Connect with us

Berita Terbaru

Menteri Risma Tak Bohong soal Banyaknya Praktik Korupsi di Kemensos; Dua Pendamping Desa Kab. Tangerang Dijebloskan ke Penjara

Published

on

Kejari Kab. Tangerang saat melakukan penahanan terhadap tersangka korupsi bansos PKH. (Istimewa)

Lebak- Menteri Sosial Tri Rismaharini menerima aduan soal Pungutan Liar (Pungli) bantuan sosial (Bansos) Rp50 ribu per keluarga di Kota Tangerang.

Kabar tersebut tentu saja membuat mantan Wali Kota Surabaya itu sedih dan geram. Ia pun meminta pihak kepolisian bergerak menindaklanjuti nya.

Dalam kunjungannya ke Karang Tengah, Kota Tangerang, Menteri yang terkenal tegas dan kerap marah-marah kepada pegawai nya yang ‘nyeleneh’ ini mengungkapkan fakta mengejutkan.

Kata Risma, ia tak bisa menutupi bahwa banyak Praktik Korupsi di lingkungan kementeriannya. Ya, kementerian sosial.

Ternyata ucapan Risma itu tak bohong. Di Kabupaten Tangerang, pihak korps adhyaksa baru saja menjebloskan dua orang tersangka penyimpangan bantuan sosial (bansos) program keluarga harapan (PKH), Kamis, 29 Juli 2021.

BACA :  Embung di 7 Desa di Pandeglang Mengering, Perairan ke Sawah Tersendat

Mereka adalah DKA dan TS pendamping Desa Sodong, Desa Tapos, Desa Pasir Nangka Kecamatan Tigaraksa.

Modusnya mereka memotong dan mencairkan ATM penerima manfaat di BRI link, pada tahun 2018 dan 2019 lalu.

“Kedua tersangka akan dilakukan penahanan oleh penyidik Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang,”terang Kepala Kejari Kabupaten Tangerang, Bahrudin dalam siaran pers yang diterima Bantenhits.

Bahrudin mengatakan, dari ribuan saksi yang diperiksa penyidik, dan alat bukti yang dikumpulkan, kedua tersangka terindikasi kuat melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukan pemotongan bantuan yang diberikan kepada warga miskin, padahal bantuan tersebut seharusnya diterima utuh oleh penerima yang merupakan warga miskin. Ditengah pandemi Covid 19.

BACA :  Tetapkan DPS Pemilu 2019, KPU Kota Serang Minta Parpol Meneliti

” Untuk sementara kami tahan dua orang dahulu, kita akan proses karena ini jelas merugikan rakyat miskin, dan merupakan efek jera bagi pendamping PKH yang lainnya,” terang Bahrudin.

Editor: Fariz Abdullah



Pria kelahiran Jakarta ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan. Ketertarikan pada dunia literasi membuat Rikhi--begitu dia biasa dipanggil--memilih jalan hidup sebagai jurnalis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler