Connect with us

Berita Terbaru

Tetua Adat Baduy Tanggapi Soal Vaksinasi Massal; Yang Tidak Mau Jangan Dipaksa, Ada Air Penjaga

Published

on

Jaro Saija, salah satu Tetua adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes. (istimewa)

Lebak- Pemerintah Kabupaten Lebak berencana akan menggelar vaksinasi massal, Selasa, 29 Juni 2021 mendatang. Targetnya 1.500 vial vaksin dapat disuntikkan ke dalam tubuh masyarakat.

Diketahui, satu vial vaksin dapat digunakan untuk 10 orang. Artinya jika Kabupaten Lebak mendapat jatah 1.500 vial akan ada 15.000 warga Lebak yang divaksin.

Juru Bicara Satgas Covid-19, dr. Friman Rahmatullah mengatakan bahwa dalam vaksinasi itu pihaknya memiliki kiteria penerima vaksin alias sasaran prioritas.

Yakni, golongan lanjut usia (Lansia), guru, pelayan publik, penyandang disabilitas, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Orang Dengan Gangguan Masalah Kejiwaan (ODGM) dan para pelaku UMKM.

BACA :  ASDP Siapkan 33 Kapal Layani Penyeberangan Merak-Bakauheni saat Libur Natal dan Tahun Baru

“Pada vaksinasi massal itu selain beberapa sasaran itu, kita juga akan memperioritaskan para pedagang di Pasar Rangkasbitung, dan para pelaku UMKM lainnya,” kata Firman.

Menanggapi hal tersebut, tetua adat Baduy Jaro Saija bereaksi. Sebagai kepala desa Kanekes, pihaknya juga telah membantu pemerintah dengan mensosialisasikan pelaksanaan vaksinasi massal.

“Sebelum dilakukan vaksin, saya sudah melakukan sosialisasi kepada RT dan RW serta masyarakat. Tapi untuk vaksinasi ini kita kembalikan lagi kepada masyarakat,” ujar Jaro Saija Kepala Desa Kanekes.

Dalam sosialisasinya, Saija mengungkapkan bahwa masyarakat Baduy merasa ketakutan jika harus dilakukan vaksinasi Covid-19.

“Kalau untuk masyarakat yang tidak mau, jangan di paksakan. Tapi sebelumnya kalau untuk perangkat desa sendiri, sudah melakukan vaksin” ucapnya.

BACA :  Lindungi Driver dan Penumpang Taksi Online, Kapolresta Tangerang Usulkan Penggunaan Alat-alat Pengaman Ini

Kata Saija, untuk menjaga kesehatan masyarakat Baduy selalu memakan minuman dari rempah-rempah dan ada juga mantra-mantra untuk menangkal penyakit.

“Ada upacaranya sendiri, sebelumnya yang baru rame-rame (COVID) berdoa dibikin air penjaga di perbatasan. Udah dipager ada ritual sendiri,” katanya.

Masa pandemi yang berjalan dua tahun terakhir. Membuat keadaan di Baduy juga nampak tidak terlalu ramai.

Untuk wisatawan juga yang datang ke Baduy masih di batasi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi bahaya Covid-19, selain itu untuk wisatawan yang datang diharapkan tetap menerapkan Protokol Kesehatan.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler