Connect with us

METROPOLITAN

Tidak Ada Crisis Center, Data Korban Tsunami Asal Tangsel Simpang Siur

Published

on

Tidak Ada Crissis Center, Data Korban Tsunami Asal Tangsel Simpang Siur

Relawan melakukan evakuasi terhadap korban tsunami yang tertimbun reruntuhan. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Tangsel – Informasi mengenai korban tsunami di Pandeglang dan Serang simpang siur. Hal tersebut dirasakan sejumlah keluarga korban dan relawan yang berasal dari Kota Tangerang Selatan.

Crisis center menjadi kebutuhan yang mendesak di lokasi tsunami saat ini. Arus informasi terkait data korban yang lengkap dan valid sangat membantu keluarga korban untuk mengambil tindakan yang tepat.

Kesalahan informasi mengenai tidak akuratnya data korban dirasakan langsung Sekda Tangsel Muhammad. Saat itu Muhammad, mendapatkan data korban tsunami yang merupakan warga Tangsel berjumlah 17 orang. Jawaban tersebut seperti ngawur. Pasalnya, data di Kelurahan Serua, Ciputat saja sudah ada 16 orang jadi korban.

BACA :  Corona di Kecamatan Kibin Serang Diduga Telah Menyebar, Hasil Rapid Test Keluarga Pasien Sama-sama Positif

Kesulitan mencari informasi juga dialami Ustaz Faisal Abror yang kehilangan isteri dan dua anaknya. Ustaz Abror harus sibuk mencari informasi untuk mengetahui keberadaan anaknya yang diterjang ombak besar itu. Beruntung media televisi menyoroti anak Ustaz Abror, sehingga pencarian jadi lebih mudah.

“Saya cari informasi, saya kabari keluarga semua, akhirnya ketemu anak saya Alhamdulillah selamat,” ujar Ustaz Abror kepada awak media.

Rombongan Global Islamic School Belum Diketahui

Berdasarkan informasi yang dihimpun, masih ada beberapa korban tsunami di wilayah kelurahan lain di Ciputat, termasuk rombongan guru dan karyawan Global Islamic School yang berjumlah 30 orang belum diketahui keberadaannya.

Koordinator Lapangan Posko Siaga Bencana Linmas Satpol PP Tangsel Badawi, yang dihubungi BantenHits.com, Selasa 25 Desember 2018 mengatakan, saat ini pihaknya justru disibukkan dengan pertanyaan terkait keberadaan korban.

BACA :  Emak-emak di Warungbanten Kompak Turun ke Jalan Perbaiki Jalan Rusak

Badawi menyayangkan tidak adanya crisis center yang bisa menjadi pusat informasi. Selain itu, crisis center juga bisa diisi petugas yang mencari data keberadaan korban warga Tangsel.

“Harusnya di Tangsel itu dikirimnya jangan evakuasi semua. Bikin crisis center di sini, mana masyarakat yang di rumah sakit mana masyarakatnya yang belum ketemu,” ujar Badawi.

Badawi menjelaskan, saat ini banyak korban tsunami yang ditangani di puskesmas ataupun rumah sakit di berbagai daerah, seperti Serang, Pandeglang, hingga Lebak. Korban tersebut tidak terdata secara komprehensif, sehingga jika ada keluarga yang mencari, ia harus mencari informasi di banyak tempat.

“Harusnya ada yang mikirin pendataan. Banyak loh warga Tangsel yang meninggal. Banyak yang masih di rumah sakit, banyak yang pada bingung lah di sini tuh. Banyak yang nyari keluarganya belum ketemu, dianya juga masih pada luka,” terangnya.

BACA :  Warga Cium Bau Bangkai di Rumah Juki

“Kami butuh crisis center buat bantu korban Tsunami yang berasal dari Tangsel,” tukas Badawi. (Rus)



Terpopuler