Gaes, Tahukah Kalian tentang Penjelasan Ilmiah Kenapa Dinamakan Puasa Ramadan?

Date:

Berita Banten – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia atau Kemenag RI telah menetapkan awal Ramadan 1444 Hijriah jatuh pada Kamis, 23 Maret 2023. Penetapan dilakukan setelah Kemenag menggelar sidang Isbat Rabu sore, 22 Maret 2023.

Dengan penetapan awal Ramadan ini, maka mulai Kamis ini, umat Muslim di Indonesia sudah mulai berpuasa Ramadan. Lalu apa yang dimaksud dengan Puasa Ramadan? Kenapa pula dinamakan Puasa Ramadan?

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman dan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Buku ‘Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al Qur’an dan Sunnah’ menyebutkan, sebelum mendefinisikan secara keseluruhan makna puasa Ramadan, sebaiknya kita mengetahui definisi kosakatanya satu persatu.

Karena–seperti dikatakan oleh ar-Razi dalam Kitab Al Mahshul–—tidak mungkin kita memahami definisi sesuatu kecuali setelah mengetahui kosakatanya satu persatu.

Puasa diambil dari bahasa Arab صام – يصَُوْمُ – صَوْمًا وَصِيَامًا yang artinya adalah menahan dari sesuatu.

“Dikatakan bagi setiap orang yang menahan dari sesuatu berupa makan, berbicara, menceritakan aib orang maka dia disebut orang yang berpuasa,” kata Abu Ubaid dalam Majaz al Quran dikutip dalam buku itu.

Secara bahasa shiyam atau puasa berarti ‘menahan dan tenang’ yang merupakan lawan kata dari ‘bergerak’. Oleh karena itu, Allah mengiringkan puasa dengan shalat, sebab shalat merupakan gerakan menuju al-haq, sedangkan puasa berarti menahan diri dari syahwat. Hal ini mencakup perbuatan menahan diri dari ucapan dan perbuatan, juga mencakup manusia, hewan, dan sebagainya.

Contoh menahan diri dari ucapan adalah firman Allah:

إِنّ نذََرْتُ لِلرّحَْٰنِ صَوْ مًا

“Aku bernadzar untuk Tuhan Yang Maha Pemurah shaum (tidak berbicara). (QS. Maryam [19]: 26).

Dalam ayat di atas, yang dimaksud shaum adalah diam tidak berbicara, sebagaimana penafsiran sahabat yang mulia, Ibnu Abbas Rhodiyallohuanha seperti termaktub dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Contoh menahan diri dari perbuatan adalah ucapan an-Nabighah adh-Dhibyani:

“Kuda yang tenang dan kuda yang meringkik di bawah asap Dan yang lainnya menggerakkan tali kekangnya”.

Adapun secara syara’ arti shiyam atau puasa adalah menahan diri dari makan, minum, berhubungan dengan istri, dan sebagainya sesuai dengan tuntunan syari’at, termasuk juga menahan diri dari ucapan kotor, perbuatan zhalim, dan sebagainya, karena hal ini lebih ditekankan di bulan puasa.

Sedangkan Ramadhan diambil dari kalimat رَمَضَ الصّائمُِ ، يرَْمَضُ yaitu apabila orang yang sedang puasa terbakar lambungnya karena kehausan. Yang menguatkan makna ini adalah hadits yang berbunyi:

صَلَةُ الَْوّابِيَ حِيَ ترَْمَضُ الفِْصَالُ

“Shalatnya orang-orang awwabin (yang sering bertaubat kepada Allah) adalah ketika anak unta merasa kepanasan.” (HR.Muslim No.848).

Adapun mengapa bulan tersebut dinamakan dengan bulan Ramadhan, hal ini diperselisihkan ulama. Pertama, karena ketika puasa diwajibkan pertama kali bertepatan pada musim panas. Kedua, karena bulan Ramadhan itu membakar dosa dan menghapusnya, yaitu menghapus dosa dengan amal shalih yang dikerjakan pada bulan ini. Ketiga, ada yang mengatakan bahwa nama Ramadhan tidak memiliki makna seperti halnya nama bulan-bulan lainnya. Allahu A’lam.

Jadi, puasa Ramadhan menurut terminologi syari’at adalah seorang muslim menahan diri dari makan, minum, dan seluruh perkara yang membatalkan puasa, dengan niat beribadah kepada Allah, sejak terbit fajar kedua hingga terbenamnya matahari, bagi orangorang tertentu dan syarat-syarat khusus.

Ibnu Abdil Barr v berkata, “Adapun puasa dalam sudut pandang syari’at, maknanya adalah menahan dari makan, minum, berhubungan intim dengan istri pada siang hari apabila orang yang meninggalkan perkara itu niatnya adalah mencari wajah Allah dan pahala-Nya. Inilah makna puasa dalam syari’at Islam menurut pendapat semua ulama umat ini.”

Author

  • Darussalam J. S

    Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

    View all posts

Terpopuler

Share post:

Berita Lainnya
Related