Connect with us

Rubrik Unggulan

Mengenang Pesona Wisata Pantai Carita Setahun Pasca-Tsunami; Dulu Antrean Wisatawan Mengular Panjang Kini Lengang

Published

on

Suasana di kawasan wisata Pantai Carita. (BantenHits.com/ Engkos

Jalur menuju Pantai Carita, Pandeglang, Banten lengang. Tidak ada tanda-tanda kemacetan. Padahal Sabtu, 21 Desember 2019 merupakan hari pertama libur nasional Natal dan tahun baru 2019.

Saking lengangnya, lalu-lalang kendaraan roda dua maupun empat masih bisa dihitung manual dengan pantauan mata telanjang.

Kondisi wisata Carita, pasca diterjang Tsunami Selat Sunda tahun lalu masih terpuruk dan lambat untuk bangkit. Hal itu dilihat, menjelang libur Natal dan tahun baru kali ini. Villa dan hotel di Carita terpantau masih sepi pengunjung.

Kesulitan dirasakan salah satunya oleh Teja Heriyana, tokoh pariwisata di Kecamatan Carita. Teja terpaksa menutup rapat-rapat pintu Cottage dan Restaurant bernama Carita Baka Baka miliknya pasca tsunami.

Satu tahun sudah tempat itu tidak diisi, semak dan dedaunan tampak terlihat di beberapa cottage membuat tempat yang pernah diburu wisatawan saat berlibur itu, terlihat kotor dan kumuh.

Teja Heriyana, pengusaha di Pantai Carita. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Teja yang tidak pernah absen berada di tempat itu, sekarang banyak menghabiskan waktunya di rumah. Di rumah yang terletak di Pasar Carita, Kecamatan Carita, dia bercerita sulitnya untuk membangkitkan kembali wisata Carita pasca di terjang Tsunami tahun lalu.

BACA :  Eksplor Potensi Wisata di Kota Tangerang, Dinas Pariwisata Gelar Fam Trip bersama Vloggers dan Bloggers

Padahal kata Teja, para pemilik villa dan hotel sudah mati-matian agar wisata Carita bangkit, agar investasi yang mereka tanam di Carita bisa tumbuh, seperti biasa lagi.

“(Carita) dari tahun ke tahun selalu menurun, terakhir dampak (tsunami). Tahun ini untuk natal dan tahun baru kondisi tamu nyaris tidak ada,” kata Teja saat berbincang dengan BantenHits.com, Sabtu, 21 Desember 2019.

Menurut Teja, wisatawan yang berkunjung ke Carita hanya sebagian yang menginap. Sebagiannya lagi, cuma menghabiskan waktu dari pagi sampai sore hari. Hal itu, yang membuat sejumlah villa dan hotel tampak sepi.

Alasan wisatawan tidak menginap, lanjut Teja, karena masih ada kekhawatiran soal tsunami. Karena tsunami waktu itu, terjadi bulan Desember, saat libur natal dan tahun baru.

BACA :  Pemkab Lebak Bakal Bikin Megah Seba Baduy

“Mereka wisatawan one day (satu hari) aja, enggak sampai menginap karena masih khawatir, kejadiannya kan pada saat bulan Desember, jadi orang trauma,” jelasnya.

Pedagang Kecil Hilang Penghasilan

Jalanan menuju Kawasan wisata Pantai Carita tampak lengang. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Meski pihak villa dan hotel mati-matian untuk bangkit dan mengawal investasi mereka. Namun wisata Carita tetap dirasakan sangat sulit untuk bangkit ditambah lagi, ada ancaman megathrust yang harus diwaspadai.

Teja mengibaratkan, saat ini wisata Carita seperti manusia yang sedang sakit dan mengalami koma. Sehingga butuh waktu lama, untuk kembali menyembuhkannya.

“Kalau ibarat orang sakit itu koma, udah koma, cuma keajaiban yang bisa membangkitan. Kita enggak tau sampai kapan (wisata) bisa normal lagi, apalagi ada ancaman megathrust, itu juga kan jadi kendala yang harus di waspadai juga,” jelasnya.

BACA :  Metamorfosis Cilok; Dari Hanya Dicolok Bambu sampai Kombinasi Varian Menu

Dampak terpuruknya wisata di Carita akibat tsunami selat sunda itu juga dirasakan oleh Sani (50), pedagang otak-otak yang pada hari itu duduk di pondasi cottage Mutiara Carita.

Sani sudah beberapa jam duduk di sana, namun tak ada satu pun pembeli yang membeli makanan khas berbahan baku ikan itu. Padahal, dia sudah menawarkannya kepada semua orang yang melewati tempat duduknya.

Sani mengaku kerap berpindah-pindah tempat mencari lokasi yang ramai di kunjungi oleh wisatawan. Selama 20 tahun menjual otak-otak, baru kali ini dia merasakan sulitnya menjajakan jajanannya. Otak-otak yang dia jual seharga Rp2 ribu perbungkus.

“Sudah lama jualan, enggak tentu tempatnya suka pindah-pindah nyari yang ramai. Saya sudah 20 tahun berjualan, cuma pasca tsunami saya enggak jualan, baru-baru ini mulai jualan lagi,” ujarnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

    Terpopuler