Connect with us

METROPOLITAN

Hadiri HAB, Iti: Agama Unsur Perekat Integrasi Nasional

Published

on

Banten Hits – Agama tak bisa dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Mendapat kedudukan terhormat, agama menjadi salah satu sumber pembentukan hukum di Indonesia dan menjadi ruh kehidupan bangsa sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Hal tersebut dikatakan Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, saat menghadiri Hari Amal Bakti (HAB) ke 71 Kementerian Agama (Kemenag), di Alun-alun Rangkasbitung, Selasa (3/1/2017).

“Agama merupakan sumber kekuatan kita meraih kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan nasional, dan menjaga keutuhan NKRI,” kata Iti.

Menurutnya, tugas Kemenag sangat mulai karena menentukan nasib bangsa. Kesatuan bangsa akan terpelihara secara kokoh dan tak mudah dipecah. Hal ini akan sangat bergantung pada kebijakan dan kecakapan para aparatur di lingkungan Kemenag.

BACA :  Isu Plagiasi Tak Berpengaruh, Sholeh Hidayat Kembali Pimpin Untirta

“Penegasan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai falsafah dasar kehidupan bernegara pada pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 mengandung makna, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa memerlukan tuntunan Tuhan,” terang Iti.

Ia menjelaskan, setiap agama yang diyakini dan diamalkan oleh umatnya masing-masing harus menjadi unsur pembentuk nation and character building di tengah bangsa Indonesia yang majemuk.

“Seluruh umat beragama harus menyadari dan disadarkan bahwa nilai-nilai agama merupakan unsur perekat integrasi nasional,” kata Iti.

“Toleransi dan kerukunan bukan milik satu kelompok agama saja, tetapi harus menjadi milik semua golongan dan berlaku
untuk semua pemeluk agama. Saling menghormati, dan saling menghargai identitas keyakinan antar umat beragama harus terus dijaga dalam upaya melindungi keutuhan NKRI,” tegas Iti.

BACA :  Dinas PU Terjunkan Perjaka Gesit Bersihkan Rumput di Pinggir Jalan

Iti juga membacakan sabutan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

“Salah satu pejuang kemerdekaan dan tokoh pendiri Republik Indonesia, H. Agus Salim dalam tulisannya pada tahun 1950 berjudul “Kementerian Agama dalam Republik Indonesia” menjelaskan benang merah politik agama di Republik Indonesia yang berbeda dengan politik di masa kolonial,” tuturnya.(Nda)



Terpopuler