Connect with us

METROPOLITAN

Satu Jam Sebelum Tsunami Warga Sambolo Pandeglang Dengar Dua Kali Suara Mengerikan, Ini Sumbernya

Published

on

Satu Jam Sebelum Tsunami Warga Sambolo Pandeglang Dengar Dua Kali Suara Mengerikan, Ini Sumbernya

Ardi, warga Sambolo, Kabupaten Pandeglang, menunjukkan reruntuham tempat usahanya. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Data BNPB hingga Senin pagi, 24 Desember 2018 menyebutkan, 239 orang meninggal dunia, sementara 785 lainnya mengalami luka-luka akibat tsunami di Pandeglang dan Serang.

Selain merenggut korban jiwa, tsunami juga merusak 611 unit rumah, 69 hotel dan vila, 60 warung makan dan toko, 350 perahu/kapal, dan 71 unit kendaraan.

Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah yang paling mengalami kerusakan akibat tsunami Selat Sunda, Sabtu malam, 22 Desember 2018. Tsunami di Pandeglang juga paling banyak menelan korban meninggal dunia.

Wartawan BantenHits.com Mahyadi melaporkan, puluhan mobil yang kondisinya rusak parah terlempar hingga mencapai 20 meter. Beberapa pakaian pengunjung hotel yang berserakan di tepi jalan.

BACA :  Arena MTQ XIII Banten Sepi Penonton

Ratusan relawan dari Banten maupun dari luar Banten mulai berdatangan membantu evakuasi korban meninggal yang masih terdapat di dalam villa maupun rumah warga yang tak jauh dari bibir pantai.

Ardi (42), warga Kampung Sambolo, Desa Suka Rame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang menceritakan detik-detik dirinya melakukan evakuasi di malam usai surutnya air laut yang meluap.

“Saya pertama kali dapat kabar dari ade saya. Waktu itu saya lagi dalam rumah. Rumah saya lumayan tinggi dari posisi laut,” ujar Ardi kepada BantenHits.com saat melakukan evakuasi, Minggu, 23 Desember 2018.

Ia mengungkapkan bahwa saat kejadian jam 21.30 WIB, banyak warga yang berlarian menuju puncak gunung menyelamatkan diri.

BACA :  Polisi Dalami Motif Pelaku Mutilasi Wanita Hamil di Cikupa

“Jadi waktu malam itu, kita gak bisa nolong, karena airnya udah enam meter dadakan,” ucapnya.

Ledakan Gunung Anak Krakatau

Menurut Ardi, satu jam sebelum air naik ada bunyi keras dua kali dari Gunung Anak Krakatau.

“Bunyi dua kali Gunung Anak Krakatau. Setelah bunyi itu tiba-tiba senyap selama satu jam tidak ada angin, dan tiba-tiba air langsung masuk,” paparnya.

Di Kampung Sambolo, Desa Sukarame, Kabupaten Pandeglang ada ratusan orang wisatawan yang mengalami luka-luka dan lebih dari puluhan orang meninggal akibat tertimpa reruntuhan dan tengelam.

BMKG mengatakan munculnya gelombang tsunami akibat longsoran kawah Gunung Anak Krakatau seluas 64 hektare. BMKG juga menyebut tsunami terjadi akibat gelombang tinggi.

BACA :  Rp5 Miliar Bantuan Keuangan Provinsi Banten Difokuskan Tangani Covid-19 di Lebak

“Dalam rilis sudah dituliskan bahwa bukti yang mendukung telah terjadi runtuhan lereng Gunung Anak Krakatau antara lain adalah dari citra satelit yang menunjukkan luas 64 hektare, terutama pada arah barat daya. Terus sehari sebelumnya ada cuaca ekstrem gelombang tinggi sehingga memperparah gelombang tersebut,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers di kantornya, Kemayoran, Jakarta Pusat, seperti dilansir detik.com, Senin, 24 Desember 2018.

BantenHits.com memperoleh video pengakuan tiga nelayan Desa Kenali, yang saat kejadian tsunami tengah berada di kaki Gunung Anak Krakatau.

Nelayan Desa Kenali ini berangkat melaut pada Jumat, 21 Desember 2018. Mereka kemudian bermalam di kaki Gunung Anak Krakatau. Saat tengah memasak, rombongan nelayan ini tiba-tiba dihempaskan gelombang setinggi 12 meter. (Rus)



Terpopuler