Connect with us

Berita Utama

Sisa-sisa Duka Akibat Bencana Banjir Serang; Siswa SDN Keganteran Harus Jalan 10 KM Tiap Hari, Tegakah?

Published

on

Jembatan beton sepanjang 22 meter di Kampung Angsana, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang yang roboh diterjang banjir Selasa, 1 Maret 2022 hingga saat ini masih dibiarkan rusak. Akibatnya, siswa SDN Keganteran harus jalan kaki 10 KM setiap hari. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Banjir dahsyat yang menyergap Kota Serang dan sekitarnya pada Selasa, 1 Maret 2022 masih menyisakan luka.

Anak-anak sekolah siswa SDN Keganteran, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, adalah salah satu yang hingga saat ini masih merasakan dampak banjir.

Bagaimana tidak, sejak banjir merobohkan jembatan beton sepanjang 22 meter di Kampung Angsana, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, para siswa SDN Keganteran harus berjalan kaki menuju sekolah sejauh 5 kilometer. Berarti jika pulang pergi, setiap harinya mereka harus berjalan kaki 10 kilometer.

BACA :  Mau Didemo Lagi soal UMK, Wahidin Halim Cabut Laporan Buruh yang Duduki Ruang Kerja Gubernur

Budi (35), warga sekitar mengatakan, jambatan tersebut menghubungkan antara Kampung Angsana dan Kampung Pemindangan.

“Jembatan keterjang banjir jam 12.00. Tinggi air dari Kali Cibanten 6 meter, kalo dari rumah ngerendem 2 meter,” ujarnya kepada awak media saat ditemui di lokasi, Selasa 15 Maret 2022.

Menurutnya, saat masih bisa digunakan, jembatan itu hanya bisa dilalui pejalan kaki dan roda dua. Jembatan merupakan akses utama warga menuju jalan raya dan ke sekolah.

“Hanya bisa digunakan buat motor saja buat anak sekolah, kalo mobilmah engga bisa masuk,” paparnya.

Akibat hancurnya jembatan tersebut, warga dan anak sekolah harus memutar sejauh 5 kilo menuju jalan raya dan SDN Keganteran.

BACA :  Polisi Kembali Bawa Delapan Kantung Jenazah Korban Kebakaran Gudang Petasan

“Ada sebagian wargamah yang kerjanya deket nekat lewat kali aja nyeberang di atas bongkahan bambu, karena belum ada perbaikan,” jelasnya.

Patauan di lokasi, terlihat masih ada sisa sampah bercampur bambu beserta akarnya masih menutupi area sekitar jembatan, reruntuhan beton jembatan masih mangkrak belum dievakuasi.

“Masyarakat sendiri yang bakar sampah dan gotong royong bersihinnya. (Banyak puing reruntuhan jambatan) harus pake alat berat,” terangnya. 

Dia berharap agar jembatan bisa segera kembali dibangun, namun sampai saat ini tidak ada penanganan khusus meski robohnya jembatan sudah dilaporkan ke dinas terkait.

“harapannya ingin dibangun lagi jembatannya,” harapnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler