Connect with us

Berita Terbaru

Alhamdulillah Angka Stunting di Lebak Tinggal 9,2 Persen Setelah Sempat Tembus 40 Persen

Published

on

Ilustrasi Stunting

Stunting mencerminkan kekurangan gizi kronis selama periode paling awal pertumbuhan anak. Bagi anak yang mengalami kurang gizi kronis, proporsi tubuh tampak normal tetapi lebih pendek dari tinggi badan normal anak seusianya. (Ilustrasi/okezone.com)

Lebak- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mengklaim angka Stunting mengalami penurunan di tahun 2020. Saat ini kasus gangguan perkembangan anak itu jumlahnya di bawah 10 Persen.

“Alhamdulillah berkat kinerja bersama kini angka stunting di Kabupaten Lebak hanya tinggal 9,2 persen saja atau 9.583 anak,”kata Kepala Dinkes Lebak, Triatno Supiono, Rabu, 16 Juni 2021.

“Ini kinerja yang cukup baik dan perlu terus dikembangkan,”tambahnya.

Kata Triatno, Lebak sendiri sempat berada pada posisi dengan kasus stunting terbesar ke dua setelah Kabupaten Pandeglang. Pada tahun 2018, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan 3 tahun sekali, angka stunting di Lebak mencapi angka 40 persen lebih.

BACA :  Wujudkan Swasembada Pangan, Irna Minta Tiap Rumah Tanam 10 Pohon Cabai

“Ini angka yang sangat tinggi, kita juga sempat ragu. Apa benar angkanya sebesar itu ? Tapi apapun itu kita terima, dan terus melakukan upaya penanganan,” kata pria yang akrab disapa Pion ini..

Dan juga dilakukan riset Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dan hasil riset dari Riskesdas itu turun jadi 33 persen. Dan di tahun 2019, Dinkes Lebak sendiri melakukan riset yang menghasilkan bahwa angka stunting di Lebak hanya mencapai 12 persen saja.

“Pada tahun 2019 kita lalukan survei sendiri, dan hasilnya hanya ada 12 persen anak yang mengalam stunting. Dan yang terbaru adalah ditahun 2020 yang kembali turun ke angka 9,2 persen,” tuturnya.

BACA :  Lantik Pejabat Eselon II dan III, Irna: Kami Butuh Teamwork yang Baik

Pion mengaku akan terus melakukan upaya penaganan stunting. Karena, adanya gangguan pada perkembangan anak itu sendiri dapat menyebabkan perkembangan otak serta tumbuh kembang terhambat. Sehingga, anak yang menderita stunting umumnya bertubuh lebih pendek dari anak pada umumnya.

“Namun upaya itu tidak bisa kita lakukan sendiri, namun perlu dorongan dari seluruh stakeholder. Karena, stunting ini sendiri merupakan permasalah kompeks yang membutuhkan penanganan dari seluruh pihak,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya mengajak seluruh pihak termasuk komponen masyarakat untuk selalu memerhatikan proses pertumbuhan anak, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler