Connect with us

Berita Utama

Kondisi PLN Kritis, Jangan Coba-coba Korbankan Rakyat dengan Naikan Tarif Listrik!

Published

on

Petugas PLN saat memperbaiki KWH listrik. (Istimewa)

Jakarta – Kondisi keuangan PT PLN (persero) saat ini tengah kritis, sampai-sampai perusahaan plat merah tersebut meminta suntikkan dana dari pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan wakil rakyat asal Banten yang dikenal kritis, yakni Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto.

Kritisnya kondisi PLN diketahui dalam Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI. Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengungkapkan bahwa kondisi keuangan PLN tidak mampu untuk melakukan investasi sesuai yang ditargetkan. Setiap tahun nilai investasi PLN melorot.

Saat ini posisi utang PLN mencapai Rp 500 triliun dengan laba hanya Rp 5 triliun. Karena itu PLN minta bantuan penyertaan modal Pemerintah, agar dapat melaksanakan pengembangan usaha ketenagalistrikan.

Pemerintah Harus All Out

Wakil rakyat dari Banten yang menjabat Ketua FPKS DPR RI, Bidang Industri dan Pembangunan, Mulyanto. (Dok. Pribadi)

Mulyanto secara tegas menyatakan tidak setuju Pemerintah menaikan tarif dasar listrik (TDL) sebagai solusi penyehatan PLN. Menurutnya, persoalan PLN ini disebabkan perencanaan usaha ketenagalistrikan yang kurang akurat dan beresiko tinggi. Jadi aspek ini yang perlu diperbaiki.

BACA :  Tes Kejiwaan Rizki Silaban Jadi Rujukan Polisi

“Pemerintah harus totalitas all out membantu PLN. Jangan mudahnya saja memberikan penugasan tanpa memperhatikan betul kondisi PLN. Agar ujungnya rakyat tidak menerima beban, seperti usulan kenaikan TDL ini,” kata Mulyanto dalam keterangan tertulis kepada BantenHits.com, Jumat, 3 September 2021.

Menurut politisi PKS ini, opsi menaikan TDL harus dihindari sejauh mungkin. Selain kondisi ekonomi masyarakat yang lemah, karena pandemi, saat ini harga listrik di Indonesia juga sudah relatif tinggi di banding negara-negara ASEAN lainnya.

Dengan kondisi keuangan saat ini, lanjut Mulyanto, sulit bagi PLN melakukan pengembangan usaha.

“Dengan irama seperti ini, jangankan untuk berkembang, dapat bertahan saja sudah bagus,” kata Mulyanto.

Perencanaan Lemah

FOTO Ilustrasi: Proyek kelistrikan PLN. (Dok.PLN)

Menanggapi kondisi tersebut Mulyanto mengatakan apa yang terjadi di PLN disebabkan karena perencanaan kelistrikan yang lemah. Sebelumnya PLN terus membangun pembangkit listrik batu bara, sementara listriknya tidak diserap pasar.

BACA :  Sekjen DPD KNPI Banten ke Rano Karno: Sudahlah Gak Usah Jadi Gubernur Lagi

“Akibatnya, dari sisi, teknis Jawa-Bali surplus listrik hampir mencapai 40%. Dari sisi keuangan, PLN utang sampai Rp 500 triliun untuk investasi kelistrikan,” bebernya.

“Kemudian untuk membayar cicilan utang tersebut dan menanggung beban tagihan TOP (take or pay) dari IPP, dimana listrik harus dibayar, baik dipakai atau tidak oleh PLN, maka keuangan PLN tertekan berat. Tidak mampu berinvestasi,” sambungnya.

Mulyanto mengungkapkan, laba PLN hanya 5 T. Itupun karena ada subsidi dan kompensasi dari Pemerintah. Bila tidak ada, maka keuangan PLN tentu akan minus.

“Tanpa investasi, tentu PLN tidak dapat berkembang dan menghasilkan keuntungan. Inilah persoalan riil PLN,” papar Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan itu.

BACA :  Bocah 11 Tahun di Cilegon Hilang Diduga Terseret Arus Banjir

Melihat kondisi ini Mulyanto minta Pemerintah cermat dalam merumuskan RUPTL 2021-2030, yang sampai hari ini belum terbit, terlambat 9 bulan. Termasuk juga dengan program Pemerintah terkait Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.

“Jangan sampai semangat untuk green energy, karena tekanan pihak asing, mengorbankan PLN atau rakyat dengan tarif listrik yang melambung,” tegasnya.

Dengan rencana tambahan PLTS Atap sebesar 3.61 GW pada daerah surplus listrik, lanjutnya, maka bukan hanya PLN kehilangan pendapatan sejumlah daya itu, tetapi juga tetap harus membayar TOP. Diperkirakan sekitar Rp 5,7 triliun per tahun PLN kehilangan pendapatan akibat PLTS Atap ini.

PLN belum merespons upaya konfirmasi yang diajukan BantenHits.com melalui email humas dan corporate secretary sejak Kamis, 9 September 2021.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler