Connect with us

Berita Terbaru

Pidato AHY soal Kritik ke Pemerintah Dianggap Tak Merah Putih Disebut Representasi Kegelisahan Rakyat

Published

on

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam sebuah acara. (Net)

Serang- Pidato kebangsaan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendapat sorotan publik.

Ya, aksi anak mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono itu dalam acara 50 tahun Center for Strategic and International Studies (CSIS) disebut repsesentasi dari kegundahan rakyat.

“Kritik AHY secara tajam perlu menjadi catatan perjalanan demokrasi saat ini ditengah ditengah defisitnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah,”kata pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Ikhsan Ahmad, Rabu, 25 Agustus 2021.

Dosen FISIP Untirta ini menilai pidato AHY dapat dikatakan sebagai refleksi bangsa ini. Di mana negara tengah membutuhkan pemimpin yang bukan saja populer tetapi memahami esensi demokrasi, esensi kritik dan esensi kekuasaan.

BACA :  Jaksa Disebut Titipkan Terdakwa Kabur di PN Tangerang ke Temannya

Kondisi pemerintahan saat ini, menurut Ikhsan, tidak sesuai antara kata dan perbuatan, ditambah dengan ketakutan terhadap kritik.

Bahkan, lanjut Ikhsan, hanya mural sekalipun mencerminkan pemerintahan yang memiliki kedangkalan substansial terhadap pemahaman demokrasi dan kekuasaan.

Dalam siaran pers yang diterima Bantenhits, dalam pidato kebangsaan ia sempat menyinggung soal kondisi pemerintahan di era Jokowi-Ma’ruf.

Di mana, seringkali kritik dianggap sebagai sebuah serangan dan gangguan untuk kepentingan politik tertentu.

“Dan lebih menyakitkan jika setiap masukan dan pandangan yang berbeda dianggalnya sebagai bentuk perlawanan dan tidak “merah putih,” katanya..

Menurutnya, sejak awal Partai Demokrat ingin rakyat selamat, karena itu Demokrat ingin pemerintah sukses menangani pandemi Covid-19. 

BACA :  Ungkit Jasa Bongkar Korupsi 'Kakap' di Banten, Koalisi Masyarakat Sipil Turun ke Jalan Tolak Pelemahan KPK

“Sayangnya, niat baik seperti itu seringkali disalahartikan. Pandangan atau masukan kritis dianggap sebagai bentuk serangan atau gangguan untuk kepentingan politik tertentu,”tuturnya.

“Lebih menyakitkan, jika setiap masukan dan pendangan yang berbeda, dianggap sebagai bentuk perlawanan; dianggap tidak ‘Merah Putih’,” tambahnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler