Connect with us

Berita Utama

Heboh Foto Ridwan Kamil-Tamara saat BJB Dirundung Kasus Kredit Fiktif dan Dugaan Pembobolan Rekening Nasabah Rp 5,6 M

Published

on

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dan jajaran direksi bank bjb serta Tamara Bleszynski berfoto bersama di depan Warung Teh Manis, Bali. (Foto: iNews.id/ Instagram tamarablezynskiofficial)

Tangerang – Artis Tamara Bleszynski membuat kehebohan setelah mengunggah fotonya bersama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang tengah mengikuti Raker dengan direksi BJB (Bank Jabar Banten) di Warung Teh Manis, Bali.

Dikutip BantenHits.com dari iNews.id, dalam foto-foto yang diunggah, Tamara tampil cantik dengan kebaya dan kain kuning bermotif bunga. Rambutnya ditata rapi sehingga tampak anggun.

Selain foto, Tamara bersama Ridwan Kamil dan jajaran direksi bank bjb juga mengunggah video saat dia menyambut kehadiran Ridwan Kamil bersama Komisaris Utama bank bjb Farid Rahman dan Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi di pintu masuk.

“Hatur nuhun pisan. Matur suksma ?? Semoga kunjungan Bapak Gubernur Jawa Barat @ridwankamil ke warung @tehmanisbalibisa memberi semangat utk kita semua pekerja kuliner di seluruh Indonesia.??????

#hidupwarung #hidupwarteg#majuteruskulinerindonesia #tamarableszynski#tehmanisbali” tulis Tamara di akunnya @tamarableszynskiofficial, Sabtu, 5 Juni 2021.

Ridwan Kamil pun langsung membalas postingan Tamara dengan mengucapkan terima kasih dan sukses pada Warung Teh Manis milik Tamara. 

Menurutnya, raker bersama direksi bank bjb itu berkaitan dengan proyek perbankan yang nilainya mencapai triliunan rupiah. 

“Sukses utk @tehmanisbali dari kami @bankbjb Jawa Barat. Warungnya tadi dijadikan ruang rapat membahas tryliunan proyek perbankan,” balas Ridwan Kamil. 

Kehebohan foto Ridwan Kamil dengan Tamara Bleszynski saat Raker BJB, diketahui terjadi saat BJB sedang dirundung dua kasus serius, yakni kredit fiktif dan dugaan pembobolan rekening nasabah.

Kejati Banten berhasil mengungkap dugaan korupsi kredit giktif di BJB Cabang Tangerang senilai Rp 8,7 M. Dalam kasus itu Kejati menetapkan KA, Kepala Cabang BJB Tangerang dan DAW, Direktur PT DAS sebagai tersangka. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Kredit Fiktif Terus Ditelusuri Kejati

BACA :  Kapolda Sebut Tren Kecelakaan Arus Mudik Lebaran 2018 Menurun

Seperti diketahui, pengungkapan kasus kredit fiktif BJB senilai Rp 8,7 miliar tahun 2018 terus dilakukan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Serang telah memvonis mantan Kepala Cabang atau Kacab BJB Tangerang, Kunto Aji Cahyo Basuki 5 tahun dan 6 bulan penjara terkait kredit fiktif BJB ini.

Selain Kunto Aji, Majelis Hakim juga telah memvonis Dheerandra Alteza Widjaya divonis 6,5 tahun penjara. Direktur PT Djaya Abadi Soraya itu juga diwajibkan membayar uang pengganti yang sudah dinikmatinya sebesar Rp 4,2 miliar.

Hanya berselang 10 hari setelah vonis Majelis Hakim Tipikor Serang dibacakan, Kejati Banten langsung bergerak cepat menahan dua tersangka baru kasus kredit fiktif BJB.

Dua tersangka masing-masing, UH, yang merupakan mantan pejabat di Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Satu tersangka lainnya adalah DJ dari pihak swasta.

Menurut Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Banten, Sunarko, kedua tersangka telah ditahan sejak Senin, 14 Juni 2021.

“Mereka kini ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang selama dua hari ke depan,” kata Sunarko kepada wartawan di Kejati, Senin, 14 Juni 2021.

Sunarko menjelaskan, penetapan dua tersangka itu berdasarkan fakta-fakta persidangan dari dua tersangka sebelumnya di Pengadilan Tipikor Serang.

Dua orang inilah yang kemudian berperan menerbitkan selembar kertas yang kemudian bisa menjebol duit negara di BJB senilai Rp 8,7 miliar.

Selembar kertas yang dibuat mereka adalah Surat Perintah Kerja (SPK) fiktif terkait pengerjaan pengadaan fasilitas pembelajaran interaktif pendidikan dasar di Dindik Kabupaten Sumedang.

Dengan SPK fiktif inilah, jelas Sunarko, tersangka DJ kemudian menjaminkannya ke BJB Banten Cabang Tangerang menggunakan dua perusahaan yakni PT Djaya Abadi Soraya dan PT Cahaya Rezeky agar kredit bisa cair.

“Maka cairlah dari BJB itu sebesar Rp4,5 miliar dan Rp4,2 miliar yang dicairkan oleh dua PT tersebut,” jelas Sunarko.

BACA :  BEM UNIS, GMNI, Dan HMI Bantah Terlibat di AMPB

Mereka kemudian dijerat pasal 2 dan pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi.

Salah satu terdakwa dugaan korupsi Kredit Fiktif BJB saat akan dijebloskan penyidik Kejati Banten ke Rutan. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Dalam sidang vonis untuk Kunto Aji dan Dheerandra Alteza Widjaya pada Rabu, 2 Juni 2021 yang digelar secara daring, hakim menilai bahwa terdakwa Kunto secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus tindak pidana korupsi kredit fiktif senilai Rp 8,7 miliar.

“Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa Kunto Aji Cahyo dengan pidana selama 5 tahun dan 6 bulan penjara,” kata Ketua Majelis Hakim Slamet Widodo saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Kota Serang, Rabu, 2 Juni 2021.

Perbuatan terdakwa Kunto dinilai telah memenuhi unsur Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Tak hanya hukuman badan, hakim juga mewajibkan terdakwa untuk membayar denda Rp 500 juta subsider 6 bulan penjara.

Kemudian, Kunto juga diwajibkan membayar uang pengganti senilai Rp 1.060.000.000. Namun, uang tersebut sudah dibayarkan oleh terdakwa.

Menurut hakim, hal yang memberatkan yakni perbuatan terdakwa merugikan keuangan negara dan tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

“Hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan, mengakui perbuatannya dan sudah mengembalikan uang yang dinikmatinya,” ujar Hakim Slamet.

Sedangkan terdakwa lainnya yang bersama-sama merencanakan tindak pidana korupsi kredit fiktif di BJB, yakni Dheerandra Alteza Widjaya divonis 6,5 tahun penjara.

Direktur PT Djaya Abadi Soraya itu juga diwajibkan membayar uang pengganti yang sudah dinikmatinya sebesar Rp 4,2 miliar.

Jika harta benda tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka akan diganti dengan hukuman penjara selama 6 tahun.

Menanggapi putusan tersebut, kedua terdakawa melalui pengacaranya menyatakan akan pikir-pikir untuk melakukan upaya hukum selanjutnya

Rekening koran milik nasabah BJB yang menunjukkan adanya penarikan uang sebesar Rp 5,6 miliar. Nasabah BJB tersebut menduga uangnya dibobol pegawai BJB. (BantenHits.com/ Darussalam Jagad Syahdana)

Dugaan Pembobolan Rekening Nasabah

BACA :  Sebanyak 14 Penghuni Lapas Anak Pria Ikut UN

Usai kredit fiktif yang bikin jebol duit negara terkuak, BJB kembali dirundung masalah. Seorang nasabah BJB, RD alias Dafit warga Kampung Jayanti, Kabupaten Tangerang, mengadukan uang miliknya yang berada di rekening BJB senilai Rp 5,6 miliar diduga dibobol pegawai BJB.

Kepada BantenHits.com, Dafit yang didampingi kuasa hukumnya dari Kantor Hukum Haris & Partner mengungkapkan, peristiwa yang dialaminya terjadi pada 2018, dimana saat itu dirinya diajak berbisnis oleh seorang pegawai BJB bernama SA.

“Saat itu klien saya diajak bisnis, yang katanya bisnisnya bersama lurah-lurah di Kabupaten Tangerang,” jelas Haris, Senin, 14 Juni 2021.

Namun karena bisnisnya tak jelas, lanjut Haris, kliennya kemudian tak bersepakat untuk berbisnis bersama SA.

Dari sinilah petaka bermula. Tanpa sepengatahuan Dafit, SA kemudian mencairkan uang milik Dafit sebesar Rp 5,6 miliar dalam lima kali penarikan padahal Dafit tak pernah memberikan surat kuasa penarikan atau memberikan buku tabungan dan ATM kepada SA.

“Kami menduga ada keterlibatan pimpinan BJB. Karena pencairan uang dengan nilai besar kan harus sepengetahuan pimpinan, apalagi klien kami tak pernah memberikan surat kuasa penarikan atau memberikan buku tabungan dan ATM ke SA,” terang Haris.

Haris menambahkan, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada BJB KCP Citra Raya untuk meminta penjelasan terkait hal ini, namun belum pernah ditanggapi.

Jajaran Manajemen BJB saat dikonfirmasi BantenHits terkait dugaan pembobolan ini menyatakan, Tim Hukum BJB masih menelusuri dan melakukan penelitian.

Menurut mereka, SA bukanlah pegawai BJB yang bertugas di bagian yang berhubungan dengan keuangan, melainkan hanya seorang sopir.

“Dia mantan sopir,” kata salah seorang di jajaran manajemen yang meminta namanya tak disebutkan.

Dia juga menyarankan agar BantenHits menghubungi IS, mantan Kepala BJB KCP Citra Raya. Namun, saat dihubungi BantenHits, IS masih belum bersedia memberikan penjelasan karena masih menunggu hasil diskusi di jajaran pimpinan BJB Cabang Kabupaten Tangerang.

“Hal ini masih dalam diskusi kita. Kita sedang koordinasi untuk klarifikasinya. Dan kalau kita harus bertemu kita siap untuk itu,” ungkap IS.

Hingga Senin, 21 Juni 2021, jajaran BJB tak kunjung memberikan klarifikasi terkait dugaan pembobolan rekening nasabah atas nama Dafit tersebut.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler