Connect with us

PERSONA

Dipandang Sebelah Mata, Bisnis Cincau Tukimin Merambah Istana Negara

Published

on

Tukimin, penjual cincau yang sukses dengan omset ratusan juta.(Banten Hits/ Yogi Triandono)

Buat sebagian orang, kehidupan adalah seni mengelola keputusan-keputusan. Setidaknya, itulah yang bisa dipetik dari pengalaman hidup Tukimin (58), warga Kota Tangerang yang memilih berhenti jadi pegawai negeri sipil (PNS) untuk menggeluti bisnis daun cincau.

Bisnis Tukimin memang tergolong tak populer dan bahkan mungkin masih diragukan. Skeptisme orang-orang terhadap bisnis cincau berhasil dikelola Tukimin menjadi energi gerak yang hasil akhirnya justru membuat mata orang-orang jadi terbelalak. Tukimin kini sukses meraup keuntungan hingga Rp 150 juta per bulan dari bisnis cincaunya. Penghasilan yang super menggiurkan.

Dalam kesempatan berbincang dengan wartawan Banten Hits Yogi Triandono, Tukimin menuturkan, bisnis cincau yang digelutinya diilhami dari keponakannya di Kebumen. Dengan hanya menggunakan satu sepeda motor untuk berjualan cincau, sang keponakan mampu meraup keuntungan yang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu berbanding terbalik dengan status Tukimin yang PNS.

“Awalnya keponakan saya di Kebumen dia seorang pedagang cincau. Saya perhatikan di sana dengan satu motor saja (penghasilan) ekonominya nyaman bisa untuk (menutupi kebutuhan) anak sekolah. Jika petani atau PNS seperti saya dari pagi hingga sore bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, keponakan saya jam 1 siang sudah sampai rumah dengan membawa sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari situ saya mencari tahu asal-muasal cincau, dan setelah tahu banyak manfaatnya saya mulai mengembangkan,” kata Tukimin.

Pria lulusan S2 Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini memulai bisnis cincau pada 2009. Setelah usaha cincau yang diberi label Cincau Madu Lembah Luk Ulo mulai berkembang, Tukimin yang sudah yakin dengan bisnisnya memilih pensiun dini.

“Menjadi pedagang cincau dianggap sesuatu yang hina. Para pekerja lebih memilih bekerja di mal-mal atau perusahaan dibandingkan menjadi penjual cincau. Walau di tempat-tempat tersebut hanya sebagai cleaning service. Padahal saya berani menggaji sesuai UMR, tetapi tetap tidak mau,” ucapnya.

Tukimin juga menjelaskan betapa hebatnya khasiat daun cincau jika dikosumsi secara rutin. Daun cincau yang diolah dengan baik dan benar dapat mengobati berbagai macam penyakit, mulai dari demam hingga kanker sekalipun.

“Selain untuk mudah diolah dan menguntungkan, menurut penelitian cincau dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti masalah lambung, demam, hipertensi, disentri, tumor, bahkan hingga kangker sekalipun,” jelasnya.

Meski tergolong sudah sukses dengan bisnisnya, Tukimin tetap berkeinginan mengubah paradigma sebagian masyarakat soal bisnis daun cincau. Untuk meyakinkannya, Tukimin mengubah target pasar yang lebih elegan.

“Selain menjajakan di jalan, saya juga ambil pasar sebagai kebutuhan menu perhotelan, kesehatan, kebutuhan lembaga-lembaga diklat resepsi catering dan mal-mal. Kebetulan menu cincau saya sudah dua kali memenuhi menu Istana Negara pada suatu acara,” tuturnya.

Selain mengolah cincau, Tukimin juga memililki berhektar-hektar perkebunan cincau. Dia juga mengajak masyarakat untuk turut bertani pohon cincau. Selain peluang bisnisnya masih terbuka lebar, bertani cincau tidak membutuhkan perawatan yang besar.

“Saya memiliki beberapa hektar perkebunan cincau yang dibagi ke beberapa wilayah Tangerang dan Bogor. Saya mengajak masyarakat untuk bermitra karena potensinya cukup besar dan masih jarang sekali orang yang bertani di bidang ini,” serunya.

Nah, bagi Anda yang penasaran dengan sosok Tukimin atau ingin bermitra juga sekadar order cincau, Anda bisa datang ke Jalan Purwakarta, Blok E4/3, Perumahan Total Persada, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang.(Darussalam Jagad Syahdana)

Facebook

Trending