Connect with us

Berita Terbaru

Soal Revisi Perda RTRW Kab. Lebak, Pengamat Ungkap Fakta Ini hingga Ajak Masyarakat Tak Antipati

Published

on

Akademisi STISIP Setia Budhi Rangkasbitung Harits Hijrah Wicaksana. (Dok. Pribadi)

Lebak- Pengamat Kebijakan Publik Dr. Harits Hijrah Wicaksana mengajak masyarakat agar tidak antipati dan paranoid terhadap rencana Pemkab Lebak merevisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Menurutnya, adanya Raperda Perubahan atas Perda Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lebak Tahun 2014-2034 itu merupakan momentum tepat untuk pemerataan pembangunan di Kabupaten Lebak bukannya mengambil sikap paranoid.

“Sikap kita jangan antipati dan paranoid terhadap revisi Perda RTRW. Kita harus sama- sama yakin konsep pemerintah ingin menjaga bukan merusak alam, ” kata Pakar Kebijakan Publik dan juga Pakar Politik Dr Harits Hijrah Wicaksana kepada BantenHits, Senin, 31 Mei 2021.

BACA :  KTP Sebut Pengelolaan Dana Desa di Lebak Belum Transparan

“Saya yakin konsep pemerintah tidak seperti itu. Kalau memang punya konsep bisa ditawarkan jangan paranoid justru peluang harus kita tangkap agar tercipta konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya kita merasakan tetapi anak cucu kita juga,”tambah pria yang juga menjabat Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung ini.

Harits berpendapat, pembahasan Raperda perubahan Perda RTRW termasuk paling seksi karena menjadi isu publik. Banyak dibahas oleh rekan – rekan aktivis, penggiat literasi, penggiat akademik dan lembaga NGO.

“RTRW tidak semata – mata dan tiba -tiba berubah. Tentunya harus ada paktor pendorong atau penarik kenapa akhirnya sebuah kabupaten ada rencana melakukan perubahan RTRW,” katanya.

Kata Harits, adanya perubahan RTRW dI Kabupaten Lebak ada faktor pendorongnya. Kabupaten Lebak memiliki posisi strategis saat ini.

BACA :  Jangan Ngaku Orang Banten yang Kekinian kalau Belum Menguasai Singkatan-singkatan Gaul Ini

Bagaimana tidak, sejumlah proyek strategis nasional tengah digarap di daerah penyangga ibukota Jakarta ini.

“Proyek – proyek nasional itu sebagian ada di Kabupaten Lebak. Ada jalan tol Serang – Panimbang, Bendungan Karian, pengembangan budidaya lobster, dan saya denger juga ada tempat Migas,” katanya.

“Bukan hanya mengakomodir kepentingan yang sudah ada tetapi mengakomodis yang mau masuk yaitu kepentingan investasi. Investasi itu ketika ingin hadir maka yang dilihat pertama itu akses, ketika akses ada maka investor melihat RTRW – nya,” tambahnya.

“Makanya RTRW ini harus dirancang ditata. Supaya tidak terjadi tumpang tindih, misal ini untuk pendidikan dibangun industri, makanya harus ditata kita jangan antipati dan paranoid tetapi kita harus sama – sama saya yakin konsep RTRW pemerintah ingin menjaga,” ucap Harits.

BACA :  Dinkes Pandeglang Tak Temukan KIPI Selama Proses Vaksinasi COVID-19, Apa Itu?

Di Kabupaten Lebak, Harits menilai pembanguman belum merata atau masih tercentral di Rangkabitung, Kalanganyar, Cibadak. Kemudian ada lagi di Lebak selatan yaitu di Kecamatan Malingping, Bayah dan sebagainya.

“Namun jadi PR kita, di Lebak tengah, pembangunan disimyalir tidak merata. Di Lebak tengah itu Cirinten, Bojongmanik, Sobang, Muncang. Notabenenya banyak lahan belum digarap secara potensial, lahan hutan lindung, perhutani,”pungkasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler