Connect with us

Berita Utama

Cerita Kelam Sepakbola Indonesia; Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, 127 Orang Meninggal Dunia 

Published

on

Sejumlah suporter Arema FC memasuki lapangan seusai Arema dikalhkan Persebaya 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, 1 Oktober 2022. Pada peristiwa kerusuhan itu, 127 orang dilaporkan meninggal dunia.(FOTO: Kompas.com)

Malang – Televisi baru saja dimatikan, Sabtu malam, 1 Oktober 2022 sekitar 22.15 WIB. Meski mata sudah mulai terserang kantuk, namun masih jelas terekam bagaimana laga bertajuk Derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Jawa Timur berlangsung dengan tensi tinggi.

Pada tayangan stasiun televisi yang menyiarkan lanagsung laga sarat gengsi ini, terlihat puluhan ribu pendukung Arema FC memenuhi seluruh bangku di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Jawa Timur yang berkapasitas 38 ribu orang itu.

Seiring pluit panjang yang ditiup wasit, tayangan langsung di televisi pun usai. Namun berita-berita di laman daring sejumlah media massa mainstream justru makin ramai. Semua memberitakan kerusuhan yang pecah sesuai laga. Yang mengejutkan, lewat tengah malam dilaporkan korban kerusuhan yang terjadi di Kanjuruhan mencapai 127 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Saling Serang Sepanjang Laga

Tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya, Arema dipaksa menyerah 2-3 oleh Persebaya pada laga lanjutan pekan ke-11 BRI Liga I Indonesia ini. Terlepas dari tingginya tensi permainan, kedua tim asal Jawa Timur ini tampil atraktif menunjukkan permainan terbaik.

Sejak pluit kick off dibunyikan, Arema FC sudah megambil inisiatif menyerang. Tujuh menit awal babak pertama, Arema menguasai jalannya laga. Namun, Persebaya justru berhasil memaksimalkan peluang. Menit ke-8 Silvio Junior berhasil mencetak gol lewat sepekan keras setelah mengontrol bola umpan dengan dengan dada.

BACA :  Pemkab Lebak Beri Pembekalan kepada Atlet Porprov

Singo Edan langusng tersengat dengan gol cepat Bajul Ijo. Mereka semakin deras melancarkan serangan. Namun, lagi-lagi, Persebaya yang terlihat tak terlalu mendominasi, justru kembali berhasil mencetak gol lewat pemain belakang mereka, Leo Lelis.

Bek jangkung ini berhasil menyarangkan gol lewat tandukan dari sepakan Higor Vidal dari skema bola mati yang dihasilkan dari pelanggaran beberapa meter di depan kotak penalti pada menit ke-32. Aldison Maringa kembali dipaksa memungut bola yang bersarang di gawangnya.

Dua Gol pada Lima Menit Akhir

Kejutan terjadi saat laga memasuki lima menit akhir babak pertama. Adalah Abel Camara yang memberikan kejutan itu. Striker yang khas dengan gaya selebrasi lambaian tangannya ini mampu mencetak brace pada menit ke-42 dan menit ke-45+1.

Gol pertama tercipta lewat tandukan, sementara gol lainnya lahir dari tendangan penalti setelah tangan salah seorang pemain belakang Persebaya menyentuh bola di dalam kotak penalti. Skor imbang 2-2 tak berubah hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, Persebaya kembali menciptakan gol cepat pada menit 51 lewat Sho Yamamoto yang memanfaatkan umpan Marselino Ferdinan.

Tertinggal 2-3, Arema berusaha mengejar ketertinggalan dengan memasukan sejumlah pemain penting. Namun, upaya mereka tak ada satu pun yang berhasil menjadi gol. Sejumlah ketegangan di dalam lapangan, tampak terjadi pada menit-menit akhir babak kedua. Bahkan, dalam tayangan televisi sejumlah suporter terlihat mulai melemparkan botol minuman ke arah lapangan.

Petaka Seusai Laga

Wasit telah meniup peluit panjang menandai berakhirnya laga bertajuk Derby Jawa Timur ini. Namun, seperti dikutip BantenHits.com dari Kompas.com, seusai laga berakhir para pemain tak punya banyak waktu untuk saling bersalaman sebagai bentuk penghormatan.

BACA :  Paham Cara Bermain Bali United, Persita Tangerang Siap Tampil Maksimal

Usai laga pemain Persebaya Surabaya dilaporkan langsung berlari ke ruang ganti. Sementara, para pemain Arema FC yang didampingi manajemen mendekati tribune Stadion Kanjuruhan untuk meminta maaf kepada suporter.

Namun, tak lama setelah itu, salah satu suporter menaiki pagar, masuk ke lapangan, kemudian disusul suporter lain. Pada saat bersamaan, para pemain Arema FC bergegas masuk ke dalam ruang ganti.

Sejumlah kerusakan pun terjadi. Salah satu pegawai Dinas Kepemudaan dan Olahraga yang enggan disebutnya namanya, merinci kerusakan akibat kericuhan itu. Beberapa kelengkapan stadion yang disebut mengalami kerusakan adalah videotron, pagar stadion, dan beberapa kursi.

“Ada banyak juga kerusakan yang lain, tapi belum tahu apa saja pastinya,” ujarnya.

Selain kelengkapan stadion, mobil milik kepolisian juga menjadi sasaran amuk suporter. Menurut jurnalis Kompas TV, Hilda Nusantara, empat mobil kepolisian di area Stadion Kanjuruhan terbakar akibat kericuhan laga Arema FC vs Persebaya.

“Dapat dikonfirmasi bahwa mobil yang dibakar milik kepolisian. Ada empat mobil yang terbakar di area stadion,” kata Hilda melaporkan dari Polres Malang seusai laga.

“Jumlah pasti belum bisa kami pastikan. Namun, informasi yang saya terima empat mobil polisi di lingkungan stadion terbakar,” ujar Hilda pada Minggu dini hari pukul 00.46 WIB.

Dalam banyak video yang beredar, terlihat dua mobil kepolisian memang sudah terbakar dan terguling di area sentle ban Stadion Kanjuruhan.

BACA :  Gubernur, Ketua DPRD dan Direksi Bank Banten Digugat Rp 179 M Gara-gara Obral Kredit ASN ke BJB

Terdapat pula video yang menggambarkan mobil patroli polisi yang terparkir di luar Stadion Kanjuruhan juga dirusak oleh massa. Adapun skuad Persebaya yang meninggalkan Stadion Kanjuruhan dengan kendaraan rantis juga menjadi sasaran lemparan suporter.

Situasi di dalam Stadion Kanjuruhan semakin kacau saat kericuhan terjadi. Terlebih lagi, setelah pihak keamanan menembak gas air mata ke bagian bawah pagar pembatas.

Nahasnya, asap gas air mata yang mereka lontarkan mengarah ke tribune dan mengepul di sisi selatan. Asap tersebut disinyalir menjadi penyebab suporter sesak napas dan pingsan, bahkan memakan korban jiwa.

Adapun jumlah korban jiwa dari tragedi di Stadion Kanjuruhan ini mencapai 127 orang. Ini diketahi berdasarkan laporan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta dalam konferensi pers di Malang, Minggu, 2 Oktober 2022.

Anggota tim Arema FC yang masih tertahan di dalam stadion ikut turun tangan membantu jalannya evakuasi kepada suporter yang terjebak. Para pemain dan manajer tim, M Ali Rifki, ikut membopong para korban ke pinggir lapangan setelah suporter keluar dari stadion. Beberapa pemain juga dilaporkan terlihat menggendong korban.

PSSI selaku induk sepak bola Indonesia langsung mengambil sikap terkait insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Melalui Ketua Umum Mochamad Iriawan, PSSI menyatakan bahwa kompetisi Liga 1 2022-2023 dihentikan sementara. Selain itu, PSSI juga memastikan Arema FC tidak akan lagi menjadi tuan rumah pada sisa kompetisi Liga 1 musim ini.

“Untuk sementara kompetisi Liga 1 2022/2023 kami hentikan selama satu pekan,” kata Mochamad Iriawan, dikutip dari laman resmi PSSI, Minggu (2 Oktober 2022) dini hari WIB.

“Tim Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi ini,” ujar Mochamad Iriawan.

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler