Connect with us

OPINI

Keramat

Published

on

Anggota Komisi IV DPRD Lebak, Dian Wahyudi. (Dok. Pribadi)

BantenHits- Ada yang tidak biasa diperhelatan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kabupaten Lebak hari ini, yaitu dengan kehadiran Nanang, demikian nama yang saya dengar, salah satu performance yang dihadirkan oleh panitia Mukerda hari ini.

Di samping penampilan pembacaan Puisi dan Lagu Religi. Nanang menghentak kesadaran saya, utamanya tentang tema yang diusung oleh lagu yang dibawakan oleh beliau, yaitu tentang sosok mulia seorang Ibu.

Genre dangdut, dengan judul Keramat karya Bang Haji Rhoma Irama tiba-tiba saja menjadi syahdu dan meresap olah suara Nanang.

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya.

Diketahui, “Keramat” merupakan lagu dangdut yang dinyanyikan sang Raja Dangdut, Rhoma Irama. Berkarya sejak 1958 sampai sekarang, nama Rhoma Irama tidak asing didengar oleh masyarakat umum berkat karya-karyanya yang tidak hanya di dunia musik, tetapi juga di dunia perfilman.

BACA :  Etika dan Aktivis

Dibalut ilustrasi visual dalam layar lebar, yang bercerita tentang ketelatenan sosok ibu yang membantu anaknya yang sakit tidak dapat berjalan. Setiap hari dilatih dan berlatih berusaha berjalan kembali, Ibunya terus memotivasi, sampai kemudian dapat berjalan kembali dan berjingkrak kegirangan. Namun… Disaat yang sama, sang Ibu, ternyata, mungkin kelelahan kemudian ditaqdirkan meninggal dunia.

Menjalani hari-hari yang berat, sosok Ibu terus senantiasa membersamai kita. Senantiasa meyakinkan, bahwa tidak ada yang berat, yang ada hanya keberatan, keberatan menanggung beban berat.

Ada sebuah ungkapan yang saya suka : KAHAMPANGAN, ringankanlah. Kita tidak pernah tahu berat atau ringan, akankah menjadikan kita menjadi insan bersabar atau bersyukur…

BACA :  Mentalitas Pemenang Pemilu 2014

Sabar dan syukur begitu akrab ditelinga kita, namun kadang kita harus menunduk terpekur dan takzim menginsyafi diri untuk hanya sekedar memahaminya.

“Benturan pertama” memberikan kita pelajaran akan arti sebuah makna kehidupan : Ikhlas.
Sedapat mungkin berikan seulas senyum, setelah kita tahu, bahwa jalan ini walaupun berliku dan terjal ternyata memberi energi dahsyat, ibarat ikan yang bergumul di air deras, dia cepat besar dan sehat karena ditempa alam.

Ah… Sosok Ibu kebanyakaan memberikan pengaruh luar biasa, berkesan dan mendalam.

Dalam kehidupan, sesungguhnya, setiap kita dapat saling memberi pengaruh, selama kita berinteraksi dengan orang lain.

Berpulang kepada kita, keteladanan seperti apa yang akan berkesan untuk orang lain.

Motivasi seperti apa yang dapat memberikan daya ungkit positif. Seseorang menjadi semakin terpuruk atau lebih berdaya, tergantung sugesti apa yang menyebabkan seseorang itu untuk bangkit dan berubah.

BACA :  Jasmerah Bung Karno, Nasionalisme dan Generasi Muda

Dari pada terus mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Walau kadangkala lilin telah berkorban banyakpun sampai dirinya terbakar, bisa jadi selalu saja ada yang mencibir.

Jadilah orang yang berpikir terbuka dan memberi amal positif, memotivasi, bahkan hanya sebesar biji sawi sekalipun.

Mengambil pelajaran dan berkah dari pengorbanan yang luar biasa dari sosok seorang Ibu tidak akan pernah habisnya.

Mukerda PKS Lebak yang mengusung tema Terus Melayani dan Membela Rakyat dengan Lagu Keramat Bang Haji Rhoma sepertinya seolah memberi kesan mendalam bahwa, membela dan melayani harus tanpa pamrih.

Buka pikiran dan wacana, dengan sebanyak mungkin sinergi. Tulus mendengar dan menerima kekurangan. Kejar jika itu membuat Bahagia dan jalan menuju Perubahan.

Bekerja saja, selanjutnya Allah SWT yang memantaskan. Wallahu’ alam.

Penulis: Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler