Connect with us

ESSAI

Kampung Budaya

Published

on

Saya bukanlah mahasiswa kutu buku yang setiap hari selalau menenteng-nenteng buku kemana-mana dan membacanya, saya juga bukan seorang penulis dengan kumpulan sajak-sajak nan indah ataupun karya-karya cerpen dan novelnya, saya hanya seorang mahasiswi yang sedang giat untuk belajar menulis. Pada saat salah satu panitia dari rumah dunia mengumumkan ada kegiatan di rumah dunia, Ciloang Serang yang bertemakan “Kampung Budaya” saya sangat tertarik, namun ketika diberitahu salah satu syarat untuk mengikuti kegiatan tersebut adalah mengirimkan satu buah cerpen dan tiga buah puisi, gairah saya untuk mengikuti kegiatan tersebut menciut.

Saya bukanlah mahasiswa kutu buku yang setiap hari selalau menenteng-nenteng buku kemana-mana dan membacanya, saya juga bukan seorang penulis dengan kumpulan sajak-sajak nan indah ataupun karya-karya cerpen dan novelnya, saya hanya seorang mahasiswi yang sedang giat untuk belajar menulis.

Pada saat salah satu panitia dari rumah dunia mengumumkan ada kegiatan di rumah dunia, Ciloang Serang yang bertemakan “Kampung Budaya” saya sangat tertarik, namun ketika diberitahu salah satu syarat untuk mengikuti kegiatan tersebut adalah mengirimkan satu buah cerpen dan tiga buah puisi, gairah saya untuk mengikuti kegiatan tersebut menciut.

Saya suka menulis puisi, tapi saya tidak pernah menulis cerpen, ditambah lagi kami hanya diberi waktu satu hari untuk mengirimkan karya kami. Ada kebimbangan yang menggelayuti fikiran saya, antara akan membuat karya tersebut atau tidak. Namun, karena saya mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk bisa melihat rumah dunia dan bertemu dengan mas Gol A Gong, seorang penulis yang sangat luar biasa, saya beranikan untuk menulis walaupun saya tahu tulisan saya jelek, karena akan dipilih karya yang terbaik dan akan dibukukan.

Satu hal yang menjadi motivasi saya adalah, saya tidak akan terlalu berharap untuk bisa karya saya dibuku kan, yang saya harapkan adalah saya bisa pergi ke rumah dunia dan bertemu dengan mas Gol A Gong. Akhirnya, sayapun berhasil menjadi salah satu dari 100 anggota Kampung Budaya yang diadakan dari tanggal 8-10 November tersebut.

Dengan semangat menuju Kota Serang, saya dan teman-teman bangun jam 04.00 WIB untuk mempersiapkan pemberangkatan. Kelas menulis Kedai Proses mengirimkan 8 orang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kami berangkat dari Rangkasbitung pada pukul 06.30 WIB, dan sampai di Ciloang, Serang sekitar pukul 08.00 WIB. Dengan ukuran mobil yang sangat sempit dan jumlah kursi yang seharusnya untuk 3 orang, kami paksakan berdesak-desakan di dalam mobil dengan jumlah 5 orang duduk dikursi belakang. Tapi semua rasa pegal kami terbayar lunas ketika untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di rumah dunia.

Area lingkungan yang sangat luas, dengan ruang autorium yang luas, halaman yang lapang, pepohonan yang menyejukan, area rumah dunia yang terbuka seolah memberi kesan bahwa rumah dunia terbuka untuk semua orang, semua masyarakat dilingkungan Ciloang berbaur menjadi satu di rumah dunia. Sesampainya di tempat, kami melakukan daftar ulang ke tempat panitia, setelah itu kami menempati tempat duduk yang telah disediakan. Setelah pukul 09.00 WIB semua peserta memasuki ruang auditorium dan memulai acara pembukaan Kampung Budaya. Ada beberapa sambutan yang disampaikan, salah satunya yaitu dari ketua yayasan Pena Dunia, yaitu mas Gol A Gong. Setelah semua pihak memberikan sambutan, susunan acara yang terakhir yaitu hiburan-hiburan dari pihak rumah dunia. Ada pembacaan puisi, qosidah, dan yang paling menarik perhatian saya adalah pementasan teater anak. Dengan usia mereka yang masih kecil, mereka mampu membawakan pementasan teater dengan sangat baik dan menghibur. Lalu saya berfikir, bisakah teater Gates membuat sebuah komunitas teater anak dilingkungan komplek pendidikan (komdik) Rangkasbitung, agar anak-anak mempunyai kegiatan hal yang positif dan bermanfaat.

Setelah acara pembukaan selesai, kita diperkenankan untuk melaksanakan ishoma. Dari pertama kali saya dan teman-teman tiba dirumah dunia, kami berfikir dimana kami akan tidur nanti malam? Tidak mungkin kami tidur dirumah dunia dengan jumlah orang yang sangat banyak itu. Karena kami belum diberitahu akan beristirahat dimana nanti malam, maka kami selalu menggendong-gendong tas kami yang tidak ringan itu kemanapun kami pergi, termasuk ketika kita mencari mushola untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur. Ketika saya, Hae, Fida, Sinta dan Dwi berjalan bersama dilingkungan rumah dunia untuk mencari mushola, saya berfikir, begitu hebatnya rumah dunia bisa menyatu dan berbaur dengan rumah warga dan masyarakat sekitar di Ciloang, sehingga memberi kesan bahwa rumah dunia adalah rumah mereka. Warga-warganya yang sangat ramah membuat saya nyaman berada dilingkungan tersebut. Di Ciloang ada mushola khusus untuk perempuan, jadi perempuan dan laki-laki berbeda musholanya ketika akan melakukan ibadah sholat, hal itu membuat kami sangat nyaman dan dapat berbaur dengan teman-teman peserta perempuan yang lainya.

Selesai melaksanakan sholat kami bergegas kembali lagi ke rumah dunia untuk makan bersama. Hidangan makan siang pertama ini sangat menggugah selera, nasi padang. Dengan lahap kami bersama-sama menyantap makan siang di pendopo rumah dunia. Dan setelah semuanya selesai kami kembali ke auditorium sorosoan untuk melaksanakan diskusi yang pertama.

Jadwal diskusi yang pertama yang kami terima adalah membedah buku karya peserta. Awalnya saya cukup sedih, karena karya yang saya kirimkan tidak lolos untuk dimuat dibuku tersebut. Tapi saya tidak berkecil hati, lantas tidak melanjutkan keinginan saya unutk menulis. Tapi hal itu saya jadikan sebuah cambukan motivasi untuk diri saya sendiri, bahwa suatu hari karya saya akan dibaca semua orang (aamiin). Dalam acara bedah buku ini Gong Publishing menerbitkan 2 buah buku, yaitu buku kumpulan cerpen peserta yang berjudul Wafak Mbah Koyod, dan kumpulan puisi yang berjudul Air Tanah Debus. Mereka yang puisi atau cerpennya dimuat dalam buku tersebut tentu bangga, termasuk Dwi, peserta dari kelas menulis TBM Kedai Proses.

Setelah diskusi yang pertama selesai, kami diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah sholat ashar. Kami berbondong-bondong pergi ke mushola dan segera kembali lagi ke rumah dunia karena sudah tidak sabar untuk melaksanakan diskusi yang kedua. Karena apa? Karena pemateri yang akan membahas mengenai Sastra dan Film Islam tersebut adalah Habiburahman dan pemeran Azam dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Kebetulan saya dan teman-teman bisa duduk paling depan dan dapat melihat jelas wajah kang Habib dan Ka Kholidi. Saya juga sangat senang sekali bisa bertanya langsung kepada kang Habib tentang karya sastra Islam. Saya pun tertarik untuk bisa menulis karya sastra islam seperti kang Habib.

Setelah acara diskusi selesai, kang Habib dan Kholidi pun keluar ruangan,  sangat disayangkan kami peserta tidak bisa berfoto bersama-sama dengan orang-orang hebat tersebut. Tapi dengan semangat yang tinggi saya meminta tolong teman saya agar bisa berfoto disamping ‘Azam’, dan akhirnya sayapun bisa. Satu pesan dari ‘Azam’ yang sangat saya ingat ialah lakukan segala sesuatu niatnya karena ingin membanggakankedua orang tua, dan lakukanlah segala sesuatu berdasarkan ridho orang tua.

Kegiatan di hari pertama pun usai. Kami para peserta dibagi kedalam beberapa kelompok untuk beristirahat selama dua malam dirumah warga. Saya merasa seperti seorang penjelajah yang mengungsi dirumah-rumah warga sambil mencari ilmu. Awalnya saya dan teman-teman dari kelas menulis TBM Kedai Proses tidak ingin dipisah, tapi kami harus terpisah agar kami juga bisa berbaur dengan peserta yang lainya. Saya satu kelompok dengan Nesa dan Lyati, kami tidur dirumah warga yang jaraknya dekat dengan rumah dunia. Pemilik rumah tersebut sangat baik dan ramah, kamar yang kami tinggali untuk dua malam tersebut itu juga sangat nyaman. Setelah berbincang-bincang sedikit dengan teman-teman sekamar, saya langsung tertidur karena sudah merasa sangat lelah.

Di keesokan harinya berbagai jadwal diskusi menanti, dimulai dari materi sastra daerah, suara local dalam sastra Indonesia, peran penerbit dalam melestarikan budaya local, dan yang terakhir muskalisasi puisi. Saya sangat tertarik dengan materi suara local dalam sastra Indonesia dengan pemateri mba Oka dan mas Gol A Gong. Mba oka adalah seorang penulis perempuan yang selalu kuat dengan karakter perempuanya disetiap karya-karya yang beliau tulis. Ditambah dengan unsur-unsur budaya yang mba Oka tuliskan di setiap bukunya, salah satunya di dalam novel Tarian Bumi. Dalam kesempatan diskusi tersebut saya berkesempatan untuk bertanya kepada mba Oka dan mendapat hadiah sebuah buku karya mas Gol A Gong yang berjudul Air Mata Kopi.

Pada malam harinya, kami sangat menikmati diskusi tentang musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Ari dan Reda. Kami bisa mendapatkan ilmu dan kami pun dihibur dengan muskalisasi puisi nan merdu yang dibawakan oleh Ari dan Reda. Lagu yang sangat saya dan teman-teman sukai adalah lagu ‘Aku Ingin’. Dengan kata-kata yang sederhana Arireda bisa membuatnya menjadi sebuah lagu yang sangat menyentuh hati. Hari keduapun ditutup dengan lagu-lagu romantis dari Arireda yang mengantarkan rindu pada sang kekasih. Para pesertapun kembali ke kamarnya masing-masing dan menyiapkan diri untuk hari ketiga yang sepertinya akan lumayan melelahkan.

Di hari ketiga, kami bangun lebih pagi dari hari kemarin, karena kami harus kumpul dirumah dunia pada pukul 05.30 WIB untuk sarapan pagi dan persiapan pemberangkatan perjalanan ke Banten hilir, Benteng, dan Karangantu. Setelah semua peserta selesai sarapan, kami dibagi kedalam beberapa kelompok selama perjalanan menuju ketempat tujuan. Saya sangat sedih, karena hanya saya sendiri yang terpisah dari teman-teman saya masuk kekelompok yang lain.

Tapi hal itu tidak mengendorkan semangat saya untuk melaksanakan perjalanan dihari yang ketiga tersebut. Kami mengakhiri perjalan kampung budaya di Ecovillage Karangantu. Sebuah tempat yang sangat indah dengan nuansa bamboo dimana-mana, semilir angin yang menghilangkan penat setelah seharian berjalan, semua dibayar lunas. Saya sangat kagum dengan konsepan dari para panitia Kampung Budaya ini. Mereka dapat menyusun susunan acara yang sangat-menarik dengan penempatan-penempatan yang pas. Hal-hal positif tersebut akan saya jadikan pelajaran apabila saya dan kawan-kawan akan membuat sebuah event.

Kampung Budaya, sangat memberikan kesan yang luar biasa terhadap diri saya. Dalam tiga hari saya bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat hebat di bidangnya masing-masing, yang semakin memuncakan hasrat saya menjadi seorang penulis, yang semakin memotivasi diri saya harus menjadi makhluk yang lebih baik lagi dengan prestasi-prestasi yang bisa saya buat, yang semakin menambah ilmu pengetahuan saya dibandingkan dengan teman-teman saya yang tidak bergabung di dalam kegiatan ini.

Selama kegiatan itu berlangsung, saya mengingat TBM Kedai Proses tempat awal dimana saya melangkah. Mungkin kah TBM Kedai Proses bisa memiliki gedung pertunjukan sendiri yang sangat nyaman seperti rumah dunia? Mungkin kah warga sekitar yang tinggal di TBM Kedai Proses bisa berbaur dengan TBM Kedai Proses dan para relawanya? Mungkinkah TBM Kedai Proses bisa membuat event besar seperti Kampung Budaya dengan para pemateri yang luar biasa? Jawabanya sangat mungkin. Karena TMB Kedai Proses mempunyai satu keunggulan yaitu Teater Gates. Dan saya sangat ingin menjadi bagian dari proses kemungkinan tersebut. Kegiatan Kampung Budaya ini hanyalah sebagian kecil dari proses yang harus saya lalui dalam pencapaian jati diri sebagai seorang penulis. Karena saya tidak akan pernah merasa lelah untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

Penulis adalah: Dinda Eka Savitri(Mahasiswi STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Penulis juga adalah Wakil Sekretaris di Teater Gates, dan relawan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kedai Proses)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 14 =

Trending