Pelajaran dari Ciasem Baru Subang, Kepala Desa di Indonesia Jangan Mau Diperas Oknum Ormas dan Wartawan!

Date:

Ilustrasi Pemerasan
Pelajaran dari Ciasem Baru, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kepala Desa di Indonesia jangan uau diperas oknum Ormas dan wartawan. FOTO ILUSTRASI Pemerasan: Google.com.

Berita Jabar – Sebuah video dari Subang, Jawa Barat viral setelah tersebar di berbagai platform media sosial baru-baru ini. Dalam video tampak seorang wanita yang merupakan Kepala Desa (Kades) Ciasem Baru, Kabupaten Subang berdebat keras dengan seorang pria yang diduga oknum anggota ormas sekaligus oknum wartawan.

Kades bernama Indah Aprianti ini berdebat dengan pria tersebut gara-gara pembangunan jalan yang dilakukan di lingkungan desa yang dipimpinnya.

Dalam perbincangan dengan Anggota DPR RI yang juga politisi Partai Gerindra, Dedi Mulyadi yang disiarkan channel YouTube Kang Dedi Mulyadi, Indah menjelaskan mengenai jalan yang sedang dikerjakan memiliki panjang 250 meter.

Kericuhan bermula saat pada hari Minggu lalu seorang oknum warga berinisial S datang marah-marah ke lokasi pekerjaan pembangunan. S yang dikenal sebagai salah satu anggota ormas itu menghentikan pekerjaan karena tidak mau jalan dibangun dengan lebar 3 meter tapi harus 3,5 meter.

Saat itu Indah menjelaskan bahwa kesepakatan pembangunan telah melalui sejumlah musyawarah. Memang, kata Indah, ada jalan yang memiliki 3,5 meter karena tidak memiliki bahu jalan.

“Memang ada di situ 3,5 meter karena tidak ada bahu jalan, kemudian jalan di situ semakin mengerucut. Kalau yang 3,5 meter itu kanan kirinya sawah, nah yang saya mau bangun itu kanan kirinya rumah penduduk sudah tidak mungkin 3,5 meter nanti bisa kena tiang listrik dan sebagainya,” ungkap Indah.

Untuk menghindari kericuhan, Indah meminta warga lain untuk berkumpul. Hasilnya warga meminta jalan tetap dikerjakan dengan lebar 3 meter sesuai dengan perhitungan awal. Bahkan warga sukarela pasang badan dengan menandatangani kesepakatan.

“Waktu kita jelaskan soal kenapa hanya 3 meter lebarnya, dia pergi sambil marah-marah,” ucap Indah.

Menurut Indah bukan kali ini saja S berulah seperti itu. Indah sering didatangi diminta uang oleh S yang datang mengaku sebagai wartawan. Saat itu Indah dituduh melakukan korupsi.

“Ujungnya ya minta uang. Pernah ngasih uang Rp 200 ribu, itu pun marah-marah karena mintanya Rp 500 ribu,” tuturnya.

Indah mengaku kesal dengan ulah S. Video viral itulah puncak kekesalan Indah karena sudah terlalu lelah menghadapi oknum warga padahal ia tulus dan transparan memimpin desa sehingga lebih banyak yang mendukungnya.

“Makanya semoga dengan ramenya ini akan menimbulkan efek jera. Saya sudah kesal banget, dari awal menjabat sudah lima kali diberitakan yang enggak-enggak oleh dia,” beber Indah.

Kades berusia 28 tahun itu ternyata bukanlah sosok sembarangan. Saat ditanya soal profil, Indah ternyata seorang lulusan universitas ternama di Indonesia. Meski begitu dia memilih untuk mengabdikan diri pada desa tempat kelahirannya.

“Saya SD, SMP di Ciasem. SMA pindah ke Jakarta. Lulus dari Universitas Indonesia jurusan hukum,” ungkapnya.

“Pantesan wanian (berani),” timpal Dedi Mulyadi.

KDM menyebut apa yang dialami Indah banyak dirasakan oleh para kepala desa lain. Sebab banyak kepala desa yang kerap berhadapan dengan oknum warga, oknum ormas dan oknum wartawan yang ujungnya meminta uang.

Menurut KDM keuangan di desa adalah yang paling transparan sehingga sangat mudah diakses oleh siapa pun. Sehingga kemudahan tersebut dimanfaatkan oleh oknum untuk menekan kepala desa yang ujungnya adalah uang.

“Indonesia butuh anak muda yang pimpin desa, tetapi ya itu tadi anak muda yang memiliki intelektual belum tentu tahan menghadapi masyarakat Indonesia yang hari ini banyak tumbuh menjadi organisasi kemasyarakat, tumbuh menjadi wartawan tapi tidak terdaftar di dewan pers ini yang terjadi,” ucapnya.

“Makanya fungsi Kemendagri membicarakan ini dengan para kepala desa sehingga kita harus bisa merumuskan kebebasan itu harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan, jangan sampai desa yang guyub semangat gotong royong tercederai oleh provokator yang ujungnya uang,” kata KDM.

Sumber: RCTI+

 

Author

  • Darussalam J. S

    Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler

Share post:

Berita Lainnya
Related

Mendagri Ungkap Peran Jokowi pada Penunjukkan Al Muktabar Jadi Pj Banten yang Ketiga Kali

Berita Jakarta - Al Muktabar telah dilantik kembali menjadi...

Untuk Pemda yang Masih Pelit sama Informasi, Simak Nih Penjelasan Plh Kapuspen Kemendagri!

Berita Jakarta - Pemerintah Daerah atau Pemda diminta agar...