Connect with us

METROPOLITAN

Banjir Bandang Terjang Pesantren saat Jam Buka Puasa, Kiai di Lebak Ungkap Cara Santri Selamatkan Diri

Published

on

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya ketika memberikan logistik secara simbolis kepada salah satu warga korban banjir bandang. (Fariz Abdullah/BantenHits).

Lebak – Banjir bandang menghantam empat kecamatan di Kabupaten Lebak,  yakni Sajira, Muncang, Leuwidamar dan Cimarga, Rabu sore, 22 Mei 2019.

Wartawan BantenHits.com Fariz Abdullah melaporkan, ratusan rumah rusak dan hanyut. Banjir juga merusak fasilitas warga seperti jembatan dan sarana pendidikan.

Salah satu sarana pendidikan yang terdampak banjir adalah Pondok pesantren Raudhatul Muhajirin di Kampung Kalawijo, Desa Sukamarga, Kabupaten Lebak.

Banjir bandang ini datang menerjang saat santri tengah berbuka puasa di kobongnya masing-masing.

“Kejadian pukul 18.10, santri putra dan putri sedang buka puasa di kobong (pondok), di asramanya masing-masing, air datang sekali tapi sangat besar, menggulung seperti tsunami,” kata Pimpinan Ponpes Raudhatul Muhajirin Zaenal Asikin seperti dilansir kompas.com.

Menurut Zainal, tidak ada tanda-tanda air akan datang begitu besar dan sangat cepat, kecuali hujan yang terus mengguyur sejak pukul 16.00 WIB. Karena itu, tidak ada persiapan ketika aliran air meluap.

Saat banjir bandang menerjang, kata Zainal, para santri langsung keluar menyelamatkan diri ke berbagai tempat yang lebih tinggi, termasuk ke mushala pesantren.

Di musala ini juga, sebagian para santri dan pengurus pesantren menyaksikan bangunan asrama roboh dan hanyut perlahan.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, semua santri selamat,” kata Zaenal.

Hanya saja, tidak banyak barang-barang pribadi milik para santri dan juga barang milik pondok pesantren yang sempat diselamatkan.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya langsung meninjau lokasi banjir bandang di Kampung Cibeurih, desa Margaluyu, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Kamis, 23 Mei 2019.

Dalam kunjungannya, Iti mengaku aneh dengan adanya banjir bandang yang baru kali pertama ini terjadi sejak 53 tahun silam. Bupati nyentrik ini mencurigai ada hal yang mengganjal pada penyebab terjadinya banjir di mana salah satunya akibat hutan yang sudah mulai gundul di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending