Connect with us

Berita Utama

Pernah Ditolak Warga, Proyek ‘Kandang’ Badak Jawa di Ujung Kulon Kini Dilanjutkan dengan Anggaran Mencapai Rp33,229 M

Published

on

Pandeglang – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali melanjutkan proyek Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang.

Dalam proyek tersebut akan dibangun paddock atau kandang untuk habitat Badak Jawa yang membuat Badak tidak keluar dari area yang sudah ditentukan.

Diketahui, pada tahun 2011-2012 proyek JRSCA di Ujung Kulon sempat tertunda karena mendapat penolakan dari elemen masyarakat.

Kepala Balai TNUK, Anggodo mengamini jika KLHK kembali melanjutkan proyek tersebut. Rencanaya, JRSCA membutuhkan lahan seluas 5000 hektar.

Saat ini, JRSCA masih dalam penyusunan dokumen oleh Institut Pertanian Bandung (IPB) dan pembangunan sarana penunjang, seperti infrastruktur menuju lokasi JRSCA.

“Pembangunan ini untuk pengelolaan badak secara lebih dekat,” kata Anggodo, Kamis 9 Desember 2021.

Menurut Anggodo, setelah JRSCA dibangun nantinya sebagian Badak Jawa yang ada di Semenanjung Ujung Kulon dipindahkan ke paddock JRSC yang berada di dekat Gunung Honje yang masih kawasan TNUK.

BACA :  Razia Warem dan Hotel Melati di Tangerang, Polisi Temukan Ratusan Miras

Badak Jawa yang nantinya dipindahkan nadak betinda dan jantan yang masih produktif dalam melakukan perkawinan. Sebab, selama ini Badak Jawa melakukan perkawinan sedarah yang beresiko membuat Badak lahir cacat.

“Tadinya kan habitat alamnya di semenanjung, ini kita mendekatkan dalam bentuk kandang yang lebih kecil sehingga bisa lebih intensif manajemen pengelolaannya,” jelasnya.

Rincian Anggaran

Dikutip BantenHits.com dari laman Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (SIRUP LKPP) Kementerian LHK.

Ada delapan paket pekerjaan dalam proyek JRSCA tersebut. Jika ditotal, semua anggaran untuk kebutuhan pembangunan JRSCA ini mencapai Rp 33.229.865.000 atau Rp 33,229 miliar.

Adapun rinciannya yaitu untuk jasa konsultasi manajemen kontruksi pembangunan JRSCA Rp 3,24 miliar dan untuk jasa konsultasi perencanaan teknis pembangunan JRSCA Rp Rp 2,5 miliar

BACA :  Sebelum Kabur, Pelaku Pemutilasi Wanita Hamil Jual Handphone ke Tigaraksa

Kemudian, pengadaan sarana dan prasarana pendukung JRSCA Rp 2,84 miliar Selanjutnya, pembangunan jalan penghubung dalam rangka pembangunan JRSCA Rp 11,5 miliar.

Pembangunan pagar dan area parkir Ranca Pinang dalam rangka pembangunan JRSCA Rp 1,12 miliar dan untuk pembangunan jembatan Ranca Pinang dalam rangka pembangunan JRSCARp 4,73 miliar.

Kemudian pembangunan kandang pengendali pengembalaan liar ternak masyarakat Ranca Pinang dalam rangka pembangunan JRSCA Rp 3,04 miliar serta pembangunan pos jaga dan pagar batas Airmokla dalam rangka pembangunan JRSCA RpRp 4,26 miliar.

Dari kedelapan paket itu, hanya satu paket yang diketahui belum masuk dalam proses tender lelang di laman LPSE KLHK. Yaitu pengadaan sarana dan prasarana pendukung JRSCA senilai Rp 2,84 miliar.

BACA :  Asap Tebal Tiba-tiba Mengepul di PT Ashimas Chemical, Ratusan Karyawan Panik Berhamburan

Sementara yang lainnya, sudah masuk tender bahkan ada yang telah selesai proses lelangnya. Paket tersebut mulai dari jasa konsultasi manajemen kontruksi JRSCA senilai Rp 3,24 miliar, jasa konsultasi perencanaan teknis JRSCA senilai Rp 2,5 miliar dan pembangunan jalan penghubung dalam rangka pembanguna JRSCA senilai Rp 11,5 miliar.

Untuk paket terakhir, proses tender lelang diketahui dilakukan lewat sistem tender cepat dan hanya diikuti oleh dua peserta kontraktor. Sedangkan sisanya, masih dalam proses masa sanggah.

KLHK melalui Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sendiri menargetkan semua paket pengerjaan proyek JRSCA ini sudah bisa mulai masuk tender lelang pada November 2021.

Editor : Darussalam Jagad Syahdana



Advertisement
1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler