Connect with us

Berita Utama

Mafia Minyak Goreng yang Saat Ini ‘Kipas-kipas Cuan’, Bisa Bertekuk Lutut sama Emak-emak Jika…

Published

on

Emak-emak di Indonesia disebut bisa membuat mafia minyak goreng bertekuk lutut. Ilustrasi: emak-emak saat antre minyak goreng murah di Jalan Sunan Kalijaga, Rangkasbitung. (Istimewa)

Jakarta – Emak-emak alias ibu-ibu di Indonesia dinilai bisa membuat mafia minyak goreng yang saat ini seperti digdaya, menjadi bertekuk lutut hingga akhirnya bangkrut.

Seperti diketahui, istilah mafia minyak goreng diutarakan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi usai Rapat dengan DPR RI menyoroti kelangkaan minyak goreng hingga warga harus antre.

Kelangkaan ini dalam sekejap tiba-tiba berlimpah ruah ketika harga eceran tertinggi dinaikan pemerintah dan harga kemasan premium diserahkan ke mekanisme pasar.

Muhammadiyah Bela Mega

Kembali ke soal emak-emak yang bisa bikin mafia bangkrut, pernyataan tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas saat membela pernyataan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati terkait kelangkaan minyak goreng.

BACA :  Hantaman Puting Beliung di Solear Sisakan Duka; Satu Warga Luka, 15 Rumah Rusak Diperbaiki Swadaya

Sebelumnya, pernyataan Mega mengenai yang menyoroti masalah kelangkaan minyak goreng memantik perdebatan di tengah publik.

Anwar mengatakan, pernyataan Mega apabila ditangkap dengan hati yang jernih dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Pasalnya, hal tersebut akan bisa memberikan dampak sosial ekonomi dan politik yang positif.

“Saya rasa apa yang disampaikan Ibu Megawati tersebut kalau kita tangkap dengan hati yang jernih maka dia malah bisa menjadi sebuah senjata yang sangat ampuh karena hal tersebut akan bisa menimbulkan dampak sosial ekonomi dan politik yang positif yang luar biasa besarnya,” kata Anwar dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 20 Maret 2022 seperti dikutip BantenHits.com dari CNNIndonesia.

Mega sebelumnya mempertanyakan apakah ibu-ibu di Indonesia hanya mengetahui cara memasak dengan menggoreng. Hal itu Mega lontarkan di tengah situasi kelangkaan minyak goreng dan banyak ibu-ibu yang rela mengantre demi bisa membeli minyak goreng.

BACA :  Dukung Demo 4 November, HMI Lebak: Adili Ahok!

Padahal, menurut Mega, ada cara masak lain dalam mengelola bahan makanan, seperti merebus hingga mengukus.

Komunikasi Sosial sesama Ibu-ibu

Menurut Anwar, pernyataan Mega itu seharusnya bisa menjadi komunikasi sosial di antara sesama ibu-ibu dan meningkatkan diskusi bagaimana cara yang tepat agar masakan yang mereka buat tidak memakai minyak goreng dan tetap enak.

Dari perspektif ekonomi, kalau ibu-ibu bisa menyajikan makanan yang enak kepada keluarganya tanpa digoreng hal ini akan sangat berdampak pada usaha dari para mafia dan atau para pedagang besar minyak goreng. Sebab, dari langkah yang diambil oleh ibu-ibu tersebut telah membuat permintaan terhadap minyak goreng akan menurun secara drastis.

“Dan bila hal ini berlangsung cukup lama, maka tentu usaha mereka akan bangkrut,” imbuhnya.

Menurut dia, hal ini bisa mendorong mereka untuk melepas stok minyak goreng yang mereka simpan atau timbun, sehingga kehidupan ekonomi terutama yang terkait dengan minyak goreng tentu akan kembali normal.

BACA :  Sempat Amblas dan Buat Pengendara Motor Nyungsep, Jalan Raya Kresek-Balaraja Rampung Diperbaiki

Kemudian, bila melihat dari perspektif politik, pernyataan Mega tentu akan bisa menciptakan stabilitas kehidupan masyarakat yang baik. Pasalnya, mereka bisa kembali hidup dengan tenang.

“Jadi kesimpulannya bila ibu-ibu atau emak-emak di negeri ini bisa bersatu maka mafia minyak goreng dan atau mafia-mafia lainnya tentu akan bisa bertekuk lutut di hadapan kekuatan yang mereka miliki,” jelas Anwar.

Sebagai informasi, Mendag Muhammad Lutfi telah mencabut harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 6 Tahun 2022 tentang HET Minyak Goreng Sawit.

Sebelumnya, HET minyak goreng curah Rp11.500 per liter, kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan kemasan premium Rp14 ribu per liter.

Namun dengan pencabutan aturan itu, HET minyak goreng curah kini menjadi Rp14 ribu per liter sedangkan harga kemasan premium diserahkan kepada mekanisme pasar

Editor: Fariz Abdullah

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler