Connect with us

Pilpres

Keturunan Pendiri NU Minta Ma’ruf Amin Tak Bawa NU untuk Kepentingan Pilpres

Published

on

Ma'ruf Amin Hadiri Pelantikan PWNU Banten

Hadir di pelantikan PWNU Banten, KH. Ma’ruf Amin meminta kepada warga NU untuk menjaga agama dan negara. (Banten Hits/Mahyadi)

Jatim – Calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang juga Rais Aam NU dan Ketua MUI nonaktif, diminta tidak membawa NU untuk kepentingan Pilpres 2019. Sejak NU berdiri, tidak ada sejarahnya Rais Aam NU yang tergoda dalam kancah politik. Itu karena memang NU tegas melarang seorang Rais Aam mencalonkan diri maupun dicalonkan dalam jabatan politik.

Dikutip dari detik.com, pernyataan tersebut disampaikan Choirul Anam, juru bicara pertemuan keturunan pendiri NU bersama ulama Jatim, Jateng dan Jakarta di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu, 24 Oktober 2018. Video hasil pertemuan ini juga beredar di media sosial dan aplikasi berbagi video Youtube.

“Mohon maaf, jangan sekali-kali membawa jam’iyah NU sebagai lembaga maupun insitusi. Karena itu kemauan pribadi Kiai Ma’ruf,” kata cucu Rais Akbar PBNU KH Ahmad Dahlan ini kepada wartawan usai halaqah.

BACA JUGA: Sejumlah Ormas di Pandeglang Deklarasi Dukung Jokowi-Ma’ruf di Ponpes Al Muawanah Menes

Dari keturunan pendiri NU di antaranya Pengasuh PP Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah, KH Abdul Hasib Wabab dari PP Tambakberas, KH Agus Sholahul Am Wahib Wahab, serta KH Najih Maimun Zubair dari Rembang, Jawa Tengah. Diskusi 36 ulama itu digelar secara tertutup. Setelah sekitar 5 jam, pertemuan ini menghasilkan 3 keputusan.

“Dzurriyah (keturunan pendiri NU) tetap meminta NU berdiri tegak di atas khittah 1926, seperti yang diputuskan dalam Muktamar ke 26 di Semarang tahun 1979, dipertegas lagi di Muktamar ke 27 di Situbondo tahun 1984,” ungkap Cak Anam.

Dengan kembali ke khittah 1926, lanjut Anam, NU tak akan mencampuri maupun terlibat dalam politik praktis, politik kepartaian maupun perebutan kekuasaan.

“Yang ke tiga, warga NU bebas menentukan pilihan, tapi tetap berpegang teguh pada sembilan pedoman politik warga NU yang dikeluarkan di Muktamar ke 28 di Krapyak tahun 1989,” terangnya.

Anam menjelaskan, sejak NU berdiri, tak seorang pun Rais Aam yang tergoda terjun dalam kancah politik. Itu karena memang NU tegas melarang seorang Rais Aam mencalonkan diri maupun dicalonkan dalam jabatan politik.

“Nah Kiai Ma’ruf Amin (Cawapres No 1) ini bukan tergoda ya, berminat menjadi cawapres, tapi itu bukan kemauan NU. Karena NU melarang. Itu kemauan pribadi yang harus kita hormati dan kita hargai,” ungkapnya.

BACA JUGA: Caleg PDIP: Kades Kufur Nikmat Kalau Gak Dukung Jokowi 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite Khittah NU 1926 KH Agus Sholahul Am Wahib Wahab menampik jika halaqah 36 ulama ini untuk menggembosi pencalonan Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

“Kami tak bermaksud negitu. Kami ingin meluruskan bahwa NU kembali ke khittah 1926,” tandasnya.(Rus)

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending