Connect with us

ESSAI

Kedegilan Pemerintahan dan Kelompok yang Mengaku Wartawan

Published

on

Teman ideal bagi pemimpin yang berorientasi pada kekuasaan, adalah wartawan yang hanya berpikir kesenangan. Maka, formasi keduanya akan saling melengkapi untuk menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya harus mereka emban.

Kalimat pembuka di atas, diinspirasi pada sebuah fakta yang penulis temukan di lingkungan penulis tinggal. Kelompok elit yang mengaku menyebut diri wartawan, sudah tak mampu “ereksi” ketika menyaksikan kegetiran di depan mata. Sebuah peristiwa kemanusiaan hanya disikapi dengan olok-olok yang baru berkesudahan, setelah orang yang diolok-olok masuk dalam liang kuburan.

Kepongahan yang sama ditunjukkan oleh elit pemerintahannya. Mereka nyaman menggunakan anggaran yang semangatnya sudah jauh dari pelayanan.

Teman ideal bagi pemimpin yang berorientasi pada kekuasaan, adalah wartawan yang hanya berpikir kesenangan. Maka, formasi keduanya akan saling melengkapi untuk menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya harus mereka emban.

Kalimat pembuka di atas, diinspirasi pada sebuah fakta yang penulis temukan di lingkungan penulis tinggal. Kelompok elit yang mengaku menyebut diri wartawan, sudah tak mampu “ereksi” ketika menyaksikan kegetiran di depan mata. Sebuah peristiwa kemanusiaan hanya disikapi dengan olok-olok yang baru berkesudahan, setelah orang yang diolok-olok masuk dalam liang kuburan.

Kepongahan yang sama ditunjukkan oleh elit pemerintahannya. Mereka nyaman menggunakan anggaran yang semangatnya sudah jauh dari pelayanan.

Maka, dalam kondisi wartawan yang kehilangan kewajiban menularkan nilai kemanusiaan, pemangku pemerintahan yang haus kekuasaan, akan dengan mudah menghalau laju pasukan “anjing penjaga” ini.

Dengan iming-iming pelesiran atau bagi-bagi kue kekuasan, maka sekumpulan pekerja yang mestinya hanya loyal kepada publik ini, akan manut dan kompak menjadi pasukan “yes man”.

Lalu, jika penyampai suara sudah tak berani bersuara, harus menyampaikan suara kemana lagi para kaum papa yang tak punya suara?? Jawabannya, suara-suara rintihan kaum pinggiran yang menahan sakit akut, akan teredam kesombongan rumah sakit yang termakan program kosmetik pemerintah: manis diucapkan, tapi pahit pada tataran pelaksanaan.

Jawaban lainnya adalah, alih-alih menjadi penjaga penggunaan anggaran rakyat, para kelompok elit yang mengatasnamakan pekerja intelektual ini malah beramai-ramai menggerogoti anggaran publik.

Tengoklah pada anggaran di instansi-instansi pemerintahan atau BUMN/ BUMD di sekitar kita. Anggaran tiap tahun dikucurkan untuk kegiatan yang sedikitpun jauh dari manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Maka, wartawan yang harusnya menjadi penyampai aspirasi rakyat, resmi mempertontonkan kedegilan di Republik ini.

Mereka ongkang-ongkang kaki di menara gading kekuasaan. Mereka lupa ada suara-suara yang tak mampu bersuara terhalang tembok eksklusivitas yang mereka bangun bersama.

Sampai di sini, penulis teringat bait sajak almarhum WS Rendra, “Sajak Sebatang Lisong”. “…. apa arti berpikir jika jauh dari kehidupan..//”  Mereka yang mengatasnamakan wartawan dan pemerintahan adalah kelompok berpikir itu. Lalu di mana bukti mereka berpikir jika mereka tak mampu menahan keinginan untuk menggunakan anggaran yang semestinya hanya untuk kepentingan rakyat?

Peristiwa mutakhir di negeri ini pelan-pelan menjadi pembukti. Bagaimana orang yang terobsesi menumpuk kekayaan dengan langkah-langkah yang koruptif, tak pernah mampu menikmati hasilnya dengan nyaman di hari tua.

Kita lihat misalnya Djoko Susilo. Bagaimana aset dan harta kekayaan yang dia tumpuk tak mampu dia nikmati. Alih-alih menikmati, kini dia harus kehilangan segalanya: harga diri, juga kekayaan yang dia tumpuk sedari dini.

 Tak mudah memang untuk menghalau hasrat menguasai kekayaan dan kekuasaan. Tapi, bukankah ukuran sukses seorang manusia adalah diukur sejauh mana manusia yang bersangkutan mampu memberikan manfaat untuk sesama manusia? Lalu, untuk apa menumpuk harta dan melanggengkan kuasa jika jauh dari manfaat untuk sesama?

Semoga kita semua tergolong sebagai kelompok manusia yang mampu menahan hasrat untuk menumpuk kekayaan dan melanggengkan kekuasan, jika itu semua malah menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan….

 *** Catatan ini adalah koreksi untuk pribadi penulis yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis.

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − 8 =

Trending