Connect with us

Berita Utama

Tragedi Macam Ini Selalu Berulang di Banten; Warga Miskin Sakit Kalau Tak Ditandu Bambu Diangkut Pikap

Published

on

Nengsih (38), perempuan miskin warga Kampung Pasanggrahan, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, saat dipindahkan dari mobil pikap ke ambulans relawan. (BantenHits.com/ Samsul Fatoni)

Pandeglang – Tragedi kemanusian dengan latar kemiskinan dan buruknya pelayanan kesehatan di Banten kembali terjadi.

Nengsih (38), perempuan miskin warga Kampung Pasanggrahan, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, terpaksa diangkut mobil pikap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ke RSUD Banten.

Kondisi Ningsih saat itu sedang sakit parah. Namun, lantaran tak punya biaya untuk membayar ongkos ambulans, relawan dan warga terpaksa mengambil risiko menempuh perjalanan jauh dengan angkutan yang tak memadai demi menyelamatkan nyawa Nengsih.

Wartawan BantenHits.com Samsul Fatoni melaporkan, peristiwa itu terjadi, Jumat dini hari, 20 Mei 2021 pukul 03.00 WIB.

Warga miskin itu harus dibawa menggunakan mobil pikap dari Munjul yang jaraknya belasan kilometer hingga Alun-alun Pandeglang. Dari pusat Kabupaten Pandeglang ini barulah Nengsih dibawa menggunakan mobil ambulans milik relawan ke RSUD Banten.

Relawan Fbn Banten, Fajar Oratama menceritakan peristiwa yang dialami Nengsih. Mulanya Nengsih dirawat di Puskesmas Munjul selama dua hari, namun tidak ditangani, padahal penyakit usus buntu yang dideritanya harus segera ditangani.

BACA :  Duh, Awak Mobil Tangki Pertamina Tanjung Gerem Dipaksa Berhenti Lalu 'Dibayar' Pakai Janji

“Di Puskesmas Munjul dua hari, tapi tidak ada penanganan,” ungkapnya.

Untuk dirujuk pun lanjut Fajar, pihak Puskesmas meminta bayaran mobil ambulans sebesar Rp 350 ribu. Namun pasien tidak mampu membayar ongkos tersebut, sebab untuk mendapatkan perawatan pun si pasien hanya menggunakan fasilitas Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

“Untuk ambulans pun diminta Rp 350 ribu. Udah mah pake SKTM (untuk berobat), malah dipinta untuk ambulans,” katanya.

Lantaran tak mampu membayar ambulans, akhirnya relawan lokal di Kecamatan Munjul berinisiatif untuk membawa si pasien menggunakan mobil pikap ke Alun-alun Pandeglang dan selanjutnya dibawa oleh ambulans relawan ke RSUD Banten.

“Alhamdulillah saat itu juga sudah mendapatkan penanganan di RSUD Banten. Kita juga sudah jelaskan ke pihak RSUD Banten, jika pasien ini adalah rujukan lepas (karena tidak punya surat rujukan) bahkan dari sana pun gak ada bidan yang mendampingi,” ujarnya.

Sementara, Kepala Puskesmas Munjul, Mulyadi Agil mengaku, pihaknya masih mencari tahu soal foto yang beredar di media sosial terkait pasien yang diturunkan dari mobil Pickup itu lokasinya dimana, dan apakah memang dipindahkan dari mobil Pickup ke Ambulance ataukah bagaimana. 

BACA :  Target PTSL di Kabupaten Lebak Baru Mencapai 32 Persen, Komisi II DPR RI Salahkan Pemerintah Pusat

“Sejauh ini saya masih mencari tentang foto pasien di mobil Pickup yang beredar di Medsos, dimana lokasinya kami masih mencari tahu,” tandasnya.

Enah warga Kampung Kadugedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi, Pandeglang, saat ditandu warga menuju Puskesmas (Istimewa)

Banyak Pasien Ditandu Bambu

Selain Nengsih, potret kemiskinan dan buruknya pelayanan kesehatan di Banten harus dialami sejumlah warga. Mereka terpaksa ditandu warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kasus kekinian pasien ditandu bambu dialami Enah warga Kampung Kadugedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang.

Wanita berusia 30 tahun yang hendak melahirkan itu ditandu warga menyusuri jalan setapak sepanjang 4 kilometer menuju Puskesmas Sindagresmi untuk mendapatkan penanganan medis.

Dalam perjalanan, Enah sempat terjatuh dari tandu hingga menyebabkan bayi kembar di dalam kandunganya meningal dunia.

Kepala Puskesmas Sindangresmi, Hamdan membenarkan, pihaknya telah menerima pasien yang ditandu warga saat hendak mendapatkan pelayanan persalinan. Namun setelah ditolong dan melahirkan, kedua anak kembar pasien tersebut meninggal dunia.

“Iya, pasien yang mau melahirkan itu ditandu warga. Tapi setelah lahir, kedua anak kembar (Anak Enah) meninggal dunia,” ungkap Hamdan melalui sambungan telepon, Minggu 2 Mei 2021.

BACA :  11 Desa dan 6 kelurahan di Kab. Tangerang Rawan Banjir

Dijelaskannya, ada beberapa faktor yang menyebabkan kedua bayi kembar pasien tersebut meninggal dunia, salah satunya karena ditandu, sehingga terlambat untuk mendapatkan pelayanan.

“Namun memang dibarengi dengan faktor lain juga, soalnya pasien itu termasuk memiliki resiko tinggi. Ditambah usia kehamilannya itu baru 6 bulan jalan,” jelasnya.

Dikatakannya, memang jarak rumah pasien ke Puskesmas Sindangresmi tersebut lumayan jauh, sekitar kurang lebih 4 kilometer. Pasien itu terpaksa ditandu, karena akses jalan sulit dilalui kendaraan.

“Karena akses jalan dari rumahnya ke Puskesmas itu tidak bisa dilalui kemdaraan baik roda empat maupun roda dua. Akhirnya pasien itu ditandu oleh warga dan bisa jadi kematian anaknya itu salah satunya faktor itu,” katanya.

Sebelumnya, Jumat, 15 April 2021, sekitar pukul 16.00 WIB, seorang ibu hamil yang hendak melahirkan terpaksa ditandu warga menggunakan sarung dan bambu menuju Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis.

Ibu hamil itu adalah Anis, warga Desa Karangbolong. Warga terpaksa menandu Anis karena akses jalan dari rumah Anis sampai ke Pustu sulit dilalui kendaraan roda empat. Sedangkan jarak dari rumah Anis sampai ke Pustu mencapai 3 kilometer.

Kisah perjuangan Anis agar bisa melahirkan di Fasilitas Kesehatan (Faskes) ini diabadikan di media sosial oleh pemilik akun Faceebook, Marinah, yang merupakan tetangga Anis.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Samsul Fatoni memulai karier jurnalistik di sejumlah media massa mainstream di Banten. Pria yang dikenal aktivis semasa kuliah ini memutuskan bergabung BantenHits.com karena ingin mendapatkan tantangan dalam berkarya.

Terpopuler