Connect with us

Berita Terbaru

Luhut Bilang “Sekarang Kita Ngerti Teknik Tracing Penting”, Sekretaris Kemenristek Era SBY Beri Pernyataan Menohok

Published

on

Sekretaris Kemenristek Era SBY yang kini  menjabat Ketua FPKS DPR RI, Bidang Industri dan Pembangunan, Mulyanto. (Dok. Pribadi)

Jakarta – Untuk mengefektifkan kerja penanggulangan COVID-19, Pemerintah Indonesia perlu menerapkan kebijakan berbasis ilmiah atau riset (scientific based policy), bukan berbasis coba-coba (trial and error).

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Kemenristek Era SBY yang kini menjabat Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, menanggapi pernyataan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, dan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang mengaku baru menyadari pentingnya tracing dalam penanggulanan pandemi COVID-19.

Menurut Mulyanto, Pemerintah telat menyadari dan memahami pentingnya ilmu pengetahuan dalam mengatasi krisis. Akibatnya banyak korban jiwa yang tidak tertolong.

BACA :  Kantor Staf Presiden Ajak Mahasiswa Banten Bicara soal UU Ciptaker, IMM: Kenapa Baru Sosialisasi Sekarang?

“Padahal para ahli pandemi jauh-jauh hari sudah banyak yang menyampaikan pentingnya 3-T (testing, tracing dan treatment) ini. Termasuk pentingnya karantina wilayah. Pemerintah saja yang tidak aspiratif,” tegas Mulyanto seperti dilansir dalam keterangan tertulis kepada BantenHits.com.

“Pemerintah harus terbuka dengan panel ahli, yang sangat banyak jumlahnya di Indonesia. Beri ruang dan dengarkan suara mereka. Ini akan mendayagunakan potensi nasional yang ada sekaligus mengurangi “kebisingan” dalam pengelolaan negara,” sambungnya.

Mulyanti menjelaskan, tracing adalah testing yang terstruktur mengikuti titik-titik kasus positif, sehingga benar-benar dapat melacak penyebaran kasus COVID-19 dari suatu kasus. WHO menyarankan tracing ini dilakukan sebanyak 20-30 testing untuk setiap kasus positif terkonfirmasi.

BACA :  Heboh Surat Kepala Desa Gembong Balaraja Minta THR ke Pengusaha

“Terkait dengan hal tersebut, dibandingkan dengan negara-negara tetangga, tracing yang kita lakukan masih sangat lemah. Karena itu wajib untuk ditingkatkan,” tegas Mulyanto.

Merujuk laporan Our World in Data pada 30 Juli 2021, Mulyanto menyebutkan, jumlah tracing per satu kasus positif di Indonesia sebesar 3,8. Masih jauh di bawah saran WHO yang 20-30 testing per satu kasus positif.

Malaysia angka tracing ini sebesar 10,1. Angka tracing di Vietnam sebesar 21,1. Sementara di Singapura angka tracing sebesar 943,8 pengujian per satu kasus positif.

Sebelumnya Menko Luhut Pandjaitan mengaku dirinya makin mengerti bahwa tracing itu penting. Bahkan menurutnya merupakan teknik kunci.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Jumat, 30 Juli 2021 juga mengakui, bahwa testing, tracing, treatment (3T) dalam penanganan pandemi Covid-19 masih lebih rendah dibandingkan negara lain.

BACA :  Ini Bupati yang Diinginkan Masyarakat Lebak di Tahun Mendatang

Budi menyebut 3T merupakan salah satu strategi paling dasar dan penting untuk mengatasi pandemi selain vaksinasi Covid-19.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler