Connect with us

Berita Utama

Jika PLN Andal, Gas Oksigen untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia Bisa Tercukupi Kok!

Published

on

Foto ilustrasi: Petugas PLN saat memperbaiki KWH listrik. (Istimewa)

Jakarta – Menghadapi peningkatan kasus penyebaran COVID-19 anggota DPR RI Mulyanto meminta PLN menjaga sistem operasional layanannya.

Menurut Mulyanto, saat ini peran PLN sangat dibutuhkan oleh berbagai instansi yang sedang berjuang menanggulangi pandemi COVID-19. Jadi sudah sepatutnya PLN menjaga ketersediaan listrik secara andal agar proses penanggulangan tersebut dapat berjalan dengan baik.

“Seperti kita ketahui bahwa jumlah kasus positif Covid-19 sudah mendekati angka 40.000 per hari dan korban meninggal sudah menembus angka 1.000 orang per hari. Untuk itu PLN perlu memikirkan cara agar layanan listrik ke rumah sakit rujukan Covid-19 terpenuhi dengan baik,” tegas Mulyanto melalui keterangan tertulis yang diterima BantenHits.com, Kamis, 8 Juli 2021.

Pasokan Listrik Pengaruhi Produksi Oksigen

Mulyanto menambahkan, dukungan listrik PLN juga sangat dibutuhkan bagi produsen gas oksigen untuk keperluan medis. Selama ini produktivitas industri gas oksigen sangat bergantung pada keandalan listrik PLN.

BACA :  Dukung DOB Serang Barat, Ini Alasan Anggota DPRD Kabupaten Serang Heri Ajhari

“Ini terkait dengan instrumentasi elektrik sistem produksi gas oksigen. Bila terjadi gangguan terhadap listrik PLN maka secara langsung sistem produksi gas oksigen juga akan terganggu,” jelasnya.

Di Indonesia ada enam industri utama penghasil gas oksigen nasional yakni, Samator Group, LINDE Indonesia, Petrokimia Gresik, Air Products Indonesia, Air Liquide Indonesia, dan Iwatani Industrial Gas Indonesia.

Pabrik gas oksigen itu tersebar dari Banten sampai Surabaya, dimana total gas oksigen yang dihasilkan sebesar 640 juta ton per tahun dengan kapasitas industri 74 persen.

Mengingat kebutuhan gas oksigen yang meningkat, kapasitas produksi ini akan dimaksimalkan sehingga menghasilkan tambahan sekitar 225 juta ton per tahun. Belum lagi adanya rencana pengembangan pabrik baru produsen gas okisgen.

“Karena itu keandalan listrik PLN untuk menunjang produktivitas industri gas oksigen tersebut menjadi mutlak di tengah kasus kelangkaan gas oksigen akhir-akhir ini,” tegasnya.

BACA :  KPK Tahan Hakim, Panitera dan Dua Pengacara terkait OTT di PN Tangerang

“Sebenarnya, dari sisi suplai daya kita tidak khawatir dengan listrik PLN, karena untuk wilayah Jawa-Bali penyediaan daya listrik PLN sudah surplus lebih dari 30 persen, yang kita khawatirkan justru adalah aspek keandalannya,” imbuh Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.
Data Ditjen Ketengalistrikan Kementerian ESDM menunjukkan, angka ketidakandalan listrik PLN secara rata-rata nasional, baik lama maupun ferkuensi mati listrik, sebesar 13 jam per pelanggan per tahun dan 9.5 kali per pelanggan per tahun.

Angka tersebut masih tinggi bila dibandingkan dengan Sabah, Malaysia, yang lama mati listriknya hanya selama 189 menit per pelanggan per tahun. Atau Singapura, yang durasi gangguan listriknya hanya 5 menit per pelanggan per tahun.

“PLN perlu kerja keras dan siap-siaga menurunkan SDM-nya, agar keandalan listrik pada titik-titik krusial rumah sakit rujukan Covid dan pabrik produksi gas oksigen medis ini dapat terjaga zero ‘byar pet’,” pungkasnya.

Suasana di Pabrik Tabung Oksigen di Kawasan Tangerang (poto dok pribadi).

Tak Perlu Impor

BACA :  PT Bukit Samudera Perkasa Bantah Scrapping Kapal Victorius Ilegal

Sebelumnya dikutip BantenHits.com dari Detik.com, Presiden Direktur PT Aneka Gas Industri Rachmat Harsono memastikan kapasitas produksi oksigen yang mencapai 1.700 ton per hari sebetulnya akan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Apalagi pemerintah telah meminta agar 70% oksigen yang selama ini biasa digunakan kalangan industri akan sepenuhnya untuk kepentingan medis. Sebab, biasanya kebutuhan gas untuk medis setiap hari sekitar 400 ton, tiba-tiba melonjak menjadi seribuan ton.

Dengan kapasitas produksi sebesar itu, dia pribadi menilai impor oksigen belum diperlukan. Sampai Selasa kemarin pun impor belum dilakukan. Dia memperkirakan impor akan benar-benar dilakukan bila lonjakan pasien COVID-19 semakin tinggi.

“Kalau misalnya ada rencana impor dari Taiwan dan segala macam yang siap impor ya siap-siap saja. Tapi kalau memang nggak butuh, buat apa sih kita impor,” kata Rachmat.

Apalagi kata Rahmat, ada risiko potensi jumlah yang dibeli kemudian setiba di Tanah Air otomatis akan berkurang selama dalam perjalanan.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler