Connect with us

Berita Terbaru

COVID-19 Menggila Lagi, Pemkab Tangerang Batasi Jam Operasional Tempat Usaha

Published

on

Jubir Satgas COVID-19 Kabupaten Tangerang dr. Hendra Tarmizi mengungkapkan, kasus COVID-19 di Kabupaten Tangerang melonjak. Pihaknya terpaksa akan kembali membatasi jam operasional tempat usaha. (BantenHits.com/ Rikhi Ferdian). 

Tangerang – COVID-19 menggila lagi di Kabupaten Tangerang. Tingginya angka kasus COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir membuat pemerintah Kabupaten Tangerang akan kembali membatasi jam operasional tempat usaha.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi mengatakan, pihaknya akan kembali membatasi jam operasional tempat usaha seperti toko modern, swalayan, restoran atau sentra kuliner, dan mall.

Rencana pembatasan jam operasional tempat usaha tersebut, kata dia, tidak lain untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona terutama di wilayah zona merah.

BACA :  PMI Kota Tangerang Siapkan Dua Pos Pelayanan Selama Arus Mudik Lebaran

“Untuk mengurangi kerumunan kita akan kembali batasi jam operasional tempat usaha di Kabupaten Tangerang. Kita akan berlakukan setelah ada surat edaran bupati,” Kata dr. Hendra kepada BantenHits.com, Minggu 20 Juni 2021.

ia menjelaskan, pembatasan aktifitas masyarakat di tempat usaha tersebut dilakukan dengan mengurangi jam operasional. Seperti di sentra kuliner dan restoran hanya boleh beroperasi sampai jam 19.00 WIB dengan kapasitas pengunjung 50 persen.

“Semua tempat usaha seperti restoran dan pusat perbelanjaan hanya boleh beroperasi sampai jam 7 malam. Jumlah pengunjung juga di batasi,” ujarnya.

dr. Hendra mengimbau masyarakat untuk selalu waspada mengingat saat ini sedang terjadi lonjakan kasus COVID-19 yang cukup tinggi.

BACA :  Empat Hari Pelaksanaan Ops Patuh Kalimaya, Polresta Tangerang Tilang 886 Pengendara

Ia juga meminta masyarakat untuk membatasi kegiatan-kegiatan di luar rumah yang beresiko menimbulkan kerumunan massa, seperti pesta atau berwisata.

“Kalau untuk gelaran pesta perkawinan sebetulnya kita sudah ada larangan, karena disitu sangat rentan terjadinya kerumunan massa,” pungkasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 



Pria kelahiran Jakarta ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan. Ketertarikan pada dunia literasi membuat Rikhi--begitu dia biasa dipanggil--memilih jalan hidup sebagai jurnalis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler