Connect with us

Berita Terbaru

Kekeringan Ancam Para Petani di Lebak, DPRD Minta Pemerintah Tak Tinggal Diam

Published

on

FOTO ILUSTRASI. Kekeringan melanda 553 hektar sawah di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Lebak- Puluhan hektare sawah di Kabupaten Lebak terancam gagal panen. Penyebabnya, karena minimnya pasokan air alias kekeringan.

Dari data yang diterima BantenHits.com, ancaman kekeringan mulai melanda para petani di Blok Cikamunding, Kecamatan Cilograng dan Warunggunung. Alhasil, sawah yang mereka garap terancam gagal panen.

Anggota DPRD Lebak, Dian Wahyudi meminta pemerintah daerah tak tinggal diam. Dinas Pertanian dan Perkebunan harus segera mengantisipasi ancaman kekeringan yang melanda areal pertanian warga.

“Kami menerima laporan beberapa petani mengeluhkan, karena areal pertanian padi sawahnya itu mulai kekeringan,” kata Dian Wahyudi, anggota DPRD Kabupaten Lebak, Jumat, 14 Agustus 2020.

BACA :  Sering Rusak, Alasan Pemkab Pandeglang Beli Mobil Mewah Baru Rp550 Juta  

Pemerintah daerah harus secepatnya dapat mengantisipasi ancaman kekeringan agar tanaman padi bisa dipanen dan memenuhi ketersedian pangan.

Selama ini, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai sektor pertanian menjadikan lokomotif penyelamat masyarakat ditengah resesi pandemi COVID-19.

Karena itu, Dian mendesak pemerintah daerah segera melaksanakan antisipasi kekeringan dengan menyediakan bantuan pompa maupun normalisasi sungai dan jaringan irigasi.

“Kami berharap produksi pangan bisa diselamatkan melalui antisipasi kekeringan itu,” kata ketua DPD PKS Lebak.

Terpisah Ketua Kelompok Multi Tani, Ali Mukti di Kampung Cipasung, tepatnya di blok pesawahan Desa Sukarendah membenarkan bahwa sawah garapannya terancam gagal panen.

“Ancaman kegagalan panen sudah jelas terlihat dari bentuk padinya. Padahal, masa tanam yang diterapkan kami sudah sesuai hitungan dan perencanaan yang matang,” katanya.

BACA :  Tak Tepat Sasaran, Dinsos Pandeglang Verifikasi Penerima Bantuan Sosial

Dijelaskan Ali, faktor penyebab gagal panen, tentu akibat minimnya pasokan air. Terlebih, blok pesawahan di blok Cipasung tidak memiliki sumber mata air yang baku dan hanya mengandalkan tadah hujan.

“Jika kami terus mengandalkan pasokan air dari tadah hujan untuk jangka panjang pada masa tanam berikutnya. Jelas, tidak akan memperoleh hasil sesuai harapan. Yang ada merugi,” ungkapnya.

Dia berharap, semoga dinas terkait mengupayakan kebutuhan sarana penunjang pasokan air di area pesawahan seluas 15 hektar untuk jangka panjang. Mengingat, para petani disini menginginkan tiga kali panen dalam satu tahun.

“Saat ini kami sangat membutuhkan sarana saluran irigasi berikut pompanya,” ujarnya.

Editor: Fariz Abdullah

BACA :  Pelajar SMAN 2 Balaraja Tewas di Sungai Cimanceuri, Ustaz di Lokasi Sempat Lakukan Upaya Ini



Terpopuler