Connect with us

ESSAI

Berbagi Kerelaan

Published

on

Di sebuah sore yang mendung, saya memutuskan untuk makan di sebuah rumah makan yang selalu ramai pengunjung. Seperti yang diperkirakan, tempat parkir di tempat jajanan yang digemari akan selalu penuh-sesak kendaraan.

Seperti sore itu, saya yang malas untuk parkir berdesakan di tempat itu kemudian memilih memarkir sepeda motor saya di tempat yang paling gampang untuk keluar: persis di pinggir jalan.

Petugas parkir yang sibuk menata posisi sepeda motor di parkiran, menyarankan supaya saya memarkirkan sepeda motor lebih masuk ke halaman rumah makan, tepatnya di bawah atap warung makan tersebut. Namun, saya menolak saran petugas parkir tersebut dengan alasan saya akan kesulitan ketika keluar nanti.

Setelah masuk dan memesan makanan, saya dihadapkan sama persoalan berikutnya: menunggu. Ya, penjual makanan yang ramai pengunjung akan selalu kerepotan melayani pesanan. Beruntung, keinginan saya untuk memuaskan selera makan di tempat itu bisa meredam bosan akibat menunggu, yang sebenarnya tidak terlalu lama juga.

Tak lama berselang setelah makanan tiba, dari balik meja makan, saya melihat di luar  hujan turun deras. Saya hanya bisa pasrah, ketika sadar sepeda motor saya akan merepotkan saya jika kehujanan. Kulit jok yang tak terbuat dari bahan penahan air, akan membuat air dengan leluasa masuk ke dalam busa jok. Itu artinya celana saya akan basah saat menaiki motor saya nanti.

BACA :  Manusia yang Kalahkan Serigala

Di balik kepasrahan itu, saya teringat saran dari petugas parkir saat mau masuk tadi. Andai saja saya mau sedikit saja menerima saran dari petugas parkir itu, mungkin saat ini saya tak perlu risau dengan kondisi sepeda motor saya itu. Saya bisa tetap tenang menikmati selera makanan favorit saya.

Alih-alih berkonsentrasi menikmati hidangan, sore hari yang basah itu menjadi penuh perenungan. Kepala saya mendadak disesaki banyak tanya.

Tiba-tiba saja saya menghubungkan pengalaman saya bersama petugas parkir dengan peristiwa-peristiwa kriminalitas, intoleransi, dan penyebaran kebencian di antara sesama.

Bukankah hal yang sangat mungkin juga, pengalaman saya dengan petugas parkir bisa memicu anarkisme jika saya dan petugas parkir itu sama-sama ngotot?

BACA :  Mudik adalah Kilas Balik

Dari pengalaman saya sore itu, saya mendapatkan jawaban untuk peristiwa-peristiwa yang saya sebut. Perseteruan yang berujung pada perbuatan kriminial, intoleransi atau sikap benci yang semakin memperuncing permusuhan, semuanya terjadi karena setiap orang memaksakan kehendak seturut keinginan sendiri. Mereka enggan sedikit saja membukakan ruang untuk menerima pendapat dari orang lain.

Peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi dalam setiap interaksi antarmanusia itu,  takkan pernah terjadi jika saja di antara sesama tumbuh keinginan untuk sedikit saja berbagi kerelaan. Kerelaan untuk menerima keinginan orang lain yang juga berkeinginan sama seperti kita.

Pada titik itu, ajaran kemanusian dari Karen Armstrong lewat “Compassion” menjadi niscaya. “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan,” tulis Armstrong dalam bukunya itu.

Hujan mulai reda, suara jatuhannya yang terdengar ritmik semakin memanjangkan perenungan saya. Dan dalam kepala saya masih berkutat beragam peristiwa-peristiwa gaduh yang terjadi di negeri ini.

Mendadak, dari kegaduhan-kegaduhan yang mengerikan itu, saya teringat kata “patut”. Saya berpikir lagi, jika saja semua orang masih menimbang setiap lakunya dengan patut atau tidak patut, semuanya akan berjalan “on the track”, seperti kereta yang tak pernah ingkar terhadap rel.

BACA :  Menunggu Jalan Pedang Para Elit

Orang tak ada lagi yang coba-coba untuk korupsi karena mereka sadar perbuatan itu tak pantas. Karena selain membuat orang lain sengsara, perbuatan kotor itu juga akan membuat malu diri dan keluarga besarnya nanti.

Saat ini, mungkin sudah banyak orang yang abai dengan kepatutan. Sehingga setiap individu dengan pongahnya mengabaikan kehadiran “liyan”, kemudian dengan lantang mengatakan, “Gue gue, elu elu. Yang penting gue. Masa bodoh sama elu.”

Hujan reda, makanan di atas meja pun habis tak tersisa. Sebelum beranjak pergi dari tempat itu, saya kembali sadar kalau saya harus bersiap menanggung risiko celana yang akan segera basah karena menaiki jok sepeda motor yang penuh air. Belum sempat saya memikirkan cara untuk menghindari supaya celana saya tak basah, sebuah pertanyaan menyeruak, “Masih pentingkah di zaman ini kita semua menimbang setiap laku kita dengan kepatutan atau kepantasan?”…..




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

    Advertisement
    Click to comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    3 × 5 =

    Terpopuler