Connect with us

Berita Utama

Keluarga Sebut Tak Masuk Akal; Jam 1 Malam Napi Ini Masih Chating, 45 Menit Kemudian Tewas Terpanggang

Published

on

Kobaran api yang membakar Blok C2 Lapas Kelas 1 Tangerang. 41 narapidana di Lapas Kelas 1 Tangerang tewas terbakar. (Tangkap layar video warga)

Jakarta – Kebakaran maut di Lapas Kelas 1 Tangerang yang menewaskan 44 narapidana masih menyisakan pertanyaan bagi keluarga Rezkil Khair, salah satu penghuni Blok C2 yang tewas.

Keluarga Rezkil Khair, Nursin menyebut kebakaran tersebut sebagai bentuk kelalaian penjaga Lapas.

Nursin merasa peristiwa itu tidak masuk akal, sebab, pada pukul 01.00 dini hari, puteranya masih menghubungi rekan-rekannya via chat. Ia heran mengapa kebakaran itu bisa terjadi tanpa sepengetahuan orang.

“Kalau kita mah nggak masuk akal aja. Jam 1 satu masih ngobrol sama saya kok, masih chatting-an, masa bisa kebakaran gitu aja orang nggak tahu,” kata Nursin seperti dikutip BantenHits.com dari CNNIndonesia.com.

“Itu kan masuk kelalaian mereka itu,” tambahnya.

BACA :  Dua Santri di Lebak Jadi Korban Tabrak Lari di Cihara, Satu Tewas Derita Luka di Kepala

Polisi Harus Mengusut sampai Tuntas

Keluarga korban kebakaranainnya, Sholeh, meminta agar Kepala Lapas bertanggungjawab atas  peristiwa kebakaran ini. Ia juga meminta agar insiden yang menewaskan 44 narapidana itu diusut tuntas.

“Harus bertanggung jawab, harus diusut lebih detail lagi,” kata Sholeh saat ditemui di depan Ruang Transit Jenazah RS Polri, Kamis malam, 9 September 2021.

Sholeh merupakan paman dari Alfin bin Marsum, salah satu penghuni Lapas Blok C2 yang tewas akibat kebakaran itu.

Menurut Sholeh, pihak kepolisian harus memeriksa peristiwa ini sampai tuntas. Pemeriksaan, menurut Sholeh, tidak hanya dilakukan kepada Kepala Lapas, melainkan para sipir penjaga Lapas.

“Harus diperiksa sampai tuntas. Harus diperiksa,” kata Sholeh.

BACA :  Bawa Tramadol dan Eximer, Pemuda di Kronjo Terjaring Razia

Sementara itu, kakak ipar Alfin, Muhammad Riza meminta agar penjaga Lapas lebih bersikap antisipatif atas peristiwa semacam ini. Sebab, satu blok di dalam Lapas bisa dihuni oleh ratusan tahanan. Terlebih, menurut Riza, Lapas merupakan lembaga pemerintahan.

“Saya pesan buat penjaga Lapas ibaratnya antisipasi lah, kan tahu sendiri, satu blok kan bisa ratusan orang kan,” kata Riza.

“Terus dengan kata-kata cuma korsleting listrik, pemerintah, kantor kan, mestinya lebih antisipasi,” tambahnya.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler