Connect with us

Berita Utama

Bahayakan Penerbangan, Senjata Brimob Terpaksa Diletuskan; Ini Kejadian di Sekitar Bandara Soetta saat Idul Adha

Published

on

Senjata Brimob Polri terpaksa diletuskan untuk mencegah ancaman bahaya di sekitar area Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Minggu, 10 Juli 2022. ilustrasi: Anggota Brimob dengan senjata SS2 V4. (Foto: kaskus.co.id)

Tangerang – Senjata laras panjang standar anggota Brimob Polri terpaksa diletuskan untuk mencegah bahaya yang lebih besar di sekitar pagar area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 10 Juli 2022.

Anggota Polsek Neglasari tampil menjadi eksekutor penembakan. Sekali lagi, opsi penembakan terpaksa dilakukan karena membahayakan penerbangan pesawat di Bandara Soetta.

Apa sebenarnya yang terjadi di sekitar Bandara Soetta saat Hari Raya Kurban tengah berlangsung?

Kapolsek Neglasari, Kompol Putra Pratama mengungkapkan, penembakan dilakukan jjajarannya terhadap kerbau sembelihan kurban yang tiba-tiba mengamuk.

“Karena sangat berbahaya bagi penerbangan di Bandara Soetta (Minggu,10 Juli 2022) pukul 13.39 WIB, satu hewan kerbau kurban tersebut dapat dilumpuhkan oleh anggota Polsek Neglasari di Neglasari Kota Tangerang dengan cara menembak dengan menggunakan senjata api,” kata Putra seperti dikutip BantenHits.com dari detik.com.

Ngamuk saat Akan Disembelih

BACA :  Cilegon Kurang Alat Pemantau Kualitas Udara

Ketua DKM Musala Baiturahman, Ustaz Mulyadi menjelaskan bagaimana detik-detik kerbau yang akan dikurbankan di musala tersebut kabur. Kerbau tersebut kabur sampai akhirnya ditembak oleh petugas karena dikhawatirkan membahayakan.

Peristiwa bermula saat Ustaz Mulyadi hendak memindahkan kerbau tersebut dari tempat yang panas karena terik matahari ke tempat yang lebih teduh. Saat hendak dipindahkan, Mulyadi menyebut kerbau kaget lantaran mendengar bunyi klakson.

“Hewan ini kaget mendengar bunyi klakson dari pengendara yang mungkin tidak sabar atau gimana, karena memang namanya situasi kaya gini ada anak-anak jadi mengganggu jalan, mungkin pengendara itu membutuhkan waktu dan sebagainya sehingga membunyikan klakson sehingga mengagetkan kerbau tersebut,” kata Mulyadi saat ditemui di Musala Baiturahman, Minggu, 10 Juli 2022.

Mulyadi menuturkan saat itu satu orang yang memegang tali tambatan kerbau terinjak sampai terkelupas kuku kakinya. Kerbau kemudian mengamuk dan menyeruduk orang sekitar, terutama yang menggunakan pakaian merah.

“Sehingga secara reflek yang memegang tali tambatannya itu terinjak kakinya sampai jempol kuku kakinya terkelupas lalu luka parah kakinya. Kemudian terlepas dia menoleh ke hewan yang sudah disembelih kemudian ke arah berbalik jalan maju tapi pala mengarah ke arah hewan yang sudah disembelih. Sambil berjalan rupanya kerbau ini dengan warna merah sangat sensitif, banyak yang pakai kaos merah kemudian ditemukan lagi warna merah lagi sehingga ini terjadi perubahan psikologis dari hewan kurban tersebut sehingga menjadi agresif,” ujarnya.

BACA :  Hingga September, 37 Kasus Kebakaran Terjadi di Pandeglang

Setelah kerbau berlari sejauh 200 meter dari Musala Baiturahman, kerbau berhasil dijinakkan oleh warga. Saat ada warga yang teriak histeris, kerbau kembali agresif lalu kembali lepas dan menabrak apa saja yang ada di hadapannya hingga akhirnya ditembak.

“Para pengendara, warung, rumah warga, pinggir-pinggir jalan, yang dilalui sampai ada beberapa warga yang terluka. Ada yang luka ringan sampai luka berat. Sampai saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit umum Tangerang,” bebernya.

Mulyadi memastikan, pemilik hewan kurban memiliki itikad baik untuk bertanggungjawab dan mengganti segala kerusakan yang ditimbulkan akibat peristiwa itu.

“Karena memang pemilik yang menyerahkan hewan kurban ini punya iktikad baik punya tanggung jawab jadi dipertanggungjawabkan segala sesuatunya. Bahkan kendaraan yang rusak segera pada saat itu juga kita selesaikan pertanggungjawabannya kerusakannya langsung digantikan dan akan kita gantikan,” ungkapnya.

BACA :  Janji Tinggal Janji, Ribuan Warga Bakal Geruduk PT LCI Gegara Sering di 'PHP'

Mulyadi menuturkan kerbau tersebut tetap disembelih di lokasi kejadian meski kondisinya lumpuh. Keputusan ini diambil untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

“Masih hidup (usai ditembak). Dalam keadaan masih hidup juga kita sembelih. Saya mengambil inisiatif daripada nanti akan menjadi banyak korban lagi saya beranikan diri langsung sembelih. Saya minta bantuan para petugas, tolong kakinya diiket. Diupayakan itu pun memakan waktu juga setengah jam,” ucapnya.

Mulyadi menyebut kerbau tersebut ditembak menggunakan senjata laras panjang standar petugas Brimob. Menurutnya, ada hal-hal yang sangat di luar dugaan yang tidak disangka sebelumnya.

“Jadi ya saya rasa ada hal-hal yang memang diluar dugaan lah. Kita tidak berperasangka buruk tapi ini hikmah saya pribadi ya memang pada awalnya kita memang tidak ada apa-apa biasa-biasa aja. Tembok setinggi 3 meter bisa diloncati sama kerbau,” tambahnya.

Editor: Fariz Abdullah

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler