Connect with us

Berita Terbaru

PMI Kab. Tangerang Siapkan 50 Peti Gratis untuk Jenazah Covid-19

Published

on

Tim PMI Kabupaten Tangerang Saat Menurunkan Peti Jenazah COVID-19. (BantenHits/Rikhi Ferdian)

Tangerang- Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang menyediakan sekitar 50 peti jenazah bagi warga yang meninggal dunia karena terjangkit virus Corona. 

Kepala Markas PMI Kabupaten Tangerang Suratno mengatakan, puluhan peti mati tersebut diperuntukkan bagi warga yang meninggal dunia saat isolasi mandiri. 

“Dari PMI kita sudah menyediakan 50 peti mati untuk perbantuan di pemakaman TPU Buni Ayu. Semuanya untuk jenazah COVID-19,” Kata Suratno kepada wartawan, Rabu 7 Juli 2021. 

Dikatakan Suratno, dalam sehari PMI Kabupaten Tangerang bisa mengevakuasi sekitar 8 jenazah dari rumah-rumah. 

Mereka yang meninggal dunia adalah para warga yang melakukan isolasi mandiri lantaran tidak mendapatkan rumah sakit. 

BACA :  SDN Kependilan Jadi Langganan Banjir, Dindik: Jangka Pendek Sudah Ditangani

“Rata rata diangka 8 satu harinya. Semuanya isman (isolasi mandiri) karena kami hanya membantu pemerintah jadi yang isman di rumah saja yang kita ambil,” Jelasnya.

Meski begitu, keterbatasan personil, armada, dan jarak tempuh dengan wilayah Kabupaten Tangerang yang cukup luas menjadi kendala dalam mengevakuasi jenazah COVID-19. 

“Satu tim 4 orang tapi sebenarnya idealnya 6 orang karena itu tadi satu tim akan diistirahatkan untuk ngebackup kalau satu tim yang lain terpapar,” Ujarnya.

Adapun untuk mendapat bantuan evakuasi jenazah COVID-19, Suratno menjelaskan, warga bisa berkoordinasi dengan RT RW, Desa, atau kecamatan dan akan diarahkan baik ke PMI, RSU Balaraja, maupun ke TPU Buni Ayu. 

“Karena keterbatasan fasilitas kesehatan juga jadi (jenazah) dibawa ke RSU dan ada juga ke pemakaman Buni Ayu,” Tukasnya.

BACA :  TBM IKRA Terima Program "Silang Layan" Buku dari DKP Provinsi Banten, Apa Itu?

Editor: Fariz Abdullah



Pria kelahiran Jakarta ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan. Ketertarikan pada dunia literasi membuat Rikhi--begitu dia biasa dipanggil--memilih jalan hidup sebagai jurnalis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler