Connect with us

Berita Utama

PKS Bandingkan Anggaran Impor Vaksin Ratusan Triliun dengan Biaya Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Rp 10 M

Published

on

Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu, 12 Agustus 2020. Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. (ANTARA FOTO/www.bisnis.com)

Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mengecam Pemerintah yang dianggap tidak serius dorong riset vaksin Merah Putih sebagai vaksin produk dalam negeri.

Menurut politisi PKS ini, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Konsorsium Riset COVID-19 terungkap, target produksi Vaksin Merah Putih, yang dimotori Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, ternyata mundur dari jadwal.

Semula, katanya, diperkirakan vaksin Merah Putih dapat diproduksi massal pada awal tahun 2022. Tapi karena ada masalah teknis akhirnya diprediksi mundur menjadi September 2022.

Hal tersebut disebabkan karena BUMN Bio Farma, sebagai mitra konsorsium, tidak siap untuk memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan mamalia.

BACA :  Uji Coba Kanalisasi Jalan Daan Mogot, Tiga Bulan Kedepan Bikers Dilarang Melintas di Lajur Ini

Fasilitas produksi BUMN Bio Farma hanya siap untuk produksi vaksin berbasis protein rekombinan ragi (yeast). Karena itu LBM Eijkman terpaksa harus banting setir mulai dari nol lagi untuk mengembangkan riset vaksin berbasis ragi.

Mulyanto mengatakan, semestinya Pemerintah mempercepat riset vaksin Merah Putih, yang tengah dikembangkan Konsorsium Riset COVID-19 di bawah koordinasi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), agar vaksin inovasi anak bangsa ini segera dapat diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat.

Dalam riset vaksin domestik ini, Mulyanto menilai, Pemerintah adem-adem saja dan membiarkan riset vaksin ini berjalan bisnis as usual. Bahkan terkesan masih poco-poco atau maju-mundur.

Bahkan, Pemerintah dalam riset vaksin Merah Putih ini sangat minim. Pasalnya, anggaran untuk riset vaksin di LBM Eijkman, yang disiapkan BRIN saja tidak lebih dari 10 M.

BACA :  Seorang Remaja di Pandeglang Tewas dan Dua Rekannya Kritis, Diduga akibat Minum Ciu

“Ini sungguh miris dan jauh dari memadai, apalagi kalau dibandingkan dengan dana yang disiapkan untuk mengimpor vaksin yang ratusan triliun,” kata Mulyanto melalui keterangan tertulis yang diterima BantenHits.com, Selasa, 13 Juli 2021.

Pemerintah, lanjutnya, seharusnya mengalokasikan dana riset yang cukup, termasuk dukungan infrastruktur pada mitra BUMN yang akan memproduksi, agar vaksin Merah Putih ini dapat diproduksi lebih cepat.

“Kalau riset vaksin Merah Putih berjalan seperti ini, sampai kapan vaksin tersebut dapat didistribusikan kepada masyarakat. Utang kita juga keburu habis untuk membeli vaksin impor,” tegas anggota Komisi VII DPR RI ini.

Seperti diketahui, ada 11 platform riset vaksin Merah Putih yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM. Yang tercepat, LBM Eijkman menjadwakan uji klinis tahap 1-3 bersama BUMN Bio Farma pada buan Juli-Desember 2021 dan target memperoleh izin BPOM dan diproduksi massal pada bulan Januari 2022.

BACA :  Kondisi Rizky, Kakak Korban Pembunuhan Sadis di Ciledug Membaik

Dengan kondisi infrastruktur produksi vaksin BUMN Bio Farma, yang hanya dapat memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan ragi, maka produksi massal vaksin ini diperkirakan paling cepat September 2022.

Mulyanto menilai, penggunaan vaksin Merah Putih menjadi penting dalam upaya untuk membangun keunggulan SDM dan kemampuan inovasi domestik, selain juga agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin impor dan sekedar menjadi pasar bisnis vaksin semata. Sayang kalau anggaran dari utang yang terbatas ini terkuras habis untuk membeli puluhan juta dosis vaksin impor.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler