya berkecimpung di dunia politik, pada saat yang sama dia harus siap mental, punya stok sabar yang melimpah, kemampuan komunikasi lisan dan tertulis yang baik, memiliki jaringan luas meliputi lintas sektoral dan pandai mengekspresikan diri dan membaca ekspresi orang lain.

BACA :  Merawat TNUK untuk 'Rumah Baru' Badak Cula Satu

Menurut Wikipedia, Politik (bahasa Yunani: Πολιτικά, politiká; Arab: سياسة, siyasah), yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain : 1). Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). 2). Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. 3). Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. 4). Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain : kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.

Namun faktanya, politik itu dinamis, kontekstual, dan penuh kalkulasi. Maka tidak salah jika ada yang menterjemahkan di dunia politik itu “tidak ada teman yang abadi, yang ada adalah Kepentingan yang abadi” cara mencapai tujuan dan pencarian kawan maupun kompetitor memang dinamis, bahkan medan konflik. Tapi tujuan nya tetap yaitu membuat keputusan yang mempunyai manfaat untuk sebesar-besar kemaslahatan umat, mengandung madharat yang sekecil-kecilnya walaupun mustahil menghasilkan keputusan yang sangat sempurna, dan memuaskan semua orang.

Sedangkan ekspresi politik menurut Generasi Milenial lain lagi, mengutip Aldy Artrian, MPA, Staf Pengajar Fisip Unmul, Pertama, Menguasai Media Sosial. Generasi ini cepat merespon khususnya perkembangan teknologi digital dan secara optimal menguasai berbagai fitur aplikasinya secara bersamaan.

BACA :  Pancasila Menjadi Pajangan di Indonesia

Dengan prinsip praktis dan efektif, maka menurut mereka smartphone lebih menarik daripada televisi, karena merasa berhak memilih dan menentukan sendiri hiburan serta informasi yang diinginkan. Disisi lain, ketergantungan terhadap media sosial merupakan indikasi tingginya interaksi komunikasi mereka. Fungsi media sosial tidak lagi sebagai saluran pertemanan, tetapi telah merangkap sebagai media edukasi, transaksi ekonomi bahkan ekspresi diri.

Kedua, Aktif Beropini, keberanian dan kemampuan mengelola isu dan opini di ruang publik dengan berbagai metodenya, baik dari persoalan pribadi, isu-isu sosial dan politik, hingga terhadap proses pengambilan kebijakan publik. Generasi ini cukup jeli menggunakan berbagai saluran aspirasi yang tersedia, bahkan dapat menciptakan sendiri media alternatif. Nilai dan gagasan idealis menjadikan generasi ini lebih kritis menilai berbagai fenomena disekitarnya, sikap ini kerap diterjemahkan sebagai oposisi bahkan mungkin skeptis kepada para pejabat publik.

Ketiga, Personal Branding, kesadaran untuk membangun citra dirinya termasuk komunitasnya. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai sikap narsis, tetapi ada juga yang menganggap sebagai cara menjaga eksistensi diri. Konon, banyaknya followers akan meningkatkan status tertentu dalam pergaulan mereka. Personal branding adalah kebutuhan, menjadi beralasan sebagai upaya merawat reputasi dan menjalin relasi.

Cepatnya pergerakan informasi telah menembus batas-batas teritori hingga berbagai rupa manipulasi. Media sosial dan ruang publik kerap dijadikan saluran dalam memperoleh respon positif dari khalayak, disisi lain generasi ini cenderung memiliki rujukan atau idola dalam hal tertentu yang dianggap mampu mewakili passion mereka.

Keempat, Challenge Seeker. Menyukai tantangan baru dan cepat bosan menjadikan generasi ini dianggap tidak loyal. Disadari atau tidak, ini menggambarkan jiwa anak muda yang cenderung dinamis dan energik. Ketika melihat ada kesempatan, mereka akan berusaha untuk mencoba hal baru dengan berbagai motivasinya.

Generasi ini dianggap memiliki kreatifitas tinggi, cepat belajar dan mudah beradaptasi tetapi kerap dianggap tergesa-gesa. Dalam berbagai agenda sosial, mereka tak segan menawarkan sesuatu yang anti-mainstream.

BACA :  Silaturrahim Kebangsaan PKS

Kelima, Gerakan Kerelawanan. Dalam beberapa kasus yang menarik perhatian publik, generasi ini telah berhasil mempelopori gerakan kerelawanan dibidang sosial maupun politik. Mereka bergerak tidak menggunakan kelembagaan formil tetapi lebih pada ikatan kolektivitas yang lebih fleksibel, viral, dan bermotif pada isu khusus. Gerakan ini adalah kepekaan mereka pada isu-masalah yang dianggap peran negara kurang -bahkan abai-terlibat didalamnya.

Dalam ranah politik pun mereka aktif menyuarakan sikap politik etis, memantau penyelenggaraan pemilu yang jurdil, bahkan sanggup menawarkan kepemimpinan alternatif sebagai perlawanan kepada elit politik yang kerap mempraktekkan status quo dalam kehidupan demokrasi.

Menurut Najwa Shihab, Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari. Demokrasi tidak untuk melayani penguasa, demokrasi ditujukan memuliakan warga negara.

Sedangkan satir Winston Churchill, Dalam perang Anda hanya bisa terbunuh sekali, tapi dalam politik Anda bisa mati berkali-kali.

Dus, politik itu jika diniatkan ibadah dan senantiasa menggapai Ridho-Nya, semoga menjadi berkah. Jika dilakukan dengan niat dan pelaksanaan benar, maka berada didalamnya semoga menjadi tempat kita menyemai kebaikan.

Eh, malah ngelantur kamana-mana. Padahal tadi keur ngomongkeun ekspresi. Ekspresi dunia politik yang beragam tadi membuat kita harus hati-hati gak boleh grasa-grusu jangan cepat menyimpulkan penilaian, bisi prematur.

Satu rasa, bisa macam-macam ekspresiya…ada yang sumringah, melo, sensi, cemburu, rindu, pundung, uring-uringan, padahal rasanya mah satu semua karena CINTA.

Menurut Jalaludin Ar-Rumi, cinta itu letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta.

Jadi, Husnuzon aja. Wallahu ‘alam bishawab.

Penulis: Dian Wahyudi
(Komunitas Sinergi Banten)



Terpopuler