Connect with us

Berita Terbaru

Setuju Indonesia Go Nuclear, Ini Paparan Wakil Rakyat Asal Banten Penyandang Doktor Nuklir Lulusan Tokyo Institute of Technology

Published

on

Foto ilustrasi: Para peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional atau BATAN saat kembangkan teknologi nuklir untuk kesehatan. (Dok.BantenHits.com)

Jakarta – Wakil rakyat asal Banten, anggota DPR RI, Mulyanto setuju energi nuklir masuk dalam kelompok energi baru dalam RUU Energi Baru Terbarukan (EBT). Menurutnya, ke depan sangat penting bagi Indonesia memiliki kemampuan membangkitkan listrik dari sumber energi nuklir ini.

Ia menyebutkan ide ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan rencana Australia bersama Ingggris dan AS membentuk pakta pertahanan bersama dan membangun kapal selam nuklir.

“Rencana go nuclear Indonesia serta RUU EBT ini sama sekali bukan untuk merespons rencana Australia untuk membangun kapal selam nuklir tersebut. Ini murni aspirasi dari beberapa daerah dan sudah lama didiskusikan termasuk uji kelayakannya. Selain itu, pembangunan PLTN ini murni untuk tujuan damai, tidak untuk pertahanan keamanan,” kata Mulyanto melalui keterangan tertulis kepada BantenHits.com.Politisi penyandang gelar Doktor nuklir lulusan Tokyo Institute of Technology ini mengatakan, selain karena stabilitasnya yang tinggi, nuklir cocok untuk beban dasar (base load), pembangkit listrik dari sumber nuklir (PLTN) ini diminati beberapa daerah dan diperkirakan sumber bahan bakarnya tersedia.

BACA :  Curi Motor, Pemuda Asal Pandeglang Babak Belur Dihajar Warga

Pembangunan pembangkit nuklir sangat tepat bila dikombinasikan dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang bersifat intermitten. Sehingga bisa saling melengkapi.

Menurutnya, sampai hari ini Indonesia sudah berpengalaman dalam mengoperasikan 3 reaktor nuklir, yakni Reaktor GA Siwabesy 30 MW (panas) di Puspiptek Serpong, Banten; Reaktor Bandung 1 MW (panas) di Bandung; dan Reaktor Kartini 250 kW (panas) di Yogyakarta.

SDM operatornya dididik dan dilatih baik melalui kerjasama dengan UI, ITB dan UGM juga dalam Sekolah Tinggi Teknik Nuklir (STTN), yang sebelumnya dikelola oleh BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional).

Dengan SDM dan pengalaman operasional reaktor nuklir yang puluhan tahun, menjadi modal penting bagi Indonesia untuk go nuclear. Dan langkah ini akan semakin mengokohkan kemampuan dan penguasaan di bidang energi nuklir oleh putra-putri Indonesia.

BACA :  Dua Pekan Sumber Air di Ibu Kota Banten Kering, Warga di Dua Kecamatan Kesulitan Air Bersih

“Jadi memang program nuklir Indonesia ini tidak ada hubungannya dengan rencana pembangunan kapal selam nuklir oleh Australia tersebut,” tandas mantan peneliti di BATAN ini.

Untuk diketahui, Australia mengumumkan rencananya untuk membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah kemitraan keamanan Indo-Pasifik dengan Amerika dan Inggris.

Australia sebelumnya akan menggunakan kapal selam diesel Prancis. Kedua negara telah menandatangani kontrak 14 kapal selam dengan nilai total $40 miliar.

Namun akhirnya membatalkan kesepakatan tersebut dan memilih bekerjasama dengan Amerika. Pembangunan direncanakan dilakukan di Adelaide, wilayah pesisir selatan Australia.

Selain Perancis, Cina, Korea Utara dan Malaysia bereaksi negatif dengan rencana tersebut. Indonesia sendiri bersikap hati-hati, karena belum tahu pasti tujuan Australia tersebut.

BACA :  Banyak Motor di Kontrakannya, Dua Pemuda di Kabupaten Tangerang Dicokok Polisi

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler