Connect with us

Berita Utama

Wahai Para Politisi! Millenials Indonesia Butuh ‘Pertengkaran’ Akademis bukan Hal Konyol

Published

on

Rocky Gerung

Akademisi kenamaan yang digandrungi publik karena pemikirannya yang kritis, Rocky Gerung menyebut millenials di Indonesia butuh ‘pertengkaran’ akademis dari politisi bukan hal konyol seperti banteng vs Celeng. Foto: Rocky Gerung seusai mengisi acara diskusi di Kota Tangerang beberapa waktu lalu. (Dok.BantenHits.com)

Jakarta – Millenials di Indonesia mendambakan, para tokoh unjuk gigi dalam ‘pertengkaran’ akademis di panggung politik Indonesia seperti yang terjadi di luar negeri.

Alih-alih mendapatkan tontonan yang mencerahkan, dunia politik politik Indonesia– terutama menjelang Pilpres 2024–justru diisi sejumlah kekonyolan.

Pernyataan tersebut disampaikan akademisi yang juga pengamat politik, Rocky Gerung saat menjadi narasumber pada diskusi ‘Memprediksi Kemunculan Capres Ala Pembagian Wilayah Penanganan Covid (Jawa Bali – Non Jawa Bali)’ yang digelar KedaiKOPI, Jumat, 15 Oktober 2021.

BACA :  Uang Nasabah BJB Rp 5,6 Miliar Dibobol dalam 17 Hari, Kok Bisa Bukan Pemilik Rekening Menarik Uang tanpa Surat Kuasa?

Dikutip BantenHits.com dari Detik.com, salah satu kekonyolan dalam dunia politik Indonesia adalah isu banteng vs celeng yang disebut upaya menaikkan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua DPR Puan Maharani.

Berdasarkan perbincangan dengan kaum millenials di Indonesia dan beberapa negara, kata Rocky, mereka heran atas ramainya isu politik itu.

“Saya berdiskusi dengan kaum milenial. Mereka mendengar kekonyolan-kekonyolan dalam politik kita, banteng vs celeng. Dia bingung,” katanya.

Padahal, kata Rocky Gerung, para kaum milenial ingin tokoh-tokoh politik unjuk gigi dalam hal akademis. Misalnya terkait dengan society 5.0 yang membahas gender equality hingga human rights.

“Padahal kami milenial yang 2024 nanti akan memilih mau lihat pertengkaran akademis di dunia politik Indonesia sama seperti pertengkaran di luar negeri. Soal gender equality, new kind of economy. Kok kita nggak denger ya Puan ngomong itu. Om yang rambutnya kayak bintang film putih itu, Ganjar Pranowo, ngomong itu. Kok kita nggak lihat Kang Emil ngomong itu,” tutur Rocky Gerung.

BACA :  Sekali "Gebrak" Oknum LSM Dapat Rp 10 Juta dari Pengelola Pasar Babakan

Society 5.0 isinya intellectuality, human right, gender equality. Mereka nggak dapet itu,” imbuh dia.

Karena itu, menurut Rocky Gerung, berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar ataupun Puan adalah hal yang konyol. Sebab, kaum milenial ingin sosok calon presiden yang concern pada gender equality hingga demokrasi.

“Jadi konyol kita berupaya menaikkan elektabilitas Ganjar, padahal bagi milenial itu orang bodoh. Demikian juga Puan. Sama, mereka anggap ini orang nggak ngerti new grammar of world’s politic adalah gender equality, democracy, human rights,” ujar Rocky Gerung.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler