Connect with us

ESSAI

Menjulangnya Keadaban Bangsa

Published

on

Foto ilustrasi: Google.co.id

Gunung Nur berdiri tegak menjulang persis di sebelah kanan Mekah dari arah timur. Jaraknya 2 mil dari pusat kota. Lokasinya sulit dijangkau manusia. Hanya manusia yang diberi anugerah fisik gagah dan nyali teruji, serta tekad kuat, yang bisa menapakkan kaki di puncak gunung tersebut. (Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin, Shahih Al-Bukhari, hal 13)

Di sebuah malam, saat penanggalan jatuh pada 21 Ramadhan (sebelum tanggal Hijriah diberlakukan), bertepatan 10 Agustus 610 M. Goa Hira terbentang sepanjang 4 hasta di perut Gunung Nur yang perkasa, menjadi lokasi berlangsungnya peristiwa nubuwwah untuk pertama kalinya yang dialami Sayyidul awwalin wal akhirin shalallualaihiwassalam.

Malam itu adalah puncak dari laku uzlah (mengasingkan diri) yang telah dijalani selama sebulan oleh Rasulullah. Lewat laku uzlah ini, Sang Pemilik takdir telah menentukan tadbir (skenario), supaya pembawa risalah kebenaran ini memutus kontak dengan kesibukan duniawi untuk mempersiapkan diri mengemban amanah, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah.

Puncak uzlah itu ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama kali, sekaligus di ketinggian Gunung Nur ini, Jibril “melantik” Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib sebagai Nabi. Usia Rasulullah saat itu 40 tahun 6 bulan 12 hari menurut kalender Hijriah, atau 39 tahun, 3 bulan, 20 hari menurut kalender Masehi. (Ar-Rahiq al-Makhtum/Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, hal 82)

Yang lebih luar biasa kemudian, setelah peristiwa penting yang menandai peralihan zaman kegelapan menuju cahaya berlangsung di Gunung Nur, setan-setan tak bisa lagi mencuri berita-berita dari langit. Bintang-bintang yang terhampar tiba-tiba menjadi pelontar bagi setan yang masih mencoba mencuri-curi informasi.(Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Nihayah, hal 139)

Sampai pada titik ini, jelaslah ketinggian bukan sekadar soal posisi. Tapi, meninggi saja tak cukup. Tinggi menjadi sublim jika kemudian mampu membumi.

Dari ‘Barak’ Menuju Landmark

Dari kota sibuk yang dijuluki penyangga ibukota, sebuah entitas yang mengemban tugas luhur mencerdaskan umat hadir: STIE Muhammadiyah Tangerang. Semua aktivitas para pejuang di lembaga itu dipusatkan pada sebuah bangunan dua lantai yang berdiri membentuk persegi panjang.

Seorang tokoh muda pendidikan di Banten, yang juga aktivis sosial yang dikemudian hari menjadi motor penggerak nomor satu pada lembaga ini, DR. H. Ahmad Amarullah, M.Pd mengenang bangunan awal di lembaga tempatnya berjuang dengan sebutan barak-barak di tengah pertempuran.

Istilah barak, sepertinya memang tepat. Hari itu, Bangsa Indonesia baru genap dua tahun mengecap era baru setelah keluar dari masa otoritarianisme seiring tumbangnya Rezim Orde Baru yang hampir 32 tahun berkuasa di Indonesia.

Bangunan STIE Muhammadiyah Tangerang memiliki kaitan erat dengan peralihan zaman di republik ini. Hal tersebut bisa dilihat dari prasasti pembangunan gedung awal STIE Muhammadiyah Tangerang. Prasasti tersebut masih menempel kuat di dinding selatan kampus yang kini bernama Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

“Bismillahirrohmanirrohiim. Dengan rahmat Allah SWT, penggunaan Gedung Lantai I dan II STIE Muhammadiyah Tangerang, Banten, diresmikan tanggal 21 Rajab 1422 H/ 9 Oktober 2001 M oleh Ketua MPR RI, Prof. DR. HM. Amien Rais, MA,” begitu kalimat yang tertera pada prasasti.

Sosok Amien Rais dan pembaharuan demokrasi di Indonesia memang tak bisa dipisahkan. Karenanya, prasasti yang menempel di dinding kampus tak hanya dimaknai sekadar batu bertuliskan tinta emas, melainkan mercusuar dalam membangun manusia berkualitas.

Merujuk pada informasi dalam halaman daring resmi UMT, STIE Muhammadiyah Tangerang didirikan pada 1 Juni 1993 sebagai salah satu amal usaha milik persyarikatan Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan pengembangan (DIKTILITBANG) Muhammadiyah berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta No.1.A/ SK/B/1992 tertanggal 10 November 1992.

Seiring dengan berjalannya waktu, menyusul pula berdirinya STAI Muhammadiyah Tangerang tahun 2000, kemudian berdiri lagi STIKES Muhammadiyah Tangerang tahun 2004. Ketiga Amal usaha Muhammadiyah tersebut di bawah naungan dan milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang.

Pada Musyawarah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tangerang periode 2005-2010 merekomendasikan pendirian Universitas Muhammadiyah Tangerang, dengan terdapat kesepakatan antara pimpinan tiga Sekolah Tinggi Muhammadiyah yang telah ada untuk bergabung dalam mendirikan UMT. Ketiga lembaga tersebut yaitu STIEM, STAIM dan STIKES Muhammadiyah.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Proposal pendirian UMT mendapat respon positif dari Menteri Pendidikan Nasional dan pada tanggal 3 Agustus 2009 lahirlah SK Mendiknas RI Nomor 109/D/O/2009 tentang izin operasional UMT.

Serentetan tahap metamorphosis yang dialami UMT tak bisa lepas dari Sang Singa Podium dari Tangerang, almarhum DR H. Achmad Badawi, S.Pd, S.E, M.M. Tulisan ini dibuat, tepat tiga bulan setelah almarhum berangkat menuju keabadian. Semoga Allah melapangkan kuburnya, memaafkan segala kesalahan dan menerima segala amal ibadahnya, serta menempatkannya di SurgaNya. Aamiin.

DR. H. Amarullah yang menggantikan posisi almarhum, dalam setiap perbincangan yang menyangkut kebaikan almarhum selalu terlihat emosional. Begitu juga saat menyampaikan orasi Satu Dekade UMT di Kota Tangerang, Sabtu, 31 Juli 2019.

Dengan nada bergetar, Amarullah memaparkan peran-peran penting para pejuang di UMT termasuk sosok mentor yang juga sudah seperti ayah baginya, Ahmad Badawi.

Dalam dunia pendidikan di Tangerang, umumnya Provinsi Banten, nama Ahmad Badawi memang telah mengakar. Hampir seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk dunia pendidikan, terutama di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Dari atas podium, did hadapan seribuan umat, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah DR. Abdul Mu’tie, M. Ed, mengajak seluruh komponen Muhammadiyah dan UMT menyukuri perkembangan pembangunan yang pesat yang dialami UMT, terutama dalam 10 tahun terakhir ini.

“Kita bersyukur, terutama mengikuti dan melihat perkembangan UMT seperti yang tadi disampaikan rektor. Syukur adalah salah satu prasyarat untuk kita mendapatkan tambahan nikmat dari Allah dan salah satu faktor penting yang menjadi barometer (dari) apa yang sudah kita capai dari 10 tahun yang terakhir ini,” kata Abdul Mu’tie mengawali orasi Satu Dekade UMT, Sabtu, 3 Agustus 2019.

“Yang kedua, izinkan saya pada kesempatan ini, saya atas nama pribadi dan atas nama PP Muhammadiyah menyampaikan selamat kepada Bapak Rektor (UMT) beserta seluruh keluarga besar UMT atas prestasi yang dicapai selama kurun waktu, terutama 10 tahun terakhir,” sambungnya.

Menurut Abdul Mu’tie, selama satu dekade ini UMT telah menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang terus berkembang. Tidak hanya dari jumlah mahasiswa, tetapi prestasi-prestasi dalam berbagai bidang.

“Dan (memiliki) semangat yang sangat maju untuk bisa bersama-sama dengan seluruh komponen bangsa memajukan umat dan memajukan bangsa,” terangnya.

Dalam orasi tersebut, Abdul Mu’tie juga menyinggung soal kondisi UMT yang semula seperti barak, namun kini telah berubah karena memiliki gedung 12 lantai dan sedang menyelesaikan gedung 19 lantai. Gedung 12 dan 19 praktis menjadi simbol tahun didirikannya Muhammadiyah, yakni 1912 M.

“Jika gedung 19 lantai ini selesai (dibangun), saya kita UMT menjadi kampus Muhammadiyah tertinggi di Indonesia,” ucap Abdul Mu’tie.

Tokoh pendidikan nasional ini juga berharap, gedung yang menjulang dibarengi dengan semangat meningkatkan kemampuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di dalamnya.

“Menjulangnya gedung diikuti menjulangnya ahlak dan keadaban bangsa. Gedung 19 lantai (akan) menjadi landmark,” tuturnya.

Selamat Datang di Zaman Terbuka

Melquiades, seorang gipsi di Macedonia, Spanyol, pada Abad Pertengahan sekitar 1864, digambarkan sebagai sosok eksentrik di masanya oleh Gabriel Garcia Marquez dalam karya fenomenalnya, One Hundred Years of Solitude, sebuah karya peraih Nobel Sastra 1999.

Yang menarik dari sosok Melquiades–selain gayanya yang eksentrik–ternyata fenomena kekinian masyarakat dunia, dimana orang-orang dibuat nyaman dan dimanjakan oleh teknologi sudah diprediksi olehnya 1,5 abad yang lampau.

“Ilmu pengetahuan telah menghapuskan jarak. Dalam waktu dekat orang akan mampu melihat apa yang terjadi di mana saja di dunia ini tanpa perlu meninggalkan rumahnya,” kata Melquiades.

Sayang, Melquiades hanya berhenti pada prediksi-prediksi. Dia ternyata tak ditakdirkan memiliki kemampuan mengelaborasi. Dia awam dalam membaca tanda-tanda yang terbentang di alam semesta.

Jauh lebih penting untuk dibahas kemudian bukan sosok Melquiades dan ketepatan prediksinya, namun bagaimana lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki tanggungjawab dalam penyebaran ilmu pengetahuan merespons fenomena kekinian secara tepat, terukur, dan memiliki bobot keilmuan.

Semua kerja-kerja ilmiah itu, pada akhirnya harus hadir di tengah umat, menciptakan kualitas kehidupan umat menjadi lebih baik. Sebuah pesan Ilahiah yang diemban seluruh umat manusia melalui Sang Pembaharu, pembuka zaman kegelapan menuju cahaya, Muhammad SAW.

Senada, Abdul Mu’tie menggaris bawahi frasa landmark dengan tanda hitam tebal. Dia secara implisit ingin menekankan, menjulangnya gedung 1219 milik UMT tak sekadar simbol visual untuk mengindentifikasikan sesuatu di dalamnya secara fisik, namun jauh dari itu harus mampu menegakkan keadaban di tengah umat.

“Tidak hanya landmark yang merupakan achievement of our quality tetapi juga achievement of our civility, ” tegasnya.

Pesan luhur yang disampaikan Abdul Mu’tie sekaligus merepresentasikan prasyarat manusia unggul, manusia paripurna dalam perspektif Islam, yakni memiliki kesalehan secara vertikal sekaligus memiliki kesalehan horizontal. Inilah yang tak dimiliki Melquiades, sosok yang disebut di tulisan.

“Dalam rentang waktu 10 tahun ini dan juga dalam kepemimpinan muda yang saya lihat ini, mereka ini memiliki visi dan dedikasi yang luar biasa. Saya optimistis bahwa UMT ini akan bisa tampil bersama-sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah yang selama ini masuk top rank perguruan tinggi Muhammadiyah di tingkat nasional maupun internasional,” ucapnya.

UMT, lanjutnya, diharapkan tidak hanya mampu bersaing dari jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya. Jauh lebih penting, UMT juga harus mampu menunjukkan kualitasnya.

“Karena kalau kita lihat, persoalan kita sebagai bangsa adalah persoalan kualitas. Karena itu pendidikan harus memiliki orientasi yang senantiasa berkaitan dengan upaya kita meningkatkan kualitas bangsa,” terangnya.

Dalam orasinya, Abdul Mu’tie kemudian merujuk sebuah buku berjudul “Entrepreneurship Competitive Indeks”, dimana buku tersebut menempatkan Indonesia pada posisi 67 dari 125 negara di dunia yang dinilai memiliki daya saing.

Buku ini, jelasnya, mengukur bagaimana suatu bangsa memiliki daya saing dan memiliki kekuatan untuk terus berkembang dengan entrepreneurship. Kemudian, entrepreneurship dalam dalam kaitan bangsa berdaya saing dan berkembang diukur dengan dua output, yakni general knowledge competitiveness dan professional competitiveness.

General knowledge competitiveness berkaitan dengan bagaimana sebuah bangsa, sebuah negara, memiliki masyarakat yang knowledgeable alias masyarakat yang serba tahu, masyarakat literer, terutama menyangkut bidang keilmuan secara umum.

General knowledge menjadi dasar bagi siapa pun terutama bagi yang berkaitan dengan profesi-profesi yang membutuhkan pengetahuan yang luas. Bahkan general knowledge menjadi prasyarat dalam kaitannya dengan leadership.

General knowledge memungkinkan orang untuk memiliki berbagai macam informasi yang beragam dari berbagai disiplin keilmuan. Kekayaan informasi itu, pada akhirnya akan menentukan orang itu mampu bersaing dalam dunia global yang semakin terbuka. General knowledge itu membutuhkan orang yang serba tahu.

Selain soal general knowledge, bangsa berdaya saing juga harus dihuni masyarakat yang memiliki professional skills yang berkaitan, bagaimana generasi muda memiliki keterampilan khusus dalam dunia modern saat ini, yakni keterampilan khusus yang berkaitan dengan masa depan yang dia tidak semata-mata bagaimana menguasai teknologi. Tetapi ia juga memiliki kemampuan khusus dalam bidang tertentu.

“Karena itulah maka lembaga pendidikan tinggi harus menyiapkan secara sungguh-sungguh, bagaimana agar lulusan-lulusan perguruan tinggi mampu bersaing dalam dunia global yang semakin terbuka,” tegasnya.

Globalisasi saat ini, selain memberikan tantangan-tantangan–yakni bagaimana warganya bisa bertahan dalam dunia yang semakin terbuka–pada sisi lain juga memberikan peluang untuk menjadikan manusia-manusia yang mampu menjelajahi dunia.

Abdul Mu’tie menyebutkan fenomena kekinian yang sedang terjadi di Indonesia terkait pembahasan peraturan ketenagakerjaan tentang tenaga kerja asing yang dipastikan akan segera terbit dan diberlakukan di Indonesia.

Menurutnya, melalui peraturan tersebut, bidang-bidang yang terbuka bagi tenaga kerja asing bukan hanya bidang-bidang yang terkait dengan industri dan ketenagakerjaan yang membutuhkan skill tingkat tinggi, tetapi juga bidang-bidang yang berkaitan dengan pendidikan.

Dalam rancangan peraturan menteri ketenagakerjaan tersebut, dimungkinkan kepala sekolah dan guru dari tenaga kerja asing dari luar negeri. Dan salah satunya jabatan rektor termasuk yang mungkin diisi tenaga kerja asing luar negeri.

“Artinya apa? Sekarang orang tidak hanya cukup dengan mengandalkan ijazah. Orang tidak hanya cukup mengandalkan gelar. Dan kalau kita berpikir bagaimana kita bisa bersaing dalam dunia global, tentu kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan dua hal tadi (yaitu) general knowledge dan professional skills adalah menjadi sebuah keniscayaan,” paparnya.

Dalam dunia yang terbuka, bangsa Indonesia tidak bisa lagi protective dengan melarang tenaga-tenaga kerja asing masuk ke tanah air karena hal tersebut merupakan bagian dari internasional development yang tidak bisa ditolak.

Negara memang harus melindungi warga negaranya karena memang Indonesia harus berdaulat. Tetapi dalam konteks dunia global, bangsa Indonesia harus mampu bersaing.

Kunci semuanya itu ada pada pendidikan tinggi yang dituntut mampu menggabungkan kemampuan-kemampuan ini sehingga masalah yang sedang dihadapi–terutama dalam konteks relasi perguruan tinggi dengan ketenagakerjaan.

Banyak data yang menyebutkan pengangguran tertinggi terdapat pada lulusan perguruan tinggi negeri, bisa dimaknai dua hal; pertama, dunia perguruan tinggi belum mampu mengisi dunia kerja yang sesungguhnya terbuka, dimana dunia kerja membutuhkan kemampuan yang tinggi tapi perguruan tinggi belum mampu mengisinya.

Kedua, lapangan kerja yang tersedia sangat mungkin memang lebih banyak disediakan untuk kelompok-kelompok yang disebut kelompok-kelompok yang tidak membutuhkan kemampuan khusus, sehingga banyak lulusan perguruan tinggi pada akhirnya tidak melamar menggunakan ijazah perguruan tinggi tapi menggunakan ijazah SLTA.

Manusia Paripurna

George Orwell dalam Animal Farm yang diterjemahkan Binatangisme H. Mahbub Djunaidi memuat satire yang menohok soal bobroknya moralitas manusia. Dalam karya itu diceritakan kekuasaan membuat manusia buta tuli, hingga pada tingkat yang akut tak bisa dibedakan lagi dengan babi.

Saking buruknya watak manusia, binatang-binatang yang merencanakan kudeta terhadap kekuasaan manusia dalam cerita itu, mewanti-wanti kaum binatang jika kudeta sukses agar tak meniru watak manusia yang rakus, mencuri, dan korupsi.

Kasat mata, fenomena bagaimana moralitas yang terus terdegradasi menghiasi pemberitaan di media massa hari-hari ke belakang ini. Kita dengar, ada perkawinan sedarah terjadi, ada bapak yang tega merudapaksa anaknya hingga hamil, ada orang yang demi sebuah handphone tega membunuh satu keluarga yang di dalamnya ada seorang bayi tak berdosa. Sementara, kita saksikan juga di televisi koruptor yang merampok duit rakyat masih semringah dan melambaikan tangan di layar televisi.

Rasa malu yang sesungguhnya bagian dari keimanan, seolah telah tercerabut dari akar perasaan paling dalam manusia. Inilah tugas pendidikan sesungguhnya, mengembalikan manusia pada khittah sebagai manusia yang tercerahkan oleh ilmu. Karena kualitas keimanan sesungguhnya bergantung dari ilmu. Pendidikan harus bisa membebaskan manusia dari penderitaan kehidupan yang semuanya bermula dari ketidaktahuan.

Sampai pada titik ini, sebuah satire dalam sajak Si Burung Merak terasa relevan sekali; “…Apalah artinya berpikir jika jauh dari derita kehidupan….Aku bertanya padamu?..”

Sesungguhnya jawaban atas semua itu telah tersedia pada kisah umat terdahulu. Umat juga sudah diberi garansi akan selamat jika tegak lurus meneladani Rasulullah.

Kita lihat, bagaimana ketakutan, ketidakberdayaan, juga ketidaktahuan yang kemudian disusul sikap penyerahan diri secara total, menjadi latar dalam peristiwa nubuwwah yang dialami Rasulullah.

Fragmen penting itu digambarkan Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari. Bagaimana saat itu Rasulullah sampai dua kali mengalami kesulitan mengikuti perintah Jibril.

“Malaikat itu berkata, ‘bacalah’!” kata Rasulullah. Lalu Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Rasulullah berkata lagi, “Malaikat itu mendekatiku dan memelukku hingga membuatku kepayahan.”

“Kemudian ia melepaskan pelukannya lalu berkata lagi, ‘bacalah’! Aku tak bisa membaca,” kata Rasulullah.

Setelah tiga kali Rasulullah menjawab dengan perkataan tersebut, kemudian Jibril mengatakan kepada beliau, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu lah yang Maha Mulia.” (QS. Al Alaq: 1-5).

Jibril, kata Ibnu Hajar, meminta Rasulullah tidak membaca dengan kekuatan dan pengetahuannya, melainkan membaca dengan pertolongan dan inayah. Dialah yang akan mengajari, sebagaimana Dia menciptakan Rasulullah dari segumpal darah dan melindungi dari gangguan setan sejak Rasulullah masih kecil. Dialah yang akan mengajari umat Rasulullah hingga dapat menulis dengan pena, padahal sebelumnya mereka ummi.

Kita yakin, ada rahasia besar yang diungkap dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah. Fasa ‘baca’, ‘mengajar’, dan ‘pena’ semuanya adalah elemen ilmu. Dengan ilmu kedudukan seorang hamba bisa menjadi tinggi. Tapi sekali lagi, meninggi saja tak cukup jika tak mampu membumi.

Dalam fragmen yang lain digambarkan, setelah menerima wahyu yang pertama itu, dalam kondisi ketakutan, Rasullah menemui istrinya Khadijah binti Khuwailid Radiallahuanhu. Beliau minta diselimuti. Kemudian, menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

“Aku mengkhawatirkan keselamatan diriku,” kata Rasullah kepada Khadijah.

Khadijah kemudian berkata, “Demi Allah, jangan takut! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali silaturahmi, suka membantu orang yang membutuhkan pertolongan, suka memberi orang fakir, memuliakan tamu dan suka menolong dalam hal kebenaran.”

Pesan eksplisit yang dapat kita petik dari kalimat Khadijah ini, kata Ibnu Hajar, bagaimana Rasullah telah memiliki sifat mulia sebelum menerima wahyu. Sifat-sifat tersebut sungguh syarat nilai-nilai humanisme.

Syekh Utsaimin menjelaskan, jika manusia memiliki sifat tersebut, maka dia tergolong orang bertkawa, karena akan disiapkan baginya jalan yang mudah. Dan itulah kabar gembira bagi manusia.

Jelaslah, kesalehan yang sempurna bagi manusia adalah kemampuan melaksanakan kesalehan vertikal sekaligus kesalehan horizontal. Meninggi sekaligus membumi.

Penulis:

Darussalam, jurnalis tinggal di Tangerang. Tulisan disampaikan dengan judul asli ‘Gedung 1219 UMT dan Menjulangnya Keadaban Bangsa’ untuk Buku Satu Dekade UMT Membangun Umat.

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending