Connect with us

ESSAI

Manusia yang Kalahkan Serigala

Published

on

…untuk melawan serigala kamu harus jadi serigala. Kamu harus mengasah taring dan kuku. Kamu harus berlatih untuk tega dan kejam.

Petikan dialog di atas adalah salah satu dialog dalam Cerpen “Menebang Pohon Silsilah” yang ditulis Indra Tranggono di Kompas, Minggu (17/02). Dan serigala, seperti yang kita ketahui bersama adalah binatang yang buas dalam memangsa.

Membayangkan sosok serigala dalam kondisi bangsa seperti saat ini—di mana orang berdasi dan berpeci tak bisa tergaransi bebas dari korupsi, intoleransi yang semakin bersemi di negeri yang katanya agamis ini, laku para doktor mempertontonkan politik kotor, lalu kejahatan asusila yang malah terjadi di lingkup keluarga—seperti menyadarkan bahwa kita sesungguhnya kita sedang berada dalam sekerumunan serigala. 

Seorang kawan yang hari-harinya dihabiskan untuk bertualang di jalanan, pernah mengatakan: kalau kita masuk di kerumunan macan dengan mengembik, maka kita akan dengan mudah menjadi bulan-bulanan, lalu dimangsa. “Maka mengaumlah di tengah kerumunan macan,” kata sang kawan dengan bangga.

Ungkapan si kawan tadi, sama persis dengan nasehat ahli nujum dalam “Menebang Pohon Silsilah” Indra Tranggono.

Ungkapan si kawan dan si ahli nujum itu telah secara nyata mewajibkan kita untuk masuk dalam lingkaran yang “umum”. Maka, ketika di tengah “umum” kita tak mau “umum” dan ngotot dengan ke”khusus”an, tamatlah riwayat kita seperti mangsa-mangsa macan dan serigala.

Filsafat Kebijaksanaan

Adalah perjuangan yang tak bisa dilakukan sembarang orang untuk menegakan kebenaran di tengah ketidakbenaran yang umum. Sejarah sudah lazim mencatat, tak sedikit orang yang punya semangat menegakan nilai-nilai universal kemanusiaan—di mana kebenaran dan perdamaian di dalamnya—kemudian harus menyerah kalah.

Mereka yang kalah ada yang memilih mengasingkan diri, lalu yang tak beruntung—atau malah mungkin beruntung—kemudian dimangsa serigala, dan seterusnya menjadi bagian dari serigala.

Eric Weil, seorang Jerman keturunan Yahudi yang merasakan langsung bagaimana kekejaman  Nazi, adalah bagian dari pejuang yang terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa kekerasan tak harus dilawan dengan kekerasan yang sama.
Dalam resensi Petrus Canisius Prantara untuk buku “Filsafat Perdamaian, Menjadi Bijak Bersama Eric Weil” yang ditulis C.B. Mulyatno, kekerasan yang ditumpas dengan kekerasan yang sama pada akhirnya akan melahirkan kekerasan baru (Kompas, Minggu (17/02)). 

Petrus Canisius menuliskan, tindak kekejaman Nazi Jerman yang dirasakan amat menyayat kehidupan fisik dan psikis Eric Weil selama 5 tahun, dengan tabah, sabar dan tidak banyak mengeluh dijalani Eric Weil.

“Di dalam tahanan dia mempunyai banyak waktu untuk merenungkan makna hidupnya. Muncullah pemikiran yang luar biasa.  Ia menemukan bahwa tanggung jawab sosial merupakan prasyarat penting untuk membangun kehidupan bersama yang damai. Tentu saja, kedamaian berseberangan dengan perang dan kekerasan,” tulis Petrus.

Lalu di dalam buku itu menurut Petrus, Weil menambahkan, berfilsafat adalah mencintai kebijaksanaan yang berarti menghayati nilai-nilai manusia sepanjang hidup di tengah dunia.

Terakhir, Petrus menuliskan, dengan mencintai kebijaksanaan yang terus menerus di tengah dunia, Weil yakin manusia akan semakin bertambah bijaksana, kritis, cerdas, dan semakin bermoral. Dengan demikian, perdamaian akan tercipta meskipun dunia dikotori oleh kejahatan.

Yang terakhir itu, tampaklah dengan terang—seperti juga dijelaskan Petrus dalam resensi itu, Eric Weil sangat dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf Yunani: Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Friedrich Hegel, juga Karl Marx. 

Memperjuangkan Nilai-nilai Kemanusiaan

Berbagai studi yang sudah sering dilakukan, selalu menyebut kekuasaan dan uang adalah salah satu akar terjadinya kekerasan dan kejahatan. Mengejar uang dan kekuasaan, menurut Buya Syafi’i Ma’arif adalah seperti meminum air lautan. Tak pernah mengilangkan dahaga, malah akan terus berkeinginan untuk mereguknya.

Seperti juga uang dan kekuasaan, sex juga mungkin seperti air lautan. Maka, kekuasan, uang, dan wanita sejak zaman purba selalu memegang kendali atas diri manusia. Namun peringatan atas “bahaya” harta, tahta dan wanita yang sudah dilakukan turun temurun sejak awal penciptaan manusia, tak pernah menyurutkan manusia untuk berhenti mengejarnya.

Berita-berita di media massa beberapa hari terakhir menyebutkan, ada pelaku suap yang ditangkap saat tengah asik masyhuk dengan wanita yang bukan pasangan resminya di kamar hotel. Ini semakin menegaskan bahwa di mana ada kekuasaan dan uang, maka di situ akan ada skandal.

Romo Agustinus Setyo Wibowo dalam sebuah kuliah filsafat di Komunitas Salihara April 2012 lalu, menyebutkan, manusia tidak pernah menginginkan kejahatan atau keburukan karena tiap manusia tahu bahwa kejahatan hanya memberikan keburukan kepadanya.
Apa yang disebut jahat, sering kali dilakukan orang justru karena ia menganggap hal tersebut sebagai baik. Dengan demikian, ketidaktahuanlah yang menjadi sumber kejahatan.

Namun, dalam konteks berita di atas, sangatlah terang bahwa peringatan akan dampak kejahatan yang dapat berakibat buruk terhadap diri si pelaku, tak mampu menghentikan seseorang untuk berbuat jahat.

Di zaman yang serba dinilai dengan materi ini, adalah hal absurd jika kita menyatakan tak butuh materi. Namun juga pada akhirnya, kualitas hidup seseorang seperti yang terungkap dalam resensi Petrus, tak bisa diukur dengan jabatan dan kekayaan. Melainkan dari konsistensi untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Maka, tanpa harus menjadi serigala atau macan, manusia sebenarnya bisa tetap menjadi manusia untuk mengalahkan keduanya…..

(Darussalam Jagad Syahdana, dalam gerimis di Minggunya 17 Februari 2013, Modernland, Kota Tangerang)  

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =

Trending