Connect with us

BABAD BANTEN

Mengenal Bentuk Stempel di Zaman Kesultanan Banten

Published

on

Contoh stempel pada zaman kesultanan Banten (pojok kanan atas) dalam surat kepada raja Inggris. (Gambar: PRO SP/102/4/50. Titik Pudjiastuti)

Sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara, pada rentang abad 17 – 19, kesultanan Banten diketahui aktif melakukan surat-menyurat dengan mancanegara, terutama Inggris dan Denmark.

Surat-surat kesultanan Banten tersebut, saat ini tersebar di lima lembaga seperti Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jakarta, The National Archives London, British Library (BL) London, Royal Library (RL) Copenhagen, Nationale Archive (NA) Denhaag dan Universiteits-Bibliotheek (UB) Leiden.

Sebagian isi surat-surat yang tersebar di lembaga-lembaga itu sudah pernah diulas rubrik Babad Banten sebelumnya. Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits.com akan mengulas perihal bentuk stempel yang digunakan dalam surat-menyurat kesultanan Banten. Seluruh tulisan bersumber pada buku “Perang, Dagang, Persahabatan; Surat-surat Sultan Banten” karangan Titik pudjiastuti.

BACA :  Serunya Mempelajari Sejarah Evolusi Bumi di Wahana Evolution Scientia Square Park

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Titik Pudjiastuti, arsip surat-surat kesultanan Banten semuanya berjumlah 54 pucuk surat. Seluruh surat itu dikelompokkan dalam surat keluar, yakni surat yang ditulis sultan dan bangsawan Banten kepada raja-raja mancanegara; serta surat masuk, yakni surat yang diterima kesultanan Banten dari raja-raja mancanegara.

Dalam surat yang ditujukan kepada Raja Inggris Charles 1 pada tahun 1629, Raja Banten saat itu yang mempunyai gelar Pangeran Ratu menyampaikan kabar perihal tentara Belanda yang berada di Jayakarta telah dikepung tentara Mataram.

Raja Banten juga meminta bantuan kepada raja Inggris untuk mengirimkan bedil dan mesiu ke Banten.

Melalui surat yang ditujukan ke raja Inggris ini, diketahui bentuk stempel yang digunakan raja Banten saat itu berbentuk lingkaran karbon bergaris tengah 5,5 cm dengan warna hitam. Ukuran yang sangat besar untuk sebuah stempel.

BACA :  Sejak Dulu Tangerang Sudah Jakarta Sentris

Stempel ini terletak di margin atas kanan teks. Di dalamnya terdapat tulisan dengan huruf Jawa dan bahasa Jawa. Berikut tulisan tersebut:

“Ngalamat Pangeran Ratu ingkang pandara ngadi Surosowan kang putra Pangeran Sedangrana kang putu Pangeran Pasareyan kang buyut Pangeran ing Sabakingking ing Surosowan.” (Stempel Pangeran Ratu yang berkuasa di Surosowan, putra Pangeran Sedangrana, cucu Pangeran Pasareyan dan cicit Pangeran Sabakingking di Surosowan)

Berdasarkan letak stempelnya, dapat dipastikan jika pengirim surat tersebut adalah seorang raja.

Dalam arsip diketahui pula, selain stempel kerajaan Banten, ada dua stempel lainnya di surat itu. Kedua stempel itu posisinya berada di bawah stempel kerajaan Banten dan ukurannya tidak sebesar stempel kerajaan Banten.

BACA :  Indahnya Pantai Karang Bokor, Spot Pancing yang Penuh Tantangan

Dua stempel itu merupakan stempel kerajaan Inggris, berbentuk oval dan terdapat tulisan latin dalam bahasa Inggris: Her Majestyis state paper office, serta stempel tempat penyimpanan arsip surat bertuliskan: Public Record Office.



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler