Connect with us

METROPOLITAN

Bara Konflik Masih Nyala di Tigaraksa

Published

on

Tangerang, Banten Hits.com– Kapolsek Tigaraksa Kompol Parmono menyatakan, pihaknya sama sekali tak pernah menerima dua wanita pasien jiwa yang kabur dari panti rehabilitasi Pondok Kasih, Desa Jambe, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Banten.

Pernyataan kapolsek ini terkait informasi yang beredar di kalangan warga, yang menyebutkan, dua wanita pasien jiwa yang kabur dan membuat pengakuan menjadi korban kekerasaan dan tindak asusila pengurus panti, pernah dibawa warga untuk membuat laporan.

Tangerang, Banten Hits.com– Kapolsek Tigaraksa Kompol Parmono menyatakan, pihaknya sama sekali tak pernah menerima dua wanita pasien jiwa yang kabur dari panti rehabilitasi Pondok Kasih, Desa Jambe, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Banten.

Pernyataan kapolsek ini terkait informasi yang beredar di kalangan warga, yang menyebutkan, dua wanita pasien jiwa yang kabur dan membuat pengakuan menjadi korban kekerasaan dan tindak asusila pengurus panti, pernah dibawa warga untuk membuat laporan.

“Selama lima bulan saya bertugas di sini, kami belum pernah menerima dua wanita pasien jiwa yang dibawa warga,” jelas Parmono.

BACA :  Begini Pesan yang Ingin Disampaikan Lewat Tradisi Keramas Massal di Kota Tangerang

Parmono juga menegaskan, informasi yang menyebutkan bahwa ada dua wanita pasien jiwa yang menjadi korban kekerasan dan tindak asusila pengurus panti adalah mengada-ada.

Pernyataan Parmono tersebut jelas sangat bertentangan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ketua MUI Desa Jambe Ahmad Kosasih Sohib. Kosasih sebelumnya mengatakan, setelah warga mendapat pengakuan dari dua wanita pasien jiwa yang mengaku jadi korban tindak asusila, warga kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polsek Tigaraksa.

“Karena warga tak bisa jadi pelapor, polisi menyarankan agar keluarga korban yang melapor. Waktu itu kedua pasien itu ditelusuri keluarganya. Ada yang di Cibadak (Tangerang), ada juga yang di Cempaka Putih (Jakarta). Tapi kasusnya tidak terdengar lagi,” kata Kosasih.

Lebih lanjut Kosasih juga menjelaskan, selain karena emosional warga yang mendengar pengakuan dua wanita pasien jiwa tersebut, warga di sekitar panti juga kesal dengan tindakan Simon yang kerap menggelar acara keagamaan di tempat tersebut.

BACA :  PT Pelindo II Bagikan 1.000 Paket Sembako Murah di Cilegon

“Di panti tersebut pada hari tertentu banyak orang luar mengikuti kegiatan keagamaan,” jelas Kosasih.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, peristiwa kaburnya dua wanita pasien jiwa di panti rehabilitasi Pondok Kasih yang dikelola Simon Nunay (35), telah memicu aksi unjuk rasa warga Kampung Daraham, Desa Jambe, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (15/03/2013) lalu.

Namun, pascaunjuk rasa tersebut, bara perselisihan masih menyala di antara pengelola yayasan,  engan warga sekitar yang menginginkan pemilik yayasan angkat kaki dari tempat tersebut.

Sabtu (16/03/2013) kemarin, Simon Nunay menyatakan, dirinya tidak akan pergi meninggalkan tempat tersebut seperti desakan warga saat unjuk rasa. Alasannya menurut Simon, dirinya punya tanggungjawab terhadap sekitar 30 pasien jiwa yang kini sedang menjalani pengobatan di tempatnya.

“Saya kan berhak untuk tinggal di mana saja. Kalo saya harus pergi membawa pasien jiwa ini ke dinas sosial, mereka pasti bilang, kamu kan sudah saya kasih rekomendasi untuk urus pasien jiwa itu,” kata Simon.

BACA :  Syafrudin Targetkan Pembangunan di Kota Serang Tuntas dalam Empat Tahun

Simon juga membantah tudingan warga yang menyatakan, pihaknya melakukan tindakan asusila dan kekerasan terhadap pasiennya. Tudingan itu menurut Simon tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Saya bukan satu hari dua hari tinggal di sini. Saya adaptasi dengan lingkungan sekitar. Saya sudah 8 tahun tinggal di sini. Saya bukan penjahat. Saya hidup bermasyarakat, bahkan dampaknya saya tinggal di sini bisa menolong manusia,” tegas Simon lagi.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Jambe Ahmad Kosasih Sohib menegaskan, sesuai dengan surat pernyataan yang dibuat di hadapan warga saat unjuk rasa, Simon diberi waktu tiga hari untuk angkat kaki dari desa tersebut.

“Jika dalam waktu tiga hari ternyata Simon masih berada di yayasan tersebut, maka kami tidak bertanggungjawab dengan emosional warga,” tegas Kosasih. (Rus)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler